Thursday, February 22, 2024
HomeEkonomikaPemerintah Kerap Gagal Penuhi Target Pertumbuhan Ekonomi, Komisi XI: Hati-Hatilah Dalam Berasumsi!

Pemerintah Kerap Gagal Penuhi Target Pertumbuhan Ekonomi, Komisi XI: Hati-Hatilah Dalam Berasumsi!

Wakil Ketua Komisi XI DPR RI bidang keuangan dan perbankan, Achmad Hafisz Tohir.
Wakil Ketua Komisi XI DPR RI bidang keuangan dan perbankan, Achmad Hafisz Tohir.

JAKARTA – Kamis (7/9/2017) dilakukan pembahasan tentang asumsi makro Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2018 antara Komisi XI DPR RI bersama pemerintah.

Dalam pembahasan tersebut, sebagai salah satu perwakilan pemerintah yang ikut hadir dalam rapat kerja, Bappenas menyebutkan bahwa Penanaman Modal Asing (PMA) terhadap investasi relatif menurun. Pada 2015 angkanya mencapai 67,10% dan mengalami penurunan sebesar 2,38% menjadi 64,72% bahkan posisi pada bulan Juni 2017 makin menurun menjadi hanya 61,45%.

Dalam kesempatan itu, Wakil Ketua Komisi XI, Achmad Hafisz Tohir menyoroti turunnya minat investor asing untuk berbisnis di Indonesia itu.

“Penurunan investasi PMA ini tidak sejalan dengan peningkatan ranking daya saing infrastruktur Indonesia yang trend-nya telah membaik,” ujar Achmad Hafisz Tohir, Kamis (7/9/2017) malam.

Menurut politikus PAN tersebut, arah kebijakan ekonomi makro adalah soal pertumbuhan ekonomi, stabilitas 
ekonomi dan pertumbuhan ekonomi inklusif yang terus membaik. Hal tersebut dapat tercapai apabila pemerintah mampu meningkatkan daya saing Indonesia untuk menarik lebih banyak lagi investasi asing.

“Nah tugas pemerintah adalah bagaimana menciptakan daya saing bangsa yang dengannya diharapkan investor asing kembali tertarik menanamkan modalnya di dalam negeri,” imbuhnya.

Semnetara itu, rencana pemerintah sebagaimana diungkap Bappenas dalam upaya menurunkan gini ratio yang akan mengeluarkan kebijakan pertanian dan pengembangan ekonomi produktif melalui reformasi agraria dinilai Achmad Hafisz justru membingungkan.

“Langkah-langkah kebijakan yang akan diambil pemerintah justru kontradiktif dengan proyeksi pertumbuhan sektor ekonomi kita yang hanya 3,7% di tahun 2018,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, perwakilan pemerintah lainnya yakni Badan Pusat Statistik (BPS) juga mengungkap data mengenai inflasi Year on Year (YoY) Agustus 2017 yang sebesar 3,82% justru lebih tinggi dibandingkan inflasi pada 2015 yang berada di angka 3,35% maupun inflasi pada 2016 yang bahkan menyentuh angka 3,02%.

“Situasi ini dapat dijadikan indikasi potensi melambungnya angka inflasi di akhir 2017,” kata Achmad Hafisz.

BPS juga memaparkan pertumbuhan ekonomi triwulan II YoY sebesar 5,01% dimana lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun 2016 yang berada di angka 5,18%.

“Pertumbuhan yang rendah ini harus menjadi sinyal bagi Pemerintah untuk meningkatkan upaya perbaikan ekonomi,” ujar politikus PAN tersebut mengingatkan,

Karenanya, masih menurut Achmad Hafisz Tohir, Komisi XI DPR RI menyarankan agar Pemerintah dalam menjalankan kebijakan-kebijakannya harus dengan azas kehati-hatian sehingga tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama, yaitu tidak tercapainya target yang ditetapkan lantaran terganjal setumpuk asumsi yang meleset dan langkah-langkah kontraproduktif.

(bm/bti)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular