Friday, January 27, 2023
HomeEkonomikaPerang Dagang Microchips Dan Baterai, Fahd BAPERA: Indonesia Harus Ambil Peran Penting!

Perang Dagang Microchips Dan Baterai, Fahd BAPERA: Indonesia Harus Ambil Peran Penting!

 

Ketua Umum DPP BAPERA Fahd El-Fouz A Rafiq. Ia mengatakan Indonesia harus bersiap mengambil peran dalam perang dagang new oil. (foto: istimewa)

“Dua benda era digital yang sangat penting yaitu microchips semi konductor dan baterai adalah energi baru yang lebih praktis (new oil). Indonesia memiliki bahan baku utamanya. Langkah selanjutnya yang harus kita tempuh adalah siapkan SDM dan teknologi didukung regulasi, pendanaan dan insentif pajak. Jika kita konsisten jalani ini, otomatis kita akan lebih unggul dari negara Amerika Serikat, Tiongkok dan India. Mengapa lebih unggul? Karena kita punya bahan baku dan semua ada di Bumi Nusantara.”
(Fahd El-Fouz A Rafiq, Ketua Umum DPP BAPERA)

MEKKAH – Ketua Umum DPP Barisan Pemuda Nusantara (BAPERA) Fahd El-Fouz A Rafiq memberikan catatan terkait fenomena gencarnya promosi kendaraan listrik yang dilakukan pemerintah. Ia melihat ada problem yang tengah dihadapi oleh para pelaku usaha yang paling gencar promosi yakni mengenai stok microchips dan baterai.

“Apakah anda dalam beberapa bulan ini sedang membeli mobil listik? Jangan heran kalau jawabannya indent, karena tidak ready stok. Hal ini terjadi di seluruh dunia, ada apa? Karena langkanya microchips dan baterai yang berakibat naiknya harga,” ujar Fahd langsung dari Mekkah melalui sambungan telepon, Selasa (17/1/2023).

Sementara itu, Fahd melihat, dalam dunia otomotif beberapa perusahaan besar seperti Toyota, Honda, Nissan, Mitsubishi, Volkswagen, dan Ford memotong produksi mereka pada 2022 lalu.

“Toyota 2022 dan 2023 memangkas produksinya sebesar 20%. Honda memangkas 40%. Semua produsen otomotif memangkas produksinya. CEO VW menyatakan masalah chips bisa sampai akhir tahun 2023 bagi dunia otomotif. Efek kelangkaan chips membuat Ford Motor merugi sebesar 3 Billion Dollar di 2022,” imbuhnya.

Menurut Fahd, pandemi Covid-19 membuat mayoritas manusia di bumi tinggal di rumah dan memerlukan gadget sehingga industri ini menyedot 80% chips dunia.

“Ketika dunia berjalan seperti sekarang dalam kondisi normal. Industri otomotif yang paling kekurangan chips, karena order-nya sudah diambil industri gadget,” tandasnya.

Mantan Ketum PP AMPG ini memaparkan bahwa canggihnya era digital informasi membuat microchips semi conductor hanya diproduksi oleh 5 negara yaitu Taiwan, Tiongkok, Amerika, Jepang dan Korea Selatan.

“Taiwan penghasil 50% chips dunia, kalau Tiongkok  ke depannya berhasil ambil Taiwan maka 70% microchips semi conductor berada dibawah kendali Tiongkok. Setelah Tiongkok menguasai perdagangan dunia langkah selanjutnya menguasai teknologi yang mana teknologi tercanggih saat ini masih dipegang oleh Amerika,” paparnya.

Fahd menjelaskan bahwa efek negatif keterbatasan chips ini sangat dirasakan oleh bisnis otomotif, dimana 3% global economics output adalah kontribusi industri otomotif. Meskipun menurutnya angka 3% terlihat kecil namun beberapa negara bergantung pada industri otomotif.

“Negara Ceko itu tergantung pada dunia otomotif, karena GDP-nya 9% didapat dari dunia otomotif. Slovakia GDP-nya bergantung 13% pada dunia otomotif karena ekspor mereka adalah part dari otomotif. India 7% GDP nasionalnya dari dunia otomotif yang meng-cover 30 juta tenaga kerja. Memang ngeri industri ini,” tukas putra penyanyi dangdut A Rafiq itu.

Pentingnya Insentif Pada Pelaku Usaha Microchips Dan Baterai Nasional

Karena itulah, menurut Fahd, Indonesia sebagai penghasil bahan baku chips seperti tembaga, aluminium dan mineral lainnya harus mampu mengambil peran. Caranya bisa dengan memberi insentif untuk perusahaan pembuat microchips.

“Salah satu syarat sebuah negara ingin maju adalah dengan menguasai teknologi dan itulah pesan yang selalu didengungkan mendiang Presiden BJ Habibie,” sebutnya.

Mantan Ketum DPP KNPI itu memberikan contoh kebijakan insentif yang dapat diberikan oleh pemerintah seperti insentif bebas pajak, permodalan dan perizinan yang mana dengan kebijakan tersebut Fahd yakin Indonesia bisa menjadi produsen 20% chips dunia.

“Amerika memberikan insentif tahun 2023 sejumlah 50 Billion Dollar, India memberikan 20 billion dollar untuk membangun lembaga riset dan produksi microchips. Untuk baterai, Tiongkok, Amerika dan India berebut memberikan insentif baik manufaktur maupun mereka yang menciptakan komposisi baru dengan jumlah ketiganya jika ditotal di 2023 ini mencapai angka 100 Billion Dollar untuk insentif industri baterai. Kenapa mereka sebegitunya? Karena kedua industri ini sejak 2019 hingga saat ini naik 407% kebutuhannya dan diperkirakan 5 tahun ke depan naik 300%,” ulasnya.

Sementara itu, terkait industri baterai dimana saat ini terbanyak ada unsur nikelnya, namun baterainya berat dan mulai digeser ke komposisi lain dikarenakan harganya yang terus naik, lalu karena faktor cobalt-nya bermasalah. Hal ini tak lepas dari keluarnya data berjatuhannya korban 2.000 anak usia 6-12 tahun tiap tahunnya di Kongo untuk mengambil cobalt di kedalaman 10 meter lobang kecil yang tak cukup oksigen.

“Makanya baterai Nikel Lithium Cobalt dikatakan baterai berdarah. Aktivis lingkungan tidak mendukung mobil EV energi terbarukan tersebut yang berbasis Cobalt sebagai solusi lingkungan, karena menyimpang dari nilai-nilai kemanusiaan,” paparnya.

Karenanya, menurut Fahd penggunaan Nikel Lithium Cobalt diubah menjadi Ferro Lithium Phospate, dimana Ferro dan Phospat adalah unsur yang murah dan banyak tersedia dimanapun sehingga tak lagi memerlukan nikel. Meskipun perusahaan raksasa teknologi sekelas Tesla, menurut Fahd, mulai mengubah lagi Game Changing-nya dan berganti pakai manganese yang dinilainya lebih murah, lebih banyak dan ringan.

Penjelasan panjangnya, menurut Fahd, menandaskan sinyal kuat bahwa dunia tengah berada dalam masa transisi dan beralih ke energi baru.

“Karena itu, kita harus siap menghadapi era baru. Pertarungan untuk merebut new oil ini sedang berlangsung dalam bentuk perang yang sesungguhnya. Negara mana yang menang perang maka dialah yang akan mengendalikan dunia,” pungkasnya Ketua Bidang Ormas DPP Partai Golkar ini.

(asw/bus/bti)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular