Sunday, July 14, 2024
spot_img
HomeGagasanReview Film “Yang Tak Pernah Hilang”: Sinematografi Yang Mempesona!

Review Film “Yang Tak Pernah Hilang”: Sinematografi Yang Mempesona!

Dibuka dengan menampilkan rumah kontrakan di Kedung Tarukan II Nomor 22, Surabaya, yang kosong dan masih seperti hampir 30 tahun lalu cerita itu disusun.

Cerita “Yang Tak pernah Hilang” merupakan teks naratif yang tersusun berdasarkan cerita orang tua, saudara, teman semasa kecil, teman seperjuangan, teman yang mengenal setelah nama Herman Hendrawan dan Bimo Petrus Anugrah (Bimpet) dikampanyekan tanpa lelah, dan lainnya. Sebagai penonton film, saya sangat menikmati naratif ini sepanjang durasi 2 jam tanpa ingin membuka WhatsApp dan media sosial lainnya. Tentu saja karena saya seperti digigit dan merasakan rasa sakit, pedih, dan hanya satu kata yang bisa mewakili “Dancuk!” Bukan hanya saya, setelah film usai, seluruh penonton itu ingin segera keluar dari gedung XXI untuk apa? Merokok!! Entah perokok sejati atau palsu hanya diam dan mengepulkan asap rokok.

Sebuah teks naratif yang berhasil adalah yang mampu membawa penonton sampai pada “memahami” (verstehen). Makna “memahami” merujuk pada teks filsafat klasik Wilhem Dhiltey pendiri Ilmu Kemanusiaan adalah sebuah proses panjang. Dimulai dari merefleksikan (a) “pengalaman yang dihayati” oleh individu-individu atau berdasarkan subjektivitasnya, yang dalam teks ini merupakan orang-orang yang mengenal Herman dan Bimpet. Pengalaman yang dihayati individu terhadap Herman dan Bimpet membuat penonton tahu bahwa kedua kawan yang dipaksa hilang tersebut adalah seseorang yang sejak SMP sudah menunjukkan sikap kepedulian sosial dan kepemimpinan hingga dicintai oleh kawan-kawannya. Herman dan Bimpet selain seorang yang cerdas juga selalu terpanggil untuk membantu kawan-kawannya yang mengalami masalah.

Kemudian kita dapat membaca bagaimana masing-masing individu (b) mengekspresikan pengalaman yang dihayatinya bersama Herman dan Bimpet melalui pilihan diksi, ekspresi wajah dan tubuh, feeling, simbol-simbol fisik dan non-fisik, dan sebagainya. Eskpresi masing-masing individu ketika mengungkapkan pengalaman yang dihayati bersama Herman dan Bimpet sangat menarik, mengalir alami dan ekspresif. Mulai dari rasa bangga, kagum dan sekaligus sedih. Air mata dan diksi yang khas kultur Arek “Dancuk!” mengekspresikan campur aduk antara kepedihan dan sekaligus rasa kasih kepada kedua kawan tersebut. Cukup menarik, suasana itu ditunjang oleh simbol musik Melayu yang menggambarkan kultur islamis Pangkalpinang dimana Herman berasal, dan musik semi gregorian yang menggambarkan kultur kekatolikan Bimpet dan keluarganya di Malang. Seluruh ekspresi-ekspresi tersebut ditenun oleh seorang seniman yang sangat kuat karakternya (saya tidak tahu namanya) dalam menjiwai pengalaman yang dihayati masing-masing individu. Narator itu sangat-sangat indah dalam membangun gejolak emosi penonton melalui diksi-diksi puitik dan makian seperti “dancuk!”. Ekspresi kultur surabayaan sangat kental dalam naratif ini, justru itu menurut saya, membuat film ini memiliki roh atau jiwa!

Berdasarkan pengalaman yang dihayati dan ekspresi individu-individu yang menciptakan naratif tadi, sampailah kita pada (c) yang disebut “memahami” (verstehen) apa dan siapa Herman dan Bimpet, mereka dibesarkan dalam kultur seperti apa serta dalam konteks sejarah seperti apa pula mereka dipaksa hilang. Dengan demikian, kita tidak mengetahui tentang Herman dan Bimpet tetapi memahami ke dalam dasar subjetivitasnya. Herman dan Bimpet bukan objek dalam film sebagaimana umumnya film-film tentang pelanggaran HAM, tetapi lebih jauh, kita dibawa ke dalam dasar subjektivitasnya sebagai seorang pejuang.

Tidak berlebihan jika saya sangat hormat dan respek pada tim pembuat film, yang saya tahu, merupakan kolektif yang saling berperan sejak sebagai gagasan hingga merealisasikannya. Peranan setiap individu yang sesungguhnya memiliki pengalaman yang dihayati bersama Herman dan Bimpet mengkreasi sebuah karya seni yang mempesona. Sebagai sebuah teks naratif, film ini sangat kuat karakternya karena dibangun berdasarkan hubungan inter-subjektif satu-sama lain sehingga penonton pun menjadi bagian dari hubungan inter-subjektif itu sendiri.

Sebagai penutup: saya mernyerukan “Yuk tonton film ini!”

 

RUTH I RAHAYU

Doktor Filsafat STF Driyarkara

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terbaru

Most Popular