Wednesday, November 30, 2022
HomeGagasanSains Dan Keragaman Hayati

Sains Dan Keragaman Hayati

 

Salah satu tema besar perjalanan saya dalam Ekspedisi Indonesia Baru kali ini adalah menengok kembali kekayaan yang makin kita lupakan: keragaman hayati.

Kekayaan terpenting Indonesia bukan emas atau nikel, tapi biodiversitas.

Indonesia adalah negeri dengan biodiversitas tertinggi di dunia.

Kita punya spesies flora dan fauna dan ekosistem yang sangat beragam, dari gunung tinggi hingga laut, dari hutan tropis hingga pegunungan karts dan terumbu karang.

Keragaman hayati itu menjadi fondasi kehidupan ekonomi, sosial dan budaya manusia Kepulauan Indonesia sejak dulu kala. Alam adalah sumber inspirasi jati diri keindonesiaan.

Tapi, alam kita makin rusak. Keragaman hayati makin merosot.

Dari yang makin rusak tadi, syukurlah kita masih punya benerapa “etalase” keragaman hayati yang layak dilestarikan dan dikaji.

Ekspedisi Indonesia Baru akan mengeksplorasi setidaknya 20 taman nasional, 20 taman bumi dan 20 taman laut (terumbu karang) di berbagai penjuru Indonesia.

Serta menilik bagaimana alam dan manusia berinteraksi menghasilkan kegiatan ekonomi serta aktivitas sosial-budaya yang sangat beragam, dalam bentuk sandang (tenun), pangan (kuliner) maupun papan (arsitektur).

Tapi, liputan tentang kuliner dan kerajinan tradisional bukan sekadar untuk memenuhi hasrat romantisme masa silam.

Indonesia baru di masa depan, menurut saya, terletak pada bagaimana cara kita melestarikan dan mengelola keragaman hayati yang kita miliki.

Dengan jumlah penduduk dunia yang makin banyak, kebutuhan akan bahan dasar sandang, pangan, papan, kosmetik dan obat-obatan akan makin besar. Dan Indonesia punya modal besar untuk memenuhinya.

Ini bukan saja tantangan teknis budidaya dari menanam hingga panen. Ini menuntut visi baru dan kebijakan publik radikal kita dalam berbagai sektor-sektor penting seperti pertanian dan perikanan yang ironisnya makin melemah, yang akhir-akhir ini membuat kita justru menjadi bangsa pengimpor untuk berbagai kebutuhan pokok tadi.

Alam tidak cuma menawarkan hasil seketika dalam bentuk tanaman yang bisa dipanen atau satwa yang bisa disembelih.

Proses-proses alam, jika dipelajari, adalah sumber inspirasi terpenting dari sains. Dan sains adalah fondasi ekonomi masa depan.

Untuk maju ke masa depan kita perlu menengok ke masa silam serta menjejakkan kaki ke tanah dan air, merasakan beceknya hutan dan gunung, serta meresapi dinginnya sungai, danau, teluk, dan laut lepas.

Kita hanya bisa memanfaatkan pengetahuan dan sains dari alam jika alamnya sendiri lestari.

Mengembangkan sains berbasis alam dan keragaman hayati memberi kita insentif untuk melestarikan alam.

Kelestarian alam bisa mencegah mara bahaya seperti banjir, longsor dan kekeringan yang tidak hanya bikin orang celaka atau mati, tapi juga memicu kemiskinan struktural dan ketimpangan sosial-ekonomi terus-menerus.

Pengembangan sains berbasis alam yang dibarengi dengan upaya pelestarian juga memberi sumbangan yang berarti bagi umat manusia seluruh dunia di tengah isu pemanasan global dan perubahan iklim yang makin sengit.*

 

FARID GABAN

Ekspedisi Indonesia Baru

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular