Sunday, March 3, 2024
HomePolitikaNasionalPertemuan Presiden Jokowi dan GNPF MUI Dinilai Tepat

Pertemuan Presiden Jokowi dan GNPF MUI Dinilai Tepat

Presiden Joko Widodo bersalaman dengan Ketua FPI DKI Jakarta, Habib Muchsin Alatas (gamis putih) seusai pertemuan 30 menit antara Presiden dengan Tim 7 GNPF MUI pada Minggu (25/6/2017) kemarin. Habib Muchsin Alatas adalah salah satu anggota Tim 7 yang diterima dan berdiskusi dengan Presiden Jokowi.
Presiden Joko Widodo bersalaman dengan Ketua FPI DKI Jakarta, Habib Muchsin (gamis dan bersorban putih) seusai pertemuan 30 menit antara Presiden dengan Tim 7 GNPF MUI pada Minggu (25/6/2017) kemarin. Habib Muchsin adalah salah satu anggota Tim 7 yang diterima dan berdiskusi dengan Presiden Jokowi.

 

TANGERANG – Respon terhadap pertemuan high politics antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan pihak Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) terus bermunculan. Banyak yang tidak menyangka sehingga bersikap kontra tetapi tak sedikit yang mencoba mengapresiasi langkah strategis tersebut. Salah satunya adalah tokoh nasional Rahman Sabon Nama yang sedari awal getol melakukan upaya rekonsiliasi antara Presiden dan pihak ulama.

Ditemui di kediamannya di Ciputat, Tangerang Selatan pada Senin (26/6/2017), Rahman Sabon nama mengatakan bahwa pertemuan tersebut merupakan momentum yang tepat untuk saling menjaga ukuwah dan kesatuan serta persatuan nasional.

Pertemuan tersebut menurut Rahman Sabon adalah lanjutan dari pertemuan sebelumnya dengan ulama dan pimpinan pondok pesantren se-Indonesia, yang diprakasai oleh pihaknya dan Menkopolhukam Jenderal (Purn.) TNI Wiranto pada Maret lalu.

“Yah, ini lanjutannya saya kira. Karena dulu, Presiden menjanjikan akan melakukan pertemuan khusus dengan GNPF MUI dan alhamdulilah janji itu telah dipenuhi dan dilakukan pada momentum yang tepat 1 Syawal, Idul Fitri 1438 H untuk kita saling bermaafan,” ujar Rahman Sabon Nama.

Tetapi, terlepas dari sikap pro dan kontra atas pertemuan, menurut Rahman Sabon ini merupakan moementum untuk tidak lagi membuat kegaduhan dengan menciptakan image dan membenturkan Presiden Jokowi dengan Islam. Dirinya berharap jangan ada lagi menciptakan politik adu domba dengan ulama dan Islam dan non Islam, dengan isu SARA, anti pancasila dan kebhinekaan.

“Saya kira permainan seperti adu domba akan sia sia karena rakyat dan ulama sudah cerdas sehingg tidak mau diadu domba untuk membuat chaos negeri ini,” tegas pria kelahiran NTT tersebut.

Rahman Sabon Nama justru berharap pasca pertemuan GNPF MUI dengan Presiden, agar ulama dan umat Islam tidak lagi terpancing adanya adu domba dengan isu SARA dan kebhinekaan, anti Pancasila dan negara Islam.

Presiden bertindak tepat, cepat dan seksama untuk melakukan pertemuan kebangsaan ini dalam rangka menciptakan kondusivitas dan stabilitas nasional. Apalagi momennya tepat. Saya apresiasi langkah strategis ini,” pungkas Rahman Sabon.

(bm/bti)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular