Sunday, July 14, 2024
spot_img
HomeSosial BudayaPemerintah-Muhammadiyah-NU Serempak Rayakan Idul Adha, Pakar: Momentum Tonjolkan Solidaritas!

Pemerintah-Muhammadiyah-NU Serempak Rayakan Idul Adha, Pakar: Momentum Tonjolkan Solidaritas!

ilustrasi. (foto: istimewa)

Surabaya, – Hari ini, Senin (17/6/2024) sebagian besar umat Islam termasuk ormas terbesar NU dan Muhammadiyah di Indonesia, serempak dan bersama-sama jadwal resmi Pemerintah merayakan Hari Raya Idul Adha 1445 H. Meskipun berbeda dengan Pemerintah Arab Saudi yang telah mendahului pada Minggu (16/6/2024), esensi kebersamaan sangat terasa pada perayaan momen yang kerap akrab di telinga masyarakat sebagai hari Raya Kurban itu.

Menurut pakar Unair, Dr. Mochtar Lutfi, S.S., M.Hum., Idul Adha sendiri mengandung dua esensi. Pertama, memberikan pengorbanan terbaik. Sesuai dengan cerita Nabi Ibrahim AS yang diminta Allah SWT untuk mengorbankan anak tunggalnya. Kedua, sebagai bentuk upaya mendekatkan diri dengan Tuhan. Dengan harapan perilaku semakin lebih baik.

“Sepakat dengan penjelasan Pak Quraish Shihab yang memberikan gambaran pada zaman Nabi Ibrahim, bahwa masyarakat saat itu memberikan kurban terbaik yang dimiliki untuk Tuhan,” ujarnya pada media ini.

“Sebagai upaya untuk mendekatkan diri dengan Allah, maka penilaiannya bukan berapa harga kurban. Akan tetapi, mengorbankan sikap buruk untuk menjadi lebih baik,” imbuhnya.

Idul Adha di Indonesia juga menjadi menarik, lanjut Lutfi, karena bertepatan juga dengan dilaksanakan ibadah haji. Maka, masyarakat menyambut Hari Raya Idul Adha dengan lebih semangat. Bahkan, takbiran Idul Adha lebih meriah daripada Idul Fitri.

Pakar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Dr. Mochtar Lutfi, S.S., M.Hum. (foto: unair)

“Kalau Idul Fitri kan konteks individual lebih menonjol. Jika Idul Adha kan ada berbagi daging kurban, menyembelih bersama, dan nggak mungkin satu kurban itu untuk satu orang sendiri,” tuturnya.

Lutfi mengatakan, memang terdapat perbedaan pendapat terkait kurban yang seharusnya seperti apa. Di lingkungannya Sidoarjo, kurban lebih fleksibel. Masyarakat non-muslim juga mendapat jatah daging kurban, sehingga Idul Adha juga dapat menjadi momen toleransi antar umat beragama di Indonesia.

“Mungkin situasi sekarang tidak seperti yang diharapkan. Jadi, harus diingat semua yang terjadi di dunia selalu ada campur tangan Tuhan. Maka, ini menjadi motivasi kita untuk mengorbankan yang terbaik dan berguna bagi banyak orang,” pungkasnya.

(khefti/rafel)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terbaru

Most Popular