Sunday, January 11, 2026
spot_img
HomeGagasanPembangunan, Modernisasi, dan Ancaman Baru Penyakit Tropis

Pembangunan, Modernisasi, dan Ancaman Baru Penyakit Tropis

Pembangunan selalu hadir sebagai janji kemajuan. Jalan tol dibangun, kawasan industri tumbuh, kota-kota melebar, dan teknologi bergerak semakin cepat. Namun, di balik derap modernisasi itu, ada konsekuensi yang kerap luput dari perhitungan yaitu perubahan ekologi penyakit dan meningkatnya risiko penyakit infeksi tropis.

Indonesia sebagai negara tropis berada pada posisi yang sangat rentan. Penyakit infeksi tropis bukan sekadar isu medis, melainkan cerminan hubungan kompleks antara manusia, lingkungan, dan arah pembangunan. Dalam konteks ini, pembangunan tidak bisa lagi dipahami semata sebagai pertumbuhan ekonomi dan ekspansi fisik ruang, tetapi juga sebagai faktor penentu kesehatan masyarakat.

Pembangunan dan modernisasi memiliki hubungan erat dengan dinamika penyakit tropis. Perubahan tata ruang, industrialisasi, dan urbanisasi yang berlangsung cepat sering kali mengganggu keseimbangan lingkungan yang selama ini menjadi penyangga alami bagi manusia.
Dalam kajian ekologi penyakit, setidaknya terdapat tiga faktor utama yang menentukan muncul dan menyebarnya penyakit infeksi tropis. Pertama, faktor patogen yang bisa berupa virus, bakteri, parasit, dan mikroorganisme lain. Kedua, faktor inang atau host, termasuk manusia, hewan, dan tumbuhan. Ketiga, faktor lingkungan. Ketiganya saling terkait dan sangat dipengaruhi oleh cara manusia membangun dan mengelola ruang hidupnya.

Alih fungsi lahan dan deforestasi menjadi contoh paling nyata. Ketika hutan dibuka untuk industri, permukiman, atau infrastruktur, habitat alami hewan liar terganggu. Perubahan ini tidak hanya berdampak pada keanekaragaman hayati, tetapi juga pada siklus hidup patogen dan vektor penyakit seperti nyamuk dan tikus. Lingkungan baru yang tercipta sering kali justru lebih ramah bagi patogen untuk berkembang.

Dalam dua dekade terakhir, dunia menyaksikan pergeseran besar dalam pola penyakit tropis. Penyakit yang dulu dikenal sebagai penyakit tropis klasik kini berkembang menjadi apa yang disebut sebagai emerging dan re-emerging infectious diseases. Penyakit emerging adalah penyakit baru yang sebelumnya tidak pernah menginfeksi manusia. Sementara itu, penyakit re-emerging adalah penyakit lama yang sempat terkendali, tetapi muncul kembali akibat perubahan kondisi lingkungan dan sosial.

Sebagian besar penyakit emerging bersifat zoonosis, yakni ditularkan dari hewan ke manusia. Interaksi yang semakin intens antara manusia dan hewan baik hewan liar maupun ternak, menjadi faktor kunci. Pembangunan kawasan industri, pembukaan wilayah baru, hingga perubahan pola konsumsi manusia memperpendek jarak antara manusia dan sumber patogen. Apa yang sebelumnya aman di tubuh hewan, bisa menjadi ancaman serius ketika berpindah ke manusia.

Pandemi Covid-19 menjadi pengingat paling nyata. Penyakit ini bukan sekadar persoalan kesehatan, melainkan juga cermin dari dunia yang semakin terhubung. Kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi membuat mobilitas manusia lintas wilayah dan negara berlangsung sangat cepat. Penyakit yang awalnya bersifat lokal dapat berubah menjadi masalah global dalam waktu singkat.
Urbanisasi masif turut memperbesar risiko tersebut. Kota-kota tumbuh dengan cepat, sering kali tanpa diimbangi perencanaan lingkungan dan sanitasi yang memadai. Kawasan padat penduduk baru bermunculan, menciptakan kondisi ideal bagi penyebaran penyakit infeksi. Di sisi lain, pembangunan kawasan industri menarik arus migrasi tenaga kerja dari berbagai daerah, bahkan lintas negara, yang mempercepat transmisi penyakit.
Masalah lain yang tak kalah serius adalah ketimpangan akses terhadap layanan kesehatan. Fasilitas kesehatan cenderung terkonsentrasi di wilayah perkotaan, sementara daerah rural masih menghadapi keterbatasan jumlah dan kualitas layanan. Akibatnya, masyarakat dari daerah dengan fasilitas minim terpaksa bermigrasi ke kota untuk berobat. Interaksi ini memperbesar kepadatan dan meningkatkan risiko penularan penyakit di kawasan urban.

Kelompok masyarakat paling rentan yaitu mereka yang tinggal di kawasan kumuh, hidup dalam kemiskinan, dan memiliki tingkat pendidikan rendah, sering kali menanggung beban terbesar. Mereka tinggal di lingkungan yang tidak sehat, memiliki akses terbatas terhadap layanan kesehatan berkualitas, dan bekerja di sektor-sektor berisiko tinggi. Ketimpangan sosial ini pada akhirnya memperparah dampak penyakit infeksi tropis dan memperlebar jurang keadilan kesehatan.
Semua ini menunjukkan satu hal penting bahwa pembangunan yang tidak sensitif terhadap aspek kesehatan masyarakat berpotensi menciptakan masalah baru yang jauh lebih mahal untuk ditangani. Selama ini, kebijakan pembangunan sering kali menempatkan kesehatan sebagai urusan hilir yang ditangani ketika masalah sudah muncul, bukan sebagai pertimbangan utama sejak tahap perencanaan.

Pembangunan memang tidak bisa dihentikan. Namun, arahnya harus ditata ulang. Pendekatan holistik dan berkelanjutan menjadi kunci. Aspek kesehatan masyarakat perlu diintegrasikan dalam setiap proses pembangunan, mulai dari perencanaan tata ruang, pengelolaan lingkungan, hingga kebijakan industrialisasi dan urbanisasi.
Dengan memasukkan perspektif kesehatan sejak awal, pembangunan tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga kualitas hidup manusia. Modernisasi seharusnya tidak menjauhkan manusia dari lingkungan yang sehat, melainkan memperkuat ketahanan masyarakat terhadap risiko penyakit.

Karena itulah, ukuran keberhasilan pembangunan tidak semata diukur dari angka pertumbuhan ekonomi atau megahnya infrastruktur, tetapi dari sejauh mana pembangunan itu mampu melindungi manusia dari ancaman yang tak kasatmata yakni penyakit yang lahir dari ketidakseimbangan antara manusia dan lingkungannya. Jika kesehatan manusia benar-benar dijadikan prioritas, maka pembangunan akan menjadi jalan menuju kemajuan yang utuh, bukan sumber kerentanan baru. Semoga.

LAURA NAVIKA YAMANI 

Sekretaris Lembaga Penyakit’ Tropis Universitas Airlangga dan Dosen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAIR

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular