
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Al-Qur’an menjadi oase bagi jiwa yang letih menghadapi tekanan hidup. Pesan itu mengemuka dalam Kajian Senja Al-Yasmin yang menghadirkan Pengasuh Pesantren Darut Ta’lim an-Nawawi, Ampel, Surabaya, KH Ahmad Mujab Muthohar, Selasa (14/1/2026), di Ballroom Al-Yasmin, Surabaya.
Dalam kajian bertema “Oase Al-Qur’an bagi Jiwa yang Lelah”, Gus Mujab -sapaan akrab KH Ahmad Mujab Muthohar- menyampaikan bahwa Al-Qur’an mengajarkan ibadah terbaik bukan semata ritual, melainkan kesungguhan mencari solusi atas persoalan hidup. Proses mencari solusi itu, menurut dia, sudah mengandung tiga bentuk ibadah sekaligus: kesabaran, keikhlasan, dan pengharapan kepada Allah SWT.
“Afdhalul ibadah adalah menunggu solusi. Di dalamnya ada husnuzan kepada Allah, bersabar atas apa yang menimpa, ikhlas, dan berharap kepada-Nya. Semua itu membuat seseorang semakin dekat dengan Allah,” ujar Gus Mujab.
Ia menjelaskan, kejenuhan merupakan bagian dari dinamika kehidupan manusia, baik dalam rumah tangga maupun pekerjaan. Titik lelah bisa bersumber dari persoalan pribadi, keluarga, anak, maupun relasi sosial di luar rumah.
“Di tengah kejenuhan itulah manusia membutuhkan pegangan. Al-Qur’an hadir memberi arah agar kita tidak larut dalam kebingungan dan kelelahan,” kata menantu almarhum KH Nu’man Thohir tersebut.
Salah satu pegangan utama yang diajarkan Al-Qur’an, lanjut Gus Mujab, adalah himmah ‘aliyah atau cita-cita dan harapan yang tinggi. Namun, harapan itu tidak boleh berhenti pada kepentingan diri sendiri.
“Orientasinya bukan hanya sa’yan li nafsi atau untuk diri sendiri, akan tetapi juga sa’yan li ghairi yakni memberi manfaat bagi orang lain. Cita-cita itu untuk diri, anak, keluarga, dan masyarakat,” tuturnya.
Selain cita-cita, Al-Qur’an juga menekankan pentingnya al-jidd atau kesungguhan. Menurut Gus Mujab, tidak ada keberhasilan tanpa proses panjang dan kelelahan. “Kesungguhan membutuhkan semangat. Semangat itu tumbuh ketika kita bermanfaat bagi orang lain. Jika kita memberi manfaat, Allah akan mendatangkan kebermanfaatan pula bagi kita,” ujarnya.
Ia menambahkan, para ulama mengajarkan konsep ketangguhan melalui kesabaran agar manusia tidak mudah rapuh. Kesabaran mencakup tiga hal yaitu sabar dalam ketaatan, sabar menghadapi ujian, dan sabar menahan diri dari kemaksiatan.
Gus Mujab membagi karakter manusia saat diuji masalah ke dalam dua tipe. Pertama, rojulun ‘aqil atau orang berakal yang tenang dan fokus pada solusi. Kedua, rojulun jahil atau orang yang mudah panik, galau, dan terjebak pada masalah itu sendiri.
“Masalah kecil bisa terasa besar ketika seseorang tidak mampu mengelola dirinya,” katanya.
Karena itu, ia mendorong para orang tua membentuk mental anak sebagai pribadi tangguh dan berjiwa pejuang. Ia mencontohkan kisah sahabat Nabi, Abu Umamah, yang diliputi kegelisahan hingga datang ke Masjid Nabawi sebelum waktu shalat. Saat ditanya Rasulullah SAW, Abu Umamah mengaku tengah bingung dan terlilit utang.
Rasulullah kemudian mengajarkan doa perlindungan dari kegelisahan, kemalasan, ketakutan, dan lilitan utang, sebuah doa yang dianjurkan diamalkan pada pagi dan petang hari. “Nabi mengajarkan kita menjadi ar-raja’, memiliki harapan yang disertai ikhtiar, bukan sekadar tamanni atau berangan-angan tanpa tindakan,” ujar Gus Mujab.
Ia menegaskan, Al-Qur’an mengajarkan bahwa mencari solusi adalah ibadah terbaik karena menggabungkan kesabaran, keikhlasan, dan doa yang merupakan tiga jalan utama mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Menutup kajiannya, Gus Mujab mengutip pemikiran Imam Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah. Dalam kitab tersebut, Imam Ghazali menyarankan pembagian waktu harian ke dalam empat bagian yaitu memperbarui ilmu, beribadah dan berzikir, memberi manfaat kepada sesama, serta bekerja mencari nafkah.
“Jika waktu dibagi secara seimbang, hidup menjadi lebih tertata. Ada ruang untuk ilmu, ibadah, pengabdian sosial, dan keluarga. Dengan begitu, kegelisahan tidak mendapat tempat,” kata Gus Mujab.(*)
Kontributor: Al-Yasmin
Editor: Abdel Rafi



