Berita Terpercaya Tajam Terkini

Rumah Tjokro di Peneleh "Hidup" Lagi

0
Para Peserta Launching dan Bedah Buku "Rumah Guru Bangsa" Berfoto Bersama Penulis dan Panelis dengan Latar Rumah HOS Tjokroaminoto Jalan Peneleh VII, Surabaya, Jumat (20/11) malam.
Para Peserta Launching dan Bedah Buku “Rumah Guru Bangsa” Berfoto Bersama Penulis dan Panelis dengan Latar Rumah HOS Tjokroaminoto Jalan Peneleh VII, Surabaya, Jumat (20/11) malam.

SURABAYA – Gang sempit seperti digambarkan oleh Presiden pertama RI, Dr. (HC) Ir. H. Soekarno di Jalan Peneleh VII Jumat (20/11) malam terlihat ramai, mengingatkan pada Surabaya di awal abad ke-20 saat H.O.S Tjokroamninoto sering menghelat diskusi di rumahnya tersebut bersama tokoh-tokoh muda yang kelak jadi pembuat sejarah besar Indonesia.

Di rumah yang sempat menjadi “indekos” bagi Bung Karno, Sekarmaji Maridjan Kartosoewirjo, Alimin, Muso, dan Semaun tersebut diselenggarakan launching dan bedah buku “Rumah Guru Bangsa: Strategi Pendidikan Tjokroaminoto dalam Rumah Kost Soeharsikin, Soerabaya 1912-1922” karya Rintahani Johan Perdana, mahasiswa Pasca Sarjana Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Malang (UM).

Buku yang mengangkat pola dan strategi pendidikan Tjokroaminoto di Rumah Peneleh yang masyhur menghasilkan para tokoh dan guru bangsa ini diterbitkan oleh Pustaka SAGA, sebuah penerbitan asal Surabaya yang konsern menerbitkan  literasi pergerakan mahasiswa, kebangsaan dan topik ke-Islam-an.

Buku "Rumah Guru Bangsa: Strategi Pendidikan Tjokroaminoto dalam Rumah Kost Soeharsikin (1912-1922) terbitan Pustaka SAGA.
Buku “Rumah Guru Bangsa: Strategi Pendidikan Tjokroaminoto dalam Rumah Kost Soeharsikin (1912-1922) terbitan Pustaka SAGA.

Bedah buku Rumah Guru Bangsa yang di hadiri puluhan Mahasiswa dan pecinta sejarah ini dikupas secara tajam oleh Bustomi Menggugat, pegiat Kuliah Tjokroaminoto FISIP Universitas Airlangga dan Wawan Ismanto yang merupakan Manager Rumah Kepemimpinan PPSDMS Surabaya. Menurut Bustomi Menggugat, buku  Rumah Guru Bangsa yang mengupas strategi pendidikan di rumah kost Soeharsikin  ini memberikan khazanah baru literasi tentang tokoh Tjokromaninoto.

“Saya berharap buku ini memberikan prespektif baru tentang sosok tokoh Tjokroamnionoto yang tidak hanya dikenal sebagai politisi, tetapi juga sebagai seorang pendidik dan belum banyak dikenal khususnya oleh generasi muda,” ujar Bustomi kepada ratusan peserta diskusi yang hadir.

Sedangkan Wawan Ismanto sebagai praktisi yang bergiat di Rumah Kepemimpinan PPSDMS Regional Surabaya, sebuah lembaga yang konsern menyiapkan pemimpin bangsa seperti rumah kost milik Pak Tjokro dan Bu Soeharsikin di awal abad 20 berpendapat bahwa buku ini dengan tajam berhasil menggali nilai-nilai serta metode yang diterapkan Tjokroaminoto pada anak kostnya.

“Buku ini wajib dibaca oleh semua kalangan khususnya  aktivis pergerakan yang memiliki minat dalam pembinaan sumberdaya manusia berkualitas,” kata Ismanto yang juga alumni ITS itu.

Pada kesempatan yang sama, Arif Syaifurrizal selaku Direktur Pusataka SAGA menyatakan acara bedah buku yang dihelat di Rumah Tjokroaminoto di Jalan Peneleh VII ini diharapkan bisa memberikan wawasan baru bagi para peserta bedah buku. Selain itu menurut pria asal Bojonegoro itu, diharapkan dapat pula menggiatkan kembali budaya baca, tulis dan diskusi di kalangan pemuda Surabaya khususnya dan Indonesia pada umumnya.

(gas/bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.