
SEOUL, CAKRAWARTA.com – Dunia akademik internasional diguncang kontroversi baru. Dua universitas paling bergengsi di Korea Selatan, Yonsei University dan Korea University, dilaporkan menggunakan strategi kontroversial untuk meningkatkan peringkat global mereka.
Investigasi terbaru mengungkap, kedua institusi tersebut diduga memanfaatkan celah dalam sistem “multiple affiliation” yaitu sebuah praktik di mana satu publikasi ilmiah dapat diklaim oleh beberapa institusi sekaligus. Dalam praktik ini, sejumlah peneliti asing diberi gelar akademik tanpa kewajiban tinggal atau mengajar di Korea Selatan.
Program ambisius Yonsei, yang dikenal sebagai Frontier Lab dan diluncurkan pada 2017, menjadi pusat perhatian. Program ini disebut menawarkan insentif hingga 30.000 dolar AS kepada peneliti luar negeri agar mencantumkan afiliasi Yonsei dalam karya ilmiah mereka. Tak lama setelah program ini berjalan, peringkat Yonsei dalam QS World University Rankings melonjak drastis, dari luar 100 besar menjadi posisi ke-70 dunia.
Sementara itu, Korea University juga menghadapi sorotan serupa melalui inisiatif bernama K-Club. Program ini melibatkan setidaknya 156 fakultas asing yang berkontribusi pada lebih dari 12% publikasi terbaru universitas tersebut. Dampaknya, posisi Korea University dalam Times Higher Education Rankings turut mengalami kenaikan signifikan.
Meski kedua universitas membela diri dengan menyebut program tersebut sebagai bentuk kolaborasi riset global modern berbasis jarak jauh, kritik terus mengalir. Para pengamat menilai minimnya keterlibatan fisik dan akademik di kampus menunjukkan praktik ini lebih menyerupai upaya memanipulasi sistem pemeringkatan ketimbang kolaborasi ilmiah yang autentik.
Kontroversi ini pun memicu perdebatan luas tentang integritas sistem pemeringkatan global, sekaligus mempertanyakan apakah reputasi akademik kini bisa “dibeli” di era kompetisi internasional yang semakin ketat.(*)
Kontributor: Rika
Editor: Rafel



