Pemuda Surabaya Dorong Pengesahan Perda Kepemudaan Untuk Mendukung Iklim Cipta Kerja

0
Akademisi Unair Noven Suprayogi dan pengusaha muda Fahmi Angriawan saat menjadi pembicara dalam diskusi daring mengenai isu kepemudaan yang diadakan oleh Kaukus Pemuda Surabaya, Senin (20/9/2021) malam. (foto: istimewa)

SURABAYA – Pandemi Covid-19 dan kemajuan teknologi secara nyata menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pemuda terutama berkaitan lapangan pekerjaan. Hal ini menjadi bahan diskusi sekaligus upaya menawarkan solusi yang diselenggarakan oleh Kaukus Pemuda Surabaya. Bekerja sama dengan Bara Institute diskusi yang diselenggarakan secara daring pada Senin (20/9/2021) itu menghadirkan akademisi Universitas Airlangga Noven Suprayogi, S.E., M.Si., Ak. dan pengusaha muda Fahmi Angriawan, S.H., M.M., serta dimoderatori oleh advokat muda Himas el Hakim, S.H., C.L.A.

Noven yang merupakan pengajar dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis tersebut menerangkan bahwa pandemi menuntut adanya akselerasi atau percepatan baik bagi individu, masyarakat maupun negara untuk berubah dan beradaptasi. Hal ini juga tidak lepas dari tren perkembangan teknologi yang menurutnya akan menghilangkan beberapa lapangan pekerjaan tradisional namun juga sekaligus menciptakan pekerjaan yang benar-benar baru.

“Anak muda harus mampu menjadi relevan dengan terus mempelajari kemampuan dan pengetahuan yang tidak hanya dibutuhkan saat ini tapi juga 10 hingga 20 tahun ke depan,” tegas Noven.

Sementara itu, Fahmi Angriawan juga menilai bahwa pengusaha tidak bisa lepas dari ujian kemajuan zaman yang juga ditambah dengan kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia. Pengusaha muda yang bergerak di sektor kuliner ini menjelaskan bahwa tidak sedikit bisnis yang gulung tikar sehingga gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) bahkan terhadap pekerja dengan kemampuan tinggi sekalipun. Haltersebut menurut Fahmi bisa menjadi peluang karena pekerja berkualitas yang di-PHK tentu bisa direkrut oleh usaha-usaha rintisan khas anak muda. Kondisi inilah yang mendorong Fahmi kepada anak muda untuk memulai bisnis sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya meski berskala mikro.

“Hal yang harus diperhatikan bagi anak muda dalam berbisnis adalah menemukan alasan yang sangat kuat, kemudian memiliki mentor atau guru bisnis sekaligus komunitas. Dan tentu saja meningkatkan kapasitas dengan investasi leher ke atas yakni belajar ilmu bisnis, sebelum memutuskan terjun dalam dunia bisnis,” ujarnya.

Himas el Hakim selaku Direktur Bara Institute sekaligus memoderatori acara menegaskan bahwa kondisi pandemi maupun tantangan pekerjaan manusia yang diambil alih oleh teknologi harus disikapi dengan berani oleh anak muda. Selain itu, Hakim menguatkan gagasan dari Noven dan Fahmi perlunya mendorong peran serta semua pihak agar lapangan pekerjaan bagi anak muda aman terkendali.

“Kami menilai, Pemerintah Kota Surabaya sendiri harus segera mengesahkan Perda Kepemudaan agar akselerasi kemampuan dan kemandirian anak muda Surabaya didukung oleh kebijakan konkret, bukan hanya khayalan isap jempol semata,” tegasnya mengakhiri diskusi.

(bus/bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.