Saturday, February 21, 2026
spot_img
HomeGagasanTerjebak Nostalgia

Terjebak Nostalgia

Di tengah perubahan sosial yang kian cepat, nostalgia muncul sebagai perasaan yang semakin akrab dalam kehidupan masyarakat. Ungkapan seperti “zaman dulu lebih baik” atau “dulu hidup lebih sederhana” terdengar berulang, baik dalam percakapan sehari-hari maupun di ruang publik. Nostalgia seolah menjadi tempat pulang emosional ketika realitas masa kini terasa melelahkan. Namun, ketika kerinduan pada masa lalu terlalu dominan, masyarakat berisiko terjebak nostalgia yakni hidup dalam bayangan ingatan alih-alih menghadapi tantangan zaman sekarang.

Dalam perspektif sosioantropologis, nostalgia bukan sekadar emosi personal. Ia adalah fenomena sosial yang berkaitan erat dengan perubahan struktur masyarakat, relasi antargenerasi, dan cara manusia memaknai waktu.

Sosiolog Prancis Maurice Halbwachs menyatakan bahwa ingatan manusia tidak pernah sepenuhnya individual. Melalui konsep collective memory, Halbwachs menegaskan bahwa kenangan dibentuk dan dipelihara oleh lingkungan sosial. Dengan kata lain, masa lalu yang kita rindukan sering kali merupakan masa lalu yang telah diseleksi secara sosial, yang diingat adalah kehangatan dan kebersamaannya, sementara konflik dan kesulitannya perlahan terlupakan.

Inilah sebabnya nostalgia kerap tampil dalam bentuk simbol budaya seperti lagu lama, tayangan televisi lawas, hingga narasi tentang masa kecil yang dianggap lebih “manusiawi”. Masa lalu menjadi konstruksi bersama, bukan sekadar pengalaman pribadi. Ia dibingkai sebagai ruang ideal yang kontras dengan masa kini yang dipersepsikan penuh tekanan.

Antropologi memandang nostalgia sebagai respons terhadap percepatan perubahan sosial. Modernisasi, urbanisasi, dan digitalisasi telah mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, dan membangun relasi. Perubahan yang terlalu cepat sering kali menimbulkan rasa kehilangan arah.

Antropolog Arjun Appadurai menyebut kondisi ini sebagai melemahnya kapasitas masyarakat untuk membayangkan masa depan. Ketika masa depan terasa tidak pasti, manusia cenderung menoleh ke belakang. Nostalgia kemudian berfungsi sebagai jangkar psikososial yang memberi rasa stabil di tengah dunia yang terus bergerak.

Dalam konteks ini, terjebak nostalgia bukan sekadar sikap sentimental, melainkan cerminan kecemasan kolektif terhadap masa kini. Masa lalu dipersepsikan sebagai ruang aman karena ia sudah selesai, tidak menuntut adaptasi baru.

Masalah muncul ketika nostalgia berubah menjadi romantisasi. Sosiolog Zygmunt Bauman, melalui gagasan liquid modernity, menjelaskan bahwa kehidupan modern ditandai oleh ketidakpastian dan kerapuhan. Dalam situasi seperti itu, masa lalu kerap dibayangkan sebagai era yang lebih solid dan bermakna.

Namun, romantisasi ini sering kali dipandang ahistoris. Setiap zaman memiliki problematikanya sendiri seperti keterbatasan akses pendidikan, ketimpangan sosial, atau ruang berekspresi yang sempit. Ketika masyarakat hanya mengingat sisi indah masa lalu, nostalgia kehilangan fungsi reflektifnya dan berubah menjadi ilusi.

Dalam skala sosial, romantisasi masa lalu dapat melahirkan sikap resisten terhadap perubahan. Pembaruan dipandang sebagai ancaman, bukan kebutuhan. Padahal, perubahan merupakan bagian tak terpisahkan dari dinamika kebudayaan.

Bijak Dalam Bernostalgia

Budaya populer hari ini menunjukkan bagaimana nostalgia telah menjadi komoditas. Film lama dihidupkan kembali, musik retro kembali tren, dan estetika “jadul” diproduksi secara massal. Antropolog budaya melihat fenomena ini sebagai bentuk komersialisasi ingatan.

Nostalgia tidak lagi sekadar perasaan, tetapi produk yang dijual. Kerinduan dikemas dan dipasarkan, sering kali tanpa ruang kritis. Akibatnya, masyarakat terus diajak mengulang masa lalu alih-alih membangun imajinasi masa depan. Dalam kondisi ini, nostalgia berpotensi menahan kreativitas sosial.

Terjebak nostalgia memiliki konsekuensi nyata. Pada tingkat individu, seseorang bisa kehilangan motivasi untuk beradaptasi dan berkembang. Pada tingkat sosial, nostalgia berlebihan dapat memicu stagnasi kultural dimana masyarakat enggan membuka diri terhadap gagasan baru karena terlalu terikat pada “kejayaan” yang telah lewat.

Lebih jauh, nostalgia yang tidak kritis dapat menciptakan jurang antargenerasi. Generasi muda dipaksa menyesuaikan diri dengan standar masa lalu, sementara realitas yang mereka hadapi sangat berbeda. Di sinilah nostalgia berisiko berubah menjadi alat penilaian, bukan sarana pemahaman.

Kajian sosiologi dan antropologi tidak menolak nostalgia. Sebaliknya, nostalgia dipahami sebagai bagian dari upaya manusia memberi makna pada waktu. Namun, nostalgia perlu ditempatkan secara proporsional yaitu sebagai sumber refleksi, bukan tempat berhenti.

Masa lalu penting untuk dipelajari, bukan ditinggali. Ia memberi pelajaran tentang nilai, kegagalan, dan keberhasilan. Tetapi masa kini tetap menjadi ruang utama bagi tindakan sosial. Hanya di masa kini manusia bisa mengambil keputusan dan membentuk masa depan.

Nostalgia adalah cermin, bukan tujuan. Ia membantu masyarakat memahami dari mana mereka berasal, tetapi tidak seharusnya menghalangi langkah ke depan. Terjebak nostalgia berarti membiarkan masa lalu mendominasi masa kini, padahal tantangan zaman menuntut keberanian untuk beradaptasi dan berinovasi.

Karena itu, di tengah perubahan yang tak terelakkan, masyarakat perlu membangun kesadaran historis yaitu mengingat masa lalu secara kritis, menjalani masa kini secara sadar, dan membayangkan masa depan secara kolektif. Sebab, masa depan tidak akan lahir dari kerinduan semata, melainkan dari keberanian untuk hidup dan bertindak di zaman sendiri. Semoga.(*)

 

DHAHANA ADI PUNGKAS

Akademisi dan Pemerhati Sejarah dan Budaya Populer Indonesia

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular