Monday, February 9, 2026
spot_img
HomeEkonomikaPensiun Tak Selalu Sejahtera, Banyak Lansia Hidup di Batas Kemiskinan

Pensiun Tak Selalu Sejahtera, Banyak Lansia Hidup di Batas Kemiskinan

Ilustrasi.(foto: dihasilkan melalui AI)

JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Masa pensiun belum tentu identik dengan kehidupan yang sejahtera. Di Indonesia, banyak lansia justru menjalani hari tua di batas kemiskinan. Data (BPS) 2024 menunjukkan, sebanyak 42% pensiunan atau lansia hidup di rumah tangga dengan tingkat pengeluaran 40% terbawah secara nasional.

Asesor Lembaga Sertifikasi Profesi Dana Pensiun sekaligus Humas Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI), Syarifudin Yunus, mengatakan kondisi tersebut mencerminkan rendahnya kemandirian finansial sebagian besar pensiunan di Indonesia.

“Ketika hampir separuh pensiunan berada di kelompok pengeluaran terbawah, itu berarti mereka hidup sangat dekat dengan garis kemiskinan dan rentan terhadap berbagai guncangan ekonomi,” ujar Syarifudin, Senin (9/2/2026).

Berdasarkan data BPS, selain 42% pensiunan yang berada di kelompok pengeluaran terbawah, sekitar 38% lainnya hidup di kelompok pengeluaran 40% menengah. Kelompok ini tidak tergolong miskin, tetapi dinilai masih berada pada kondisi keuangan yang rapuh.

“Mereka hidup cukup, tetapi sangat sensitif terhadap kejadian seperti sakit, inflasi, atau terhentinya dukungan ekonomi dari anggota keluarga,” kata Syarifudin.

Adapun pensiunan yang berada di kelompok rumah tangga dengan pengeluaran 20% teratas hanya sekitar 20%. Kelompok ini umumnya memiliki dana pensiun sukarela, aset, tabungan, atau sumber pendapatan lain di hari tua.

“Artinya, hanya satu dari lima pensiunan yang benar-benar mapan secara finansial. Sisanya hidup dalam kondisi menengah ke bawah,” ujarnya.

Ketergantungan lansia terhadap keluarga juga masih sangat tinggi. Data BPS mencatat, sebanyak 84% pensiunan menggantungkan kebutuhan hidupnya pada penghasilan anggota rumah tangga yang masih bekerja. Sebanyak 11% bergantung pada kiriman anak, sementara yang mengandalkan uang pensiun sendiri hanya sekitar 5 persen. Pensiunan yang hidup dari hasil investasi jumlahnya bahkan kurang dari 1%.

Menurut Syarifudin, kondisi ini menunjukkan bahwa sistem pensiun nasional belum menjangkau mayoritas penduduk, terutama pekerja sektor informal dan individu. Akibatnya, risiko kemiskinan di usia tua masih sangat besar.

“Dana pensiun masih menjadi milik kelompok terbatas. Tanpa perluasan kepesertaan dan edukasi yang masif, banyak lansia akan terus bergantung pada keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,” kata Syarifudin.

Ia menilai penguatan edukasi dan kemudahan akses terhadap dana pensiun sukarela, termasuk Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK), menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat perlindungan ekonomi di hari tua.(*)

Kontributor: Tommy

Editor: Abdel Rafi 

Previous article
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular