Sunday, July 14, 2024
spot_img
HomePolitikaTerkait Aksi "Tak Beretika" Cawapres Gibran, Pakar Ini Nilai Aksi Berlebihan Tak...

Terkait Aksi “Tak Beretika” Cawapres Gibran, Pakar Ini Nilai Aksi Berlebihan Tak Perlu Dalam Debat

Salah satu aksi atau gestur tubuh cawapres Paslon 02 Gibran Rakabuming Raka terhadap Mahfud MD yang dianggap kontroversial pada saat Debat Keempat perhelatan Pilpres 2024 di Jakarta Convention Center, Minggu (21/1/2024). (foto: ist)

SURABAYA – Debat keempat cawapres untuk perhelatan Pilpres 2024 telah berlangsung pada Minggu (21/1/2024). Debat tersebut tentu membuat ramai masyarakat dan netijen untuk membicarakannya terutama persoalan etika terkait aksi yang dianggap “tak beretika” cawapres paslon 02 Gibran Rakabuming Raka pada sosok Mahfud MD maupun ke Muhaimin Iskandar.

Terkait hal tersebut, pakar komunikasi politik Suko Widodo mengatakan bahwa sejatinya, debat merupakan tradisi di dalam demokrasi dan cara untuk menemukan kebaikan yang tepat. Sehingga tidak ada kata menang atau kalah di dalam perdebatan. Debat mencari pemikiran-pemikiran yang bagus. Agar dapat menjadi alat bagi masyarakat untuk menyeleksi calon pemimpin mereka.

“Bagaimana kita bisa mem-promote atau mempresentasikan ide-ide agar bisa diterima orang banyak dengan argumentasi-argumentasi,” ujarnya pada media ini.

Suko -sapaan akrabnya- menjelaskan bahwa selain tema yang jelas, debat memerlukan cara berkomunikasi yang benar. Semua yang dibicarakan harus menjadi jelas dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. Hal itu sangat perlu untuk sebuah diskusi dapat berjalan.

“Yang bicara harus mengerti sehingga peserta dan lawan bisa mengikuti alur berpikir. Sehingga nanti akan keluar argumentasi sanggahan atau usulan yang masuk akal terhadap ide itu,” imbuhnya Suko.

Tujuan dari debat, lanjutnya, adalah untuk mengadu pikiran, mengadu ide, serta mengadu gagasan. Maka dari itu, tema di dalam debat harus menjadi fokus atau consent dalam perdebatan.

“Gestur-gestur berlebihan itu tidak perlu di dalam suatu debat,” tukasnya.

Menurutnya, komunikasi itu menyangkut rasa dengan tiga unsur penting berupa logika, etika, dan estetika. Sehingga gaya komunikasi itu menjadi penting bagi calon pemimpin.

Banyak orang mengatakan bahwa penggunaan istilah itu merupakan sebuah strategi dalam debat. Menurut pakar komunikasi politik itu, penggunaan istilah itu memang benar adalah sebuah strategi, namun tidak berada pada level yang tinggi.

“Strategi debat itu terdiri dari level 1 sampai 6, mestinya semakin matang berpikirnya semakin bijak. Pengambilan policy itu pada level 6, bukan teknis atau level 1. Itu baru menunjukkan kualitas orang,” katanya.

Untuk mencapai komunikasi efektif di dalam debat, istilah-istilah harus dijelaskan dengan mantap kepada semua audiens dalam perdebatan. Ditopang dengan cara penyampaian yang benar, ide yang digagas akan tersampaikan kepada masyarakat.

“Sehingga masyarakat dapat menilai calon pemimpin yang akan mereka pilih pada 14 Februari mendatang,” pungkas dosen Ilmu Komunikasi FISIP Unair itu.

(pkip/mar/bti)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terbaru

Most Popular