Sunday, February 22, 2026
spot_img
HomeEkonomikaSaat Modal Hilang, Harapan Jangan Ikut Tenggelam

Saat Modal Hilang, Harapan Jangan Ikut Tenggelam

Dosen Sosiologi Universitas Airlangga, Rafi Aufa Mawardi dalam kegiatan penguatan kapasitas pelaku usaha mikro di Aceh, Sabtu (21/2/2026). (foto: Khefti)

ACEH, CAKRAWARTA.com – Bagi pelaku usaha mikro, bencana tidak hanya merusak bangunan atau menghilangkan barang dagangan. Lebih dari itu, bencana kerap meruntuhkan rasa percaya diri dan harapan yang telah dibangun bertahun-tahun. Ketika modal hilang, tidak sedikit pelaku usaha merasa kehilangan arah untuk memulai kembali.

Namun, menurut Dosen Sosiologi Universitas Airlangga, Rafi Aufa Mawardi, harapan tidak boleh ikut tenggelam bersama kerugian yang terjadi. Kebangkitan usaha, kata dia, justru berawal dari cara pandang baru terhadap keterbatasan.

“Bencana memang dapat merusak tempat usaha, tetapi jangan sampai merusak harapan. Selama masih ada kemauan untuk belajar dan mencoba kembali, selalu ada peluang untuk bangkit,” ujar Rafi dalam kegiatan penguatan kapasitas pelaku usaha mikro di Aceh, Sabtu (21/2/2026).

Rafi menekankan pentingnya menumbuhkan growth mindset, yakni pola pikir yang meyakini bahwa kemampuan dan keberhasilan dapat terus dikembangkan melalui proses belajar, latihan, dan pengalaman. Pola pikir ini menjadi fondasi penting bagi pelaku usaha untuk melihat masa depan secara lebih terbuka, bahkan setelah mengalami kerugian besar.

Menurut dia, banyak pelaku usaha terjebak dalam anggapan bahwa kehilangan modal berarti akhir dari perjalanan usaha. Padahal, dalam perspektif growth mindset, kehilangan justru dapat menjadi titik awal untuk membangun kembali dengan cara yang berbeda.

“Growth mindset bukan sekadar optimisme, tetapi optimisme yang disertai tindakan. Ketika seseorang percaya bahwa dirinya masih bisa berkembang, ia akan menemukan cara untuk melangkah kembali, meski dari titik paling bawah,” katanya.

Ia melihat potensi kebangkitan tetap ada pada setiap pelaku usaha, terutama ketika mereka mampu mengubah fokus dari apa yang hilang menjadi apa yang masih dimiliki. Keterampilan, pengalaman, relasi dengan pelanggan, serta dukungan keluarga merupakan modal yang tidak kalah penting dibandingkan modal finansial.

Perubahan cara pandang ini, lanjut Rafi, membantu pelaku usaha untuk berani memulai kembali, meskipun dalam skala kecil. Menjual kembali produk dalam jumlah terbatas atau membuka usaha secara bertahap merupakan langkah awal yang penting dalam proses pemulihan.

“Memulai dari kecil bukan berarti mundur. Itu justru bagian dari proses untuk tumbuh kembali,” ujarnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya membangun lingkungan yang saling mendukung di antara pelaku usaha. Solidaritas, seperti berbagi informasi, pelanggan, atau bahan baku, dapat mempercepat proses kebangkitan ekonomi secara kolektif.

Meski demikian, proses bangkit bukan tanpa tantangan. Banyak pelaku usaha masih dihantui trauma, rasa kehilangan, serta keraguan untuk memulai kembali dari awal. Rasa malu karena tidak lagi berada pada posisi usaha sebelumnya juga menjadi hambatan tersendiri.

Karena itu, kebangkitan tidak dapat diukur dari seberapa cepat usaha kembali seperti semula, melainkan dari keberanian untuk melangkah kembali, sedikit demi sedikit. “Yang terpenting adalah menjaga harapan tetap hidup. Dari situlah kekuatan untuk bangkit akan tumbuh,” kata Rafi.

Melalui penguatan pola pikir kewirausahaan ini, pelaku usaha mikro diharapkan tidak hanya pulih dari kerugian yang dialami, tetapi juga menjadi lebih tangguh dalam menghadapi ketidakpastian di masa depan. Sebab, ketika harapan tetap terjaga, peluang untuk bangkit akan selalu ada.(*)

Kontributor: Khefti

Editor: Abdel Rafi

Previous article
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular