Wednesday, May 22, 2024
HomeGagasanPunggung Prabowo di Panggung Asia

Punggung Prabowo di Panggung Asia

Tiga tokoh kunci yang bakal mewarnai Pemerintahan Presiden Terpilih 2024-2029 lahir pada bulan Oktober. Mereka adalah Presiden Terpilih Prabowo Subianto Djojohadikusumo (17 Oktober 1951), Wakil Presiden Terpilih Gibran Rakabuming Raka (1 Oktober 1987), dan Airlangga Hartarto Sastrosoenarto (1 Oktober 1962), sosok paling penting dalam Koalisi Indonesia Maju. Tiga tokoh berzodiak Libra yang terkenal rajin bekerja, halus budi, dan ambisius.

Dibanding Presiden RI pertama hingga ketujuh, Prabowo paling awal bersentuhan dan bergaul dalam kehidupan antar bangsa dan antar negara. Sebelum masuk Akademi Militer di Magelang, Prabowo menamatkan sekolah menengah di Malaysia, Swiss dan Inggris, tentu dengan pengantar Bahasa Inggris. Selain fasih berbahasa Inggris, Perancis, Jerman, dan Belanda, Prabowo adalah pengguna bahasa Indonesia versi sekolahan. Bukan bahasa Indonesia pasaran atau didapat lewat pergaulan. Ia berpikir dan – bisa jadi – bermimpi dalam bahasa asing, bukan bahasa nasional.

Prabowo sekali kalah dalam pertarungan langsung merebut kursi Wapres RI tahun 2009. SBY juga pernah dikalahkan Hamzah Haz sebagai pnerima mandat Wapres RI oleh MPR RI tahun 2001. Sementara dalam demokrasi elektoral meraih kursi Presiden RI via One Man One Vote One Values, Prabowo dua kali kalah (2014 & 2019), sama dengan Megawati (2004 & 2009).

Nada bicara akrab sangat terlihat dalam setiap postingan akun X Prabowo terkait ucapan kepala negara lain atas kemenangan dalam Pilpres. Prabowo berbicara dalam bahasa Perancis, ketika ditelepon Presiden Perancis dan Presiden Kanada. Yang paling istimewa adalah ketika berbicara dengan Raja Yordania, sahabat yang ‘menyelamatkan’ Prabowo ketika tercampak dari dalam negeri setelah pencopotan jabatan di tubuh militer. Ketika masih menjadi Putra Mahkota Yordania, Prabowo menyematkan baret merah Kopassus kepada Raja Yordania kini.

Usai Pilpres 2024 itu, Prabowo secara simultan berkunjung ke tiga negara, yakni China, Jepang, dan Malaysia. Tentu dalam kapasitas sebagai Menteri Pertahanan RI. Namun sambutan akun-akun official Presiden China, Perdana Menteri Jepang, dan Perdana Menteri Malaysia tak sebatas jabatan yang melekat itu, tetapi sebagai the Elected President, disertai ucapan selamat secara langsung. Dalam kedudukan sebagai Menteri Pertahanan RI, menurut Spectator Index,selama tahun 2002-2022, belanja pertahanan Indonesia naik sebesar 250%. Belanja pertahanan Indonesia berada di bawah China (380%) dan di atas India (154%), Korea Selatan (111%), Pakistan (103%), Philipina (65%), Singapura (38%), Malaysia (24%). Jepang (15%) dan Taiwan 13%).Terlihat sekali betapa negara-negara Asia, umumnya, dan Asia Tenggara, khususnya, menggeliat dari sisi militer.

***

Soedjatmoko, sosok yang sangat dekat dengan Sutan Syahrir dan Soemitro Djojohadikusumo, suatu kali berbicara dengan Presiden Soekarno. Soekarno mendesak Soedjatmoko bergabung dengan partai politik, tetapi bukan Partai Sosialis. Soedjatmoko mengenal Soekarno sebagai tokoh yang menginginkan sistem satu partai di Indonesia sejak sebelum kemerdekaan, tentu bertanya alasan Soekarno.

‘’Tak ada masalah dengan Partai Sosialis. Tetap kita berada dalam revolusi. Terlalu dini memikirkan demokrasi dan hak asasi. Revolusi bagaikan kuda yang terlepas. Kuda mencari jalan sendiri.Tugas pemimpin revolusi hanya tetap berada di atas pelananya, sampai kuda itu selesai berlari. Baru sesudah itu, ia bisa menggiring kuda itu ke arah yang dikehendaki.’’

Begitu penjelasan Soekarno. Soedjatmoko mengingat saat terakhir berjumpa Soekarno, akhir tahun 1966 setelah terjadi penurunan pengaruh, akibat gagal ‘mengamankan revolusi’. Soekarno bertemu Soejatmoko yang baru balik dari sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa, setelah Indonesia kembali bergabung. Selain menjadi Rektor Perserikatan Bangsa Bangsa di Jepang, Soedjatmoko menjalankan sejumlah tugas diplomatik.

Soekarno meminta Soedjatmoko mengevaluasi revolusi kebudayaan di China. Setelah menjelaskan pandangannya, Soedjatmoko balik bertanya kenapa Soekarno bertanya soal itu. ‘Kalau Mao Tse Tung menang, bagi saya berarti itu era Revolusi Agung belum berlalu, dan saya menarik kekuatan besar dari (kenyataan) itu,’ tegas Soekarno.

Soekarno benar, revolusi di China tak berhenti. Setelah revolusi Mao lewat long march, Deng Zio Ping melancarkan revolusi kebudayaan. Kalangan perguruan tinggi seperti profesor, bergerak ke perdesaan. Dari memegang pulpen, lalu mengayunkan cangkul. Bukan desa mengepung kota, tetapi kota yang bergerak ke desa. Sepuluh juta rakyat China menjadi korban, kedinginan, tak punya tempat tinggal.

Pemikiran terkait revolusi, beserta model yang diambil, banyak mengisi ruang pikiran para tokoh bangsa era 1940an hingga 1960an. Buku ‘Asia di Mata Soedjatmoko’ (Kompas, Januari 2010), mengurai suasana zaman itu. Kaum sosialis yang disebut Soekarno, banyak menjalankan tugas sebagai kaum intelektual, diplomat, juga pelarian politik sejak PRRI/PERMESTA. Tak terkecuali Soemitro Djojohadikusumo bersama istri dan anak-anaknya yang masih kecil. Galaksi pemikiran Prabowo kecil dan remaja berada di area seperti itu.

Perjalanan ke China, Jepang, dan Malaysia setelah dinyatakan menang Pilpres 2024 adalah langkah konsolidasi Prabowo dalam bidang pertahanan. Intuitif, tetapi sangat akurat dan strategis. Seorang menteri yang langsung bertemu dengan orang pertama di tiga negara yang disinggahi. Di tengah kecamuk peperangan yang dilakukan Russia atas Ukraina dan Israel atas Gaza – Palestina, Asia menjadi ladang perebutan sumber energi antar negara bertetangga. China, India dan Indonesia yang diperkirakan sebagai tiga dari lima negara paling tinggi pertumbuhan ekonominya tahun 2045, diluar Amerika Serikat dan Brazil, berada di Asia. Perang Vietnam dan Perang Korea di abad 20, telah menyeret kekuatan militer Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya, pun China dan sekutu-sekutunya, adalah pelajaran pahit bagi abad ini.

Tentu, malapetaka bakal berkuah darah, apabila peluru dan mesiu hadir di tengah petani, nelayan, dan pedagang yang bersemangat di kawasan pertumbuhan kemakmuran planet bumi ini untuk satu, dua, atau lebih generasi nanti. Abad 21 tak perlu menyeret perang besar-besaran di kawasan Asia, umumnya, dan Asia Tenggara, khususnya. Jika diakumulasikan, walau sama sekali tak punya kerjasama di bidang pertahanan, negara-negara yang bergabung dalam ASEAN memiliki kekuatan militer jauh lebih besar lagi. Indonesia berada di rangking ke 15 di dunia, menyusul Vietnam dan Thailand di urutan ke 28 dan 29. Myanmar ke 39, Singapura ke 42, dan Malaysia ke 48.

Tanpa perlu mengatakan lebih tegas, Prabowo tentu sedang berpikir dan bekerja kearah itu. Pengembangan bidang pertahanan dan militer bukan kerja kata-kata dan banyak bicara. Di luar Vladimir Putin dan Benyamin Netanyahu yang berlatar belakang militer, Prabowo Subianto menjadi sosok kepala negara dan kepala pemerintahan yang punya kridensial itu. Tak banyak negara punya orang-orang yang berpengalaman dengan perang, ketika ancaman konflik berupa perang sedang mengemuka.

***

Sejak sekolah menengah hingga pendidikan komando militer di Amerika Serikat, begitu juga tugas sebagai prajurit di Timor Leste dan bahkan peristiwa penyelamatan Mapenduma 1996, Prabowo diidentikan dengan ‘Barat’. Sejumlah media luar negeri berpengaruh di dunia Amerika Serikat, Eropa dan Australia tahun itu, sudah langsung menyebut sebagai the next leader in Indonesia. PRRI/PERMESTA yang melibatkan Soemitro Djojohadikusumo dan berbuah kepada pelarian poltik ke luar negeri, juga dibawah sokongan Barat, terutama pihak intelijen Amerika Serikat dan Australia. Kepemimpinan Presiden Soeharto yang membelokan kereta republik ke kanan, setelah selama kepemimpinan Presiden Soekarno disebut berbelok ke kiri, juga bias Barat.

Soedjatmoko sempat mengutip Trotsky: ‘Tak boleh ada musuh di sebelah Kiri.’
Masalahnya, apakah China itu Kiri?
India juga Kiri?
Jepang dan negara-negara lain di Asia itu Kiri?

Posisi ideologis Prabowo dalam dua Pilpres dikenal dekat ke Kanan, tetapi bukan Kanan dalam dimensi diametral (berlawanan) dengan Kiri seperti China dan Russia. Kanan yang meruyak di media sosial adalah kalangan Islamis yang punya kecenderungan militan dan fundamentalis. Dan selama bergabung dengan pemerintahan Joko Widodo, posisi Prabowo yang Kanan itu kembali lagi ke Tengah. Dan kini, Tengah dalam skala besar dan luas sedang digerakkan. Dalam senyap. Tak ada lagi perbenturan dengan Kanan atau Kiri, Barat atau Timur. Tengah menjadi semacam primus inter pares yang sedang membentuk karakter dan kepribadian sendiri. Tanpa perlu sematan atau diksi Macan Asia atau Naga Asia seperti yang digunakan ilmuwan Eropa dan Amerika Serikat.

Manakala Prabowo nanti bekerjasama lebih luas dengan China, Russia atau India, dibandingkan dengan negara-negara Eropa, Australia atau Amerika Serikat, tak bisa diartikan ia sudah berkiblat atau berbelok ke Kiri. Prabowo tentu sedang menjahit dan meramu pemahaman ideologis yang terjadi sejak kecil dan remaja menjadi buah ranum dalam kepentingan bangsa dan negara. Prabowo juga tak hendak sedang membangunkan lagi dinasti politik yang berasal dari mertua, Presiden Soeharto. Ia sudah meruntuhkan segala sendi dan pilar kepentingan jangka pendek itu dalam perjalanan politiknya.

Punggung Prabowo terlalu penuh dengan beban kebangsaan. Dan beban antar bangsa…

Markas Gerilyawan, Kemayoran

INDRA J PILIANG

Nalar Konstitusi Circle

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular