Sunday, February 15, 2026
spot_img
HomeEkonomikaRupiah dan QRIS Kini Jadi Materi Dakwah, BI Jatim Libatkan 150 Da’i...

Rupiah dan QRIS Kini Jadi Materi Dakwah, BI Jatim Libatkan 150 Da’i dan Mahasiswa

Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Dadan Priyoko (berdiri) saat membuka acara ToT tentang literasi keuangan bagi da’i dan mahasiswa di Ruang Singosari, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Sabtu (14/2/2026). (foto: Sule/Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Upaya memperkuat literasi keuangan kini merambah mimbar-mimbar dakwah dan lingkungan kampus. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur melibatkan 150 dai, aktivis masjid, dan mahasiswa dalam Training of Trainers (ToT) bertema “Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah dan QRIS”, guna menjadikan rupiah dan sistem pembayaran digital sebagai bagian dari materi edukasi kepada masyarakat.

Pelatihan yang digelar di Ruang Singosari, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Sabtu (14/2/2026) itu diikuti peserta dari Ikatan Dai Indonesia (IKADI), Majelis Tarjih Muhammadiyah, Dewan Masjid Indonesia, serta mahasiswa dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), yang tengah menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL).

Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Dadan Priyoko, mengatakan pelibatan para dai dan mahasiswa merupakan langkah strategis untuk mempercepat penyebarluasan literasi rupiah dan sistem pembayaran digital, terutama menjelang Ramadhan ketika aktivitas dakwah dan interaksi sosial masyarakat meningkat.

“Para dai memiliki kedekatan dengan masyarakat. Kami berharap materi tentang Cinta, Bangga, Paham Rupiah dan penggunaan QRIS dapat disampaikan di sela-sela ceramah. Demikian pula mahasiswa, dapat menjadi agen literasi keuangan ketika terjun langsung ke masyarakat,” ujar Dadan.

Gerakan CBP Rupiah menekankan tiga aspek utama. Pertama, Cinta Rupiah, yaitu mengenali ciri keaslian uang dan merawatnya dengan baik, tidak dilipat, dicoret, diremas, distapler, atau dirusak. Kedua, Bangga Rupiah, yakni menumbuhkan kesadaran bahwa rupiah merupakan simbol kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia sekaligus alat pemersatu bangsa. Ketiga, Paham Rupiah, yaitu memahami peran rupiah dalam sistem perekonomian, menjaga stabilitas moneter, serta memperkuat identitas nasional.

Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai bagian dari transformasi sistem pembayaran nasional. QRIS memungkinkan transaksi non-tunai dilakukan secara cepat, mudah, dan aman, serta mendukung perluasan inklusi keuangan masyarakat.

Bank Indonesia menegaskan, penggunaan transaksi digital melalui QRIS tidak menggantikan sepenuhnya peran uang tunai. Keduanya berjalan berdampingan dalam ekosistem ekonomi modern yang semakin efisien, sekaligus memperkuat fondasi sistem pembayaran nasional.

Perwakilan IKADI Surabaya, Ustadz Hanafi, mengapresiasi inisiatif tersebut. Ia menilai edukasi rupiah dan QRIS merupakan materi penting yang relevan disampaikan melalui mimbar dakwah.

“Pelatihan ini membuka wawasan baru bagi para dai. Rupiah bukan sekadar alat transaksi, tetapi simbol kedaulatan bangsa. Kami siap menyampaikan pesan ini kepada masyarakat,” ujarnya saat ditemui seusai acara.

Para peserta ToT terkait literasi keuangan berfoto bersama dengan perwakilan Bank Indonesia di Ruang Singosari, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Sabtu (14/2/2026). (foto: Sule/Cakrawarta)

Hal senada disampaikan Ustadz Sudayat Kosasih dari IKADI Jawa Timur. Ia menilai pelatihan tersebut memberikan bekal penting bagi para dai, termasuk peningkatan kemampuan komunikasi publik.

“Ini ilmu yang sangat penting untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang rupiah. Kami juga mendapatkan materi public speaking yang bermanfaat untuk meningkatkan kompetensi sebagai penceramah. Semoga kerja sama ini terus berlanjut,” katanya.

Dari kalangan mahasiswa, Riwelita, peserta dari Universitas Negeri Surabaya, mengatakan pelatihan tersebut memberikan pemahaman yang komprehensif, mulai dari mengenali ciri keaslian rupiah, cara merawatnya, hingga memahami perkembangan sistem pembayaran digital.

“Kami mendapatkan banyak ilmu, mulai dari ciri-ciri rupiah, cara merawat rupiah, memahami pentingnya rupiah bagi negara, hingga perkembangan uang digital dari sistem chip hingga berbasis server. Kami juga mendapat pelatihan public speaking yang sangat bermanfaat,” ujarnya.

Riwelita menambahkan, mahasiswa memiliki peran penting dalam menyebarluaskan literasi keuangan kepada masyarakat, terutama di era transformasi digital saat ini.

“Kami berharap mahasiswa UNESA dapat terus terlibat dalam kegiatan Bank Indonesia dan berkontribusi menyebarkan pengetahuan yang telah kami peroleh kepada masyarakat luas,” katanya.

Melalui pelatihan ini, Bank Indonesia berharap para dai dan mahasiswa dapat menjadi perpanjangan tangan edukasi publik, memperkuat kesadaran masyarakat untuk mencintai rupiah sekaligus memanfaatkan sistem pembayaran digital secara bijak, aman, dan bertanggung jawab.(*)

Kontributor: Sulaiman Sule

Editor: Abdel Rafi 

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular