Monday, February 2, 2026
spot_img
HomeSains TeknologiLingkunganDari Panggung Wayang, UNAIR Mengajak Warga Menjaga Mata Air

Dari Panggung Wayang, UNAIR Mengajak Warga Menjaga Mata Air

Momen ketika Guru Besar Antropologi Ekologi FISIP UNAIR, Mohammad Adib (kelima dari kiri) menyerahkan gunungan kepada dalang tunanetra ternama Ki Triya Handoko dan didampingi perwakilan tokoh masyarakat peduli air di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Sabtu (31/1/2026) malam. (foto: Khefti)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Dari panggung wayang kulit, pesan tentang pentingnya menjaga mata air disampaikan kepada warga Lawang, Kabupaten Malang. Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (FISIP UNAIR) memadukan pertunjukan budaya dan aksi pelestarian lingkungan dalam pengukuhan Satuan Tugas (Satgas) Mata Air Lawang, pada Sabtu (31/1/2026).

Pengukuhan satgas yang berlangsung di Hotel OAK Lawang, Kabupaten Malang itu dirangkaikan dengan pagelaran wayang kulit klasik ringgit purwo. Dalang tunanetra asal Desa Sumber Ngepoh, Kecamatan Lawang, Ki Triya Handoko, membawakan lakon Bodronoyo Mbangun Kerukunan. Lakon tersebut merefleksikan nilai gotong royong dan harmoni hubungan manusia dengan alam, khususnya dalam menjaga sumber daya air.

Pagelaran wayang yang berlangsung sekitar dua jam itu dilanjutkan dengan sarasehan bersama warga dan pemangku kepentingan setempat. Kegiatan ini menjadi bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan menumbuhkan kesadaran kolektif tentang pentingnya pelestarian mata air berbasis kearifan lokal.

Guru Besar Antropologi Ekologi UNAIR sekaligus Kepala Laboratorium Manusia, Budaya, dan Ragawi, Muhammad Adib mengatakan bahwa pendekatan budaya dipilih karena persoalan lingkungan tidak bisa diselesaikan semata-mata melalui regulasi formal.

“Air bukan sekadar komoditas, melainkan martabat kehidupan. Menjaga mata air adalah laku kebudayaan. Jika jaringan sosial masyarakat rukun dan sedhakep yang artinya waspada dan saling menjaga, maka alam akan angawe-awe alias memberi berkah,” ujar Adib dalam keterangannya, Senin (2/2/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Adib juga memperkenalkan buku terbarunya berjudul “Sedhakep Angawe-Awe: Jaringan Sosial Pencurian Kayu Jati dan Tata Kelola Hutan di Jawa. Buku itu mengulas keterkaitan relasi sosial, praktik budaya, dan pengelolaan sumber daya alam di tingkat lokal.

Aksi dalang tunanetra asal Desa Sumber Ngepoh, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang Ki Triya Handoko dalam momen pagelaran wayang kulit klasik ringgit purwo, Sabtu (31/1/2026) malam. (foto: Khefti)

Prosesi acara ditandai dengan penyerahan gunungan dari Adib kepada Ki Triya Handoko, didampingi perwakilan tokoh masyarakat peduli air di Kecamatan Lawang. Simbol tersebut menandai komitmen bersama antara akademisi, pelaku budaya, dan warga untuk menjaga keberlanjutan mata air di wilayah Malang Utara.

Menurut Adib, keterlibatan dalang tunanetra dalam kegiatan ini juga mengandung pesan moral. “Keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berperan menjaga peradaban dan lingkungan. Justru kepekaan batin menjadi modal penting dalam merawat alam,” katanya.

Melalui pembentukan Satgas Mata Air Lawang, Departemen Antropologi UNAIR berharap dapat mendorong model pengelolaan sumber daya alam yang partisipatif dan berkelanjutan. Kolaborasi antara kampus dan masyarakat ini diharapkan menjadi contoh bahwa upaya menjaga lingkungan dapat berangkat dari ruang-ruang budaya yang dekat dengan kehidupan warga.(*)

Kontributor: Khefti

Editor: Abdel Rafi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular