Saturday, April 4, 2026
spot_img
HomeGagasanKolomPulau Kharg Akan Menjadi Kuburan Massal bagi Marinir AS Jika Nekat Mendarat

Pulau Kharg Akan Menjadi Kuburan Massal bagi Marinir AS Jika Nekat Mendarat

Saya menulis ini dari tepi Situ Padengkolan. Air danau tampak tenang. Namun di Teluk Persia, badai tengah mengumpul. Saya mengikuti pemikiran Prof. Jiang Xueqin bahwa Amerika saat ini terjebak di Timur Tengah tanpa jalan keluar yang terhormat. Mundur? Bunuh diri politik. Sekutu akan lari ke China dan Rusia. Maju? Masuk ke lubang hitam. Situasinya serupa dengan Vietnam 1965.

Dan pintu masuk ke lubang hitam itu bernama Pulau Kharg.

Mengapa Pulau Kharg? Karena 90 persen minyak ekspor Iran melewati pulau ini. Dalam logika militer konvensional, merebut Kharg berarti melumpuhkan ekonomi Iran. Namun logika konvensional justru bisa menjadi bunuh diri di Kharg. Medannya mematikan. Pulau Kharg bukan pantai landai. Ini pulau berbatu dengan tebing curam, gua alami yang berfungsi sebagai bunker, serta posisi tembak tersembunyi. Iran membangun pertahanan di sini selama 40 tahun.

Doktrin Iran pun sangat adaptif. Mereka menyadari akan kalah di laut terbuka. Namun mereka hanya perlu menang di pulau. Di sana, teknologi AS akan tergerus oleh medan dan terowongan yang nyaris tak terbatas. Persenjataan Iran sudah mumpuni yaitu rudal anti-kapal supersonik, drone kamikaze Shahed-136 yang dapat datang dalam gelombang puluhan sekaligus, ranjau laut modern, serta pasukan khusus laut yang dilatih untuk pertempuran jarak dekat di medan berbatu.

Bayangkan satu brigade marinir AS (4.500-5.000 personel) mendarat hanya di dua titik pendaratan. Di atas kepala, drone berjatuhan. Di depan, ranjau. Dari laut, kapal induk dihantam rudal. Di dalam gua, pasukan Iran yang tidak akan mundur. Itu bukan pertempuran, melainkan penyembelihan massal.

Pelajaran dari Vietnam 1965 mengajarkan satu hal bahwa musuh tidak perlu menang di medan terbuka. Mereka hanya perlu membuat perang menjadi begitu mahal -dalam darah dan dolar- hingga publik Amerika menyerah. Iran belajar dari Vietnam, Afghanistan, dan Irak. Satu gambar marinir yang gugur di pantai Kharg akan tersebar ke seluruh dunia dalam hitungan menit. Pekan berikutnya, opini publik AS berbalik. Bulan berikutnya, Kongres memotong anggaran. Iran tidak perlu mengalahkan armada AS. Mereka hanya perlu bertahan lebih lama daripada kesabaran politik Washington.

Kemampuan Iran saat ini tidak bisa dianggap remeh. Rudal balistik mereka menjangkau 2.000 kilometer hingga ke seluruh pangkalan AS di Teluk dan Israel. Rudal hipersonik Fattah-2 diklaim mampu bermanuver di luar atmosfer. Lebih dari 10.000 drone siap diterbangkan. Pasukan proksi mereka tersebar di Lebanon, Irak, Yaman, dan Suriah. Hizbullah saja memiliki 150.000 roket. Di ranah siber, Iran telah menunjukkan kemampuan melumpuhkan infrastruktur kritikal AS. Dan yang terpenting, Iran tidak sendirian. China dan Rusia dengan mudah dapat memasok senjata sekaligus memberikan payung diplomatik di PBB.

Efek domino dari perang ini tidak akan berhenti di Teluk. China akan tersenyum lebar. Mereka tidak perlu mengirim tentara. Cukup membeli minyak diskon dari Iran, menunggu AS keluar dengan rasa malu, lalu masuk melalui diplomasi dan investasi Sabuk dan Jalan. Rusia pun diuntungkan. Setiap dolar AS yang habis di Timur Tengah adalah dolar yang tidak digunakan di Ukraina. Dan Indonesia? Harga minyak dapat menembus 200 dollar AS per barel jika Selat Hormuz ditutup. Subsidi energi akan jebol. Rupiah melemah. Harga kebutuhan pokok naik. Perang di Teluk pada akhirnya menjadi urusan dompet setiap warga Indonesia.

Yang tidak akan dikatakan Pentagon adalah ini, mereka mengetahui bahwa Pulau Kharg merupakan jebakan. Peta, simulasi, dan analisis intelijen telah lama menunjukkan betapa mengerikannya skenario tersebut. Namun opsi itu tetap dibicarakan karena tidak ada pilihan lain yang dianggap terhormat. Pilihan AS hari ini hanya dua yakni mundur dengan risiko kehilangan gengsi dan mengakui era hegemoni tunggal telah berakhir, atau maju ke Kharg dan menciptakan kuburan massal terbesar bagi marinir AS sejak Perang Dunia II. Tidak ada opsi ketiga.

Dari tepi Situ Padengkolan, saya berbisik bahwa para jenderal di Pentagon mungkin tengah membuka peta Pulau Kharg. Mereka menghitung kapal, pesawat, dan rudal. Namun mereka tidak menghitung darah. Saya cukup lama menjadi prajurit untuk memahami satu hal yaitu peta tidak pernah berdarah, tetapi tanah selalu haus. Pesan saya untuk komandan CENTCOM di Tampa jelas yakni jangan kirim anak buah Anda ke Kharg. Bukan karena mereka akan kalah, melainkan karena mereka akan mati untuk kemenangan yang tidak pernah ada. Mundur memang menyakitkan, tetapi kuburan massal di pulau asing adalah penyesalan yang abadi. (*)

MAYJEN TNI (PURN) FULAD

Penasihat Militer RI untuk PBB di New York (2017-2019)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular