Sunday, April 14, 2024
HomeGagasanPetisi 32, Sebuah Pesan Untuk Mengingatkan Rezim

Petisi 32, Sebuah Pesan Untuk Mengingatkan Rezim

foto20djoko20email204

Pada Rabu (9/7/2015) malam sudah rampung disusun “Petisi 32” di Tebet, Jakarta. Dibuat khusus untuk Presiden Jokowi, mereka tak menggunakan Nostradamus. Tak ada dukun. Tapi sepakat indikator ekonomi Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) yang dibuat Salamudin Daeng cukup meresahkan; jika tak ada upaya lebih keras, tanah air akan lebih gawat daripada perang saudara Meksiko atau krisis Athena, Yunani. Tak ada kata yang berbunyi “Jokowi harus mundur, atau gulingkan Rezim Jokowi!” Tapi semua sepakat, situasi dan kondisi yang ada saat ini sangat serius.

“Bagaimana kita harus mengungkapkan ini kepada Presiden?” tanya Bursah Zarnubi yang memimpin rapat dengan egaliter. Ada banyak orang hebat di situ, sejumlah doktor yang namanya dikenal luas di seantero aktivis. Disebut “Petisi 32”, karena ada 32 orang yang menjadi Ketua Pokja sekaligus pengendali petisi serial itu, termasuk saya.

Tadinya Hatta Taliwang bikin Whatsapp (WA), mengundang sejumlah tokoh nasional untuk “ngerumpi”. Ia beri nama WA itu “Peduli Negara”. WA itu didominasi anggota dan eks anggota DPR, tokoh masyarakat, para ahli, aktivis, politisi, hingga menteri. Lalu mengalirlah sejumlah masalah, dan berhenti pada kegagalan Rezim Jokowi menghadang resesi.

Apapun, saya suka rapat tadi malam. Tak ada penghujatan, memandang masalah Jokowi sebagai masalah bersama. Sebab, saya lebih suka “Petisi 32” itu layaknya esai George Orwell, di mana orang-orang bahu-membahu, menisbatkan diri sebagai brotherhood menghadapi kerasnya perang saudara di Meksiko. Tak ada penistaan, karena mereka bersaudara. Mungkin masih ada waktu untuk berdemo ke Istana Jokowi, besok atau lusa. Atau lebih satir menyaksikan Presiden Jokowi rubuh, seperti saya tulis tiga bulan lalu. Sesungguhnya, “Petisi 32” itu bukan apa-apa. Tak lebih dari gejolak debu di seantero tanah air yang sedang krisis, menderita. Dan, rakyat adalah debu. Debu Kekuasaan!

Dalam catatan “Petisi 32” tersebut, Menteri Keuangan masih bertengkar dengan Gubernur Bank Indonesia (BI) tentang sejumlah jalan keluar. Saya sendiri berpendapat, cuma ada satu jalan selamat: berutang sebesar-besarnya! Lalu duit ditangan itu ditabur ke pasar. Hasilnya, percepatan laju arus uang, perluasan penyerapan tenaga kerja, peningkatan daya beli dan mendongkrak kegiatan ekonomi yang lesu itu. Sebaliknya, dampak lanjutan, akan memicu inflasi besar-besaran jika upaya itu gagal. Siapa berani bertaruh?

Tapi BI beda pendapat dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). BI penjaga JUB (M) itu, ngeri dengan penambahan utangan. High risk! Tapi mana ada low risk dalam keadaan resesi? Anda tinggal pilih, mati dengan melawan, atau mati dengan mandah. Tak ada yang beresiko kecil saat ini. Perhatikan indikator dari AEPI dimana rapor merah Rezim Jokowi karena gagal menghadang resesi: utang luar negeri dengan kurs Rp. 13.300 /USD, segera bertambah jadi Rp. 3.987 triliun dari yang tadinya Rp. 2.700 triliun, bulan lalu. Utang ini baru sekitar 30%, dan bisa naik ke 70% PDB. Asal pemulihan itu bisa diperkirakan berhasil. Why not?

Kini, posisi pinjaman luar negeri pemerintah dan BI menurut mata uang utama Kwartal I Tahun 2015 adalah 132,755 miliar USD.  Utang multilateral ADB, Bank Dunia, IMF tumbuh menjadi 52,172 miliar USD pada kwartal I Tahun 2015. Utang luar negeri swasta Kwartal IV Tahun 2014 adalah 163,437 miliar USD, menjadi 165,305 miliar USD pada kwartal I Tahun 2015. Sementara itu, Surat Hutang Negara (SUN) yang merupakan biaya  untuk menjalankan pemerintahan tumbuh. Jika pada November 2014 sebesar Rp. 1,112,059  triliun maka pada Mei 2015 menjadi Rp. 1,190,694 triliun.

Mari kita lihat cadangan devisa pada Mei 2015 yang sebesar 110,8 miliar USD. Dari data yang ada, terjadi surplus neraca perdagangan nonmigas lebih rendah akibat turunnya ekspor nonmigas yang negatif 8,0% (YoY). Sedang defisit pendapatan primer pada kwartal 1 Tahun 2015 ini adalah 6,520 miliar. Investasi langsung Kwartal I, 2015 adalah 2,320 miliar USD, lebih rendah ketimbang Kwartal IV, 2014, yang Rp. 2,998 miliar USD.

Transaksi bayar via Real Time Gross Settlement (RTGS) dan kliring menurun. Resiko kredit perbankan: Non Performing Loan (NPL) dan  rasio cicilan utang terhadap pendapatan atau Debt Service Ratio (DSR) rumah tangga meningkat.

Data finansial tadi, segera menakutkan ekonom Jokowi, masalah sebenarnya kegagalan menghadang resesi ada di diri rezim Jokowi. Mereka yang berasal dari eksponen Neolib murni, segera ketakutan untuk mengguyur pasar dengan utangan karena berakibat inflasi. Para ekonom Neolib, ditandai dengan fobia terhadap push up inflation. Untungnya domino efffect kini berjalan evolusioner, masih punya kesempatan untuk konsolidasi, portofolio maupun pasar, tapi toh gagal dihadang! Berbeda dengan periode Juli 1997 dimana revolusioner, kurva patah, dari kurs Rp. 2.200 dalam dua bulan menjulang ke Rp. 15.000 dan berhenti pada Rp. 12.000 Mei 1998 ketika Presiden Soeharto lengser ke prabon.

Kelompok masyarakat yang menyebut diri “Petisi 32” ini, dapat saya klasifikasikan sebagai kumpulan idealis. Mereka menamakan dirinya rakyat, sehingga “Petisi 32” ini bernama lengkap “Petisi 32 Rakyat Indonesia”. Kelompok ini kuat, terbesar nasional, sebab yang jadi anggota adalah pemilik jaringan aktivis berskala nasional. Tak merasa besar, seperti debu, mereka hanya ingin menyampaikan penderitaan rakyat yang makin merintih berat jika Rezim Jokowi kian gagal dalam menghadang resesi ini.

Tak ada ramalan untuk Rezim Jokowi jika terus gagal, namun prediksi ekonomi bukanlah dukun atau Nostradamos. Itu keniscayaan politik. “Petisi 32” ini seperti debu, akan beterbangan ke mana-mana, sambil menjeritkan suara debu. Debu yang menyakitkan, tatkala badai resesi menghalaunya, sudah pula terlambat untuk membaca pembukaan konstitusi –  ketika lapar menyerang tengah malam.

DJOKO EDHI S. ABDURRAHMAN

Anggota DPR RI F-PAN Periode 2004-2009

Direktur Eksekutif LBH DESA

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular