Sunday, April 14, 2024
HomeGagasan5 Efek Wow Bersahabat Dengan Buku

5 Efek Wow Bersahabat Dengan Buku

Giat anak anak di TBM Lentera Pustaka, kaki Gunung Salak Bogor.

Membaca buku dianggap aktivitas yang membosankan. Membaca buku tidak asyik, tidak menyenangkan. Wajar bila membaca buku kalah jauh dibandingkan bermain handphone atau gawai. Kalah dibandingkan ngobrol di kafe-kafe. Bahkan kalah dari gosip dan ghibah bagi kalangan tertentu. Membaca buku, jadi aktivitas yang kian terpinggirkan. Termarjinalkan.

Bisa jadi, banyak orang kurang memahami “WOW effect” alias efek luar biasa dari aktifitas membaca buku. Membaca buku yang tidak hanya menambah pengetahuan dan wawasan, tetapi membaca buku sebagai muamalah (perbuatan baik) dan ubudiyah (ketaatan dan mengharap pahala-Nya). Bahkan lebih dari itu, WOW effect membaca buku seperti disajikan dalam buku “La Tahzan” karya Dr. ‘Aidh al-Qarni yang menyebutkan bahwa membaca buku dapat mengusir ketertinggalan dan kesedihan, disamping membasmi kebodohan. Betapa dahsyat dampak membaca buku bagi pembacanya!

Mungkin kita sudah lupa, buku pun cocok dijadikan sebagai teman di kala suka dan duka. Buku sebagai sahabat yang tidak akan pernah menipu dari kemunafikan dan omong kosong. Buku mampu jadi teman yang setia menghibur dan memberi solusi atau jalan keluar dari setiap problematika yang ada. Buku tidak cukup untuk dipandang apalagi sekedar hanya dipajang. Tapi buku harus dibaca. Kita harus membaca buku tersebut, sehingga buku mampu memberi kenikmatan yang lezat dan menajamkan kemampuan intelektual. Karena buku pula dapat melancarkan lidah yang kelu dan mengindahkan jari jemari yang membuka halaman demi halaman. Bukan jari jemari yang piawai berkeluh-kesah di media sosial.

WOW effect bersahabat dengan buku setidaknya dapat dirasakan manfaatnya dalam 5 hal. Pertama, dengan membaca buku dapar memperkaya khazanah bahasa. Kedua, dengan membaca dapat melembutkan hati dan jiwa. Ketiga, dengan membaca buku maka menenangkan pikiran pembacanya. Keempat, membaca buku menjadi kegiatan dimana kita mengisi hari-hari dengan hal-hal yang positif, dan terakhir, dengan membaca buku mampu menjauhkan diri kita dari perbuatan buruk yang sia-sia.

Di Tengah hiruk-pikuk tahun politik khususnya situasi Pemilihan Presiden (Pilpres) seperti sekarang, ada baiknya diskursus tentan kegemaran membaca buku dan gerakan literasi dijadikan “tema sentral” untuk bangsa Indonesia. Saat ini dapat menjadi momentum bagi pasangan bakal capres-cawapres yang telah mendaftar dan maupun akan mendaftar, mampu mengedepankan diskursus tentang urgensi membaca, pentingnya bersahabat dengan buku dan segala dampak luar biasa dari kegemaran membaca buku tersebut. Para bakal capres-cawapres itu seharusnya mampu berkisah tentang komitmennya terhadap aktivitas membaca buku. Mau seperti apa dan akan bagaimana literasi di Indonesia tentu juga berdampak dari bagaimana pemimpinnya menempatkan tema besar ini dalam visi-misi dan kampanye mereka.

Bersahabat dengan buku, itulah praktik baik yang dijalankan di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat. Sebuah komunitas yang hadir untuk membuat mendekatkan anak-anak usia sekolah dengan buku bacaan. Sebuah program dan kegiatan nurturasi sehingga kelak gemar membaca buku menjadi tradisi. Nurturasi menjadi tradisi. Di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor ini, anak-anak diajak akrab dengan buku-buku daripada handphone atau gawai. Tidak kurang sekitar 130 anak pembaca aktif yang berasal dari 4 desa yakni Sukaluyu, Tamansari, Sukakaya, Sukajadi yang secara rutin seminggu 3 kali membaca buku di Lentera Pustaka. Tentu tetap didampingi 5 wali baca dan 12 relawan setiap minggunya.

Membaca buku bukan untuk merasa pintar apalagi merasa paling tahu segalanya. Tapi membaca buku sebagai muamalah (perbuatan baik) dan ubudiyah (ketaatan dan mengharap pahala-Nya). Sekaligus menjadikan taman bacaan sebagai lentera peradaban bagi masyarakat. Lalu, kenapa masih banyak anak-anak yang masih belum mau membaca buku? Inilah “pekerjaan rumah” terbesar bangsa Indonesia dan pegiat literasi di mana pun. Untuk tetap konsisten menegakkan tradisi membaca dan budaya literasi masyarakat. Termasuk pemimpin kita dan calon pemimpin yang kini tengah sibuk mencari simpati.

Siapapun yang bersahabat dengan buku. Maka kita tidak akan menghakimi apapun di tengah ketidaktahuan kita sendiri. Tidak akan meninggi atas keilmuan yang kita miliki. Tidak akan merendahkan siapapun saat merasa sudah tinggi sekalipun. Dan tidak akan hanya pandai berbicara tanpa pernah berbuat secara konkret. Buku-buku mampu mencukupkan teori menjadi praktik. Buku yang mampu mengubah niat baik jadi aksi nyata.

Efek WOW bersahabat dengan buku adalah moment of wonder bagi siapapun yang membacanya. Membaca buku sebagai Tindakan kecil yang berdampak besar dalam kehidupan. Karena mampu mencerahkan orang-orang yang membacanya, sehingga tercipta independensi intelektual atau kemandirian dalam berpikir. Tanpa keluh kesah, tanpa menggantungkan diri kepada orang lain.

Jadi, apakah salah jika orang-orang Taman Bacaan lebih memilih buku dibandingkan dengan pertemanan yang semu? Karena dibalik buku, selalu ada adab dan ilmu. Untuk selalu bersyukur atas apapun, tidak menghina apalagi membenci, tetap menutup aib siapapun, dan tidak mendendam ketika berselisih paham dengan siapapun. Masih belum mau bersahabat dengan buku? Saya kira waktunya kita dengan tegas: Kita Mau Bersahabat Dengan Buku dan siap menerima Wow Effect-nya. Selamat membaca dan salam literasi!

SYARIFUDIN YUNUS

Pegiat Literasi Taman Baca Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka dan Dosen FBS Unindra

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular