Sungai Kotor, Anies dan Kita

807 views

Baik Anies Baswedan maupun Jokowi (masing-masing beserta para pengikut setianya) harus mulai memikirkan pengelolaan sungai secara menyeluruh. Anies memikirkan sungai di kota Jakarta, Jokowi memikirkan sungai di seluruh Indonesia. Tidak perlu saling memojokkan dalam hal pengelolaan sungai hitam, kotor, dan bau di Jakarta, tidak perlu pula masing-masing merasa menjadi pahlawan atau malah pecundang dalam mengatasi sungai hitam di Jakarta. Para pendukung keduanya tidak perlu juga terlalu ngotot membela idola masing-masing.

Ingat, yang dilakukan oleh Anies (sebagai representasi Pemerintah DKI) menutup Kali Sentiong dengan jaring hitam adalah solusi sesaat sekedar mencegah agar para atlet Asian Games 2018 tidak “kebauan” selama beberapa hari mereka menginap di Jakarta. Solusi konyol Anies tentu saja mengundang tawa anak-anak seluruh Indonesia, terutama yang tidak suka dengan jabatan dia sebagai Gubernur DKI. Karena dianggap konyol maka buru-buru pemerintah pusat (direpresentasikan oleh Jokowi dan menteri terkait tentu saja) segera turun tangan, mengambil alih penanganan Kali Item. Kabarnya mereka akan menggunakan zat tertentu agar dapat menjernihkan sungai tersebut.

Para pendukung Jokowi tentu saja bersorak gembira, dan ramai-ramai “menggoblokkan” Anies. Tetapi apakah yang akan dilakukan oleh pemerintah pusat merupakan solusi permanen? Tentu saja tidak. Hal tersebut menurut saya juga sama konyolnya dengan yang dilakukan oleh Anies. Kondisi sungai-sungai di Indonesia saat ini adalah menyangkut pola pikir seluruh rakyat Indonesia terhadap sungai secara menyeluruh. Sehingga, solusinya bukan memasang jaring atau menaruh zat kimia penjernih, tetapi mengubah pola pikir dan kultur masyarakat dalam memandang sungai, kemudian mengajarinya dengan baik bagaimana cara yang tepat dan beradab dalam mengelola sungai.

Selama beratus tahun, atau mungkin sejak manusia Indonesia ada, rakyat memandang sungai sebagai tempat buangan segala macam hal. Mula-mula masyarakat desa menjadikan sungai sebagai tempat buang hajat, untuk berak di pagi hari. Sebagian besar masyarakat desa kuno tidak mengenal tempat khusus untuk buang hajat di lahan kering. Mereka buang hajat justru di sembarang tempat, di kebun-kebun. Ada yang langsung begitu saja, ada pula yang menggali tanah terlebih dahulu, dan setelah hajat selesai mereka menguruknya kembali. Nah, bagi mereka yang bertempat tinggal di dekat sungai mereka akan buang hajat langsung di sungai. Kotoran langsung hilang, hanyut terbawa air.

Ketika kehidupan semakin kompleks dan rumah tangga mulai menghasilkan sampah, yang hidup di daratan jauh dari sungai membuang sampah tersebut di sembarang tempat, sehingga di sekitar rumah sampah bertebaran di mana-mana. Mereka berpikir asal sampah sudah tidak berada di dalam rumah, maka beres sudah. Nah bagi yang tinggal di tepi sungai, sungai adalah tempat sampah paling praktis. Segala macam sampah dihanyutkan di sungai. Prinsip mereka, asal sampah tidak ada lagi di sekitar mereka bereslah sudah. Bahkan pada anak-anak pedesaan di Jawa ada semacam lagu dolanan atau parikan yang sangat menggambarkan bagaimana cara pandang orang-orang Jawa dalam memperlakukan sungai terkait dengan sampah, yang potongannya sebagai berikut:

“e dayohe teka, e gelarna klasa, e klasane bedah, e tembelen jadah, e jadahe mambu, e pakakna asu, e asune mati, e buaken kali, e kaline banjir, e buwaken pinggir..”

(e tamunya datang, e gelarkan tikar, e tikarnya sobek, e tamballah dengan jadah, e jadahnya bau, e makankan ke anjing, e anjingnya mati, e buanglah ke sungai, e sungainya banjir, e buanglah di pinggir).

Lagu tersebut secara jelas menggambarkan perilaku rakyat kebanyakan bagaimana caranya memperlakukan sungai. Bahkan jika ada anjing mati solusinya tidak dikubur, melainkan dibuang ke sungai. Akibatnya, sungainya menjadi banjir.

Sungai bagi masyarakat Indonesia adalah tempat sampah terpanjang dan terpraktis. Apapun yang dianggap sudah tidak berguna maka buanglah ke sungai. Saya menemukan sebuah buku kecil yang berjudul “Tipoe Moeslihat Djepang” di Perpustakaan KITLV Leiden, Buku tersebut berisi syair yang amat panjang yang menggambarkan suasana pada zaman penjajahan Jepang. Terdapat satu bait syair yang juga menggambarkan bagaimana segala macam sampah masuk sungai, bahkan bangkai ayam juga hanyut di sungai dan dijadikan santapan orang yang sedang kelaparan di tengah suasana penjajahan Jepang yang kejam. Syairnya sebagai berikut:

“Makananja ada barang jang anjoet di kali
Sama bangke ajam marika ada dojan sekali
Itoe santapan laen orang tentoe merasa geli
Boeat marika asal makan orang traoesa pedoeli”

Pada masa “bunuh-bunuhan”, setelah peristiwa G30S tahun 1965, sebagian besar orang yang dibunuh selama tahun 1966 juga dicemplungkan begitu saja ke sungai. Jika kita membaca buku “Palu Arit di Ladang Tebu” karya Hermawan Sulistyo dari LIPI, kita akan bergidik, karena banyak sungai di Jombang, Kediri, dan beberapa tempat lain menjadi merah. Darah orang-orang yang dibunuh dengan cara disembelih bercampur dengan air sungai. Bangkai mereka dilemparkan begitu saja ke sungai, ada yang langsung hanyut ada pula yang nyantol di tepi-tepi sungai. Sungguh mengerikan.

Uraian di atas adalah gambaran riil bagaimana masyarakat Indonesia dalam memandang sungai. Hal tersebut tidak melulu terjadi di Jawa. Di luar Jawa juga sama. Sungai-sungai kotor karena sampah dan berbagai benda lain. Saya pernah naik perahu di sungai Barito. Kondisi sungai tersebut menghitam karena endapan tanah yang bercampur dengan batubara. Penambangan batu bara yang tanpa ampun telah merusak sungai tersebut.

Sungai-sungai di perkotaan keadaannya jauh lebih parah, karena selain sebagai tempat menghanyutkan sampah juga sebagai tempat pembuangan akhir air limbah rumah tangga. Hampir semua rumah yang berada di tepi sungai, bahkan juga yang jauh dari sungai, mengalirkan air limbah rumah tangga ke got-got yang terhubung ke sungai. Padahal kita tahu sendiri betapa kotor air limbah rumah tangga, yang di tempat saya disebut “peceren.” Air tersebut bau dan hitam.

Di kota-kota yang banyak pabrik, besar maupun kecil, sebagian pabrik membuang air limbah pabrik juga ke sungai. Akibatnya sungai menjadi amat kotor, hitam, dan bau. Hanya sedikit sekali sungai di tengah kota yang keadaannya cukup bersih. Di kota Surabaya, kondisi sungai terbesar yang mengalir di kota tersebut (Kalimas) cukup bersih. Sungai ini dikelola oleh sebuah badan usaha yang menjual air sungai Kalimas ke Perusahaan Daerah Air Minum. Sungai tersebut cukup terjaga, dan terbilang jernih untuk sebuah sungai di kota besar. Tapi itu hanya di Kalimas. Sungai-sungai lain di kota Surabaya keadaannya sama saja. Bikin perut mual jika melihatnya.

Nah, dengan kondisi sungai-sungai semacam itu dan budaya masyarakat setempat yang juga masih seperti itu dalam memandang sungai, upaya menutup sungai dengan jaring atau menjernihkannya dengan zat kimia tertentu adalah pekerjaan “sak krempyengan”, karena setelah itu, setelah Asian Games¬†selesai, sungai akan kembali menghitam.

Menjernihkan sungai secara permanen harus dengan cara menjernihkan otak kita terlebih dahulu. Setelah jernih dan waras, mulailah memperlakukan sungai dengan baik, dengan manusiawi, dan beradab. Tapi itu mustahil terjadi di Indonesia, karena bangsa ini masih sibuk berolok-olok antara satu dengan yang lainnya.

PURNAWAN BASUNDORO

Sejarawan Universitas Airlangga (Unair)

author