Muktamar NU Semarak dengan Pameran dan Kajian Manuskrip Ulama Nusantara

Rapat konsolidasi Nahdlatut Turots di Lesehan Lasiyem, Kaliwungu, Jombang, Rabu (13/8/2026). (foto: Mukani)

JOMBANG, CAKRAWARTA.com –Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, tidak hanya menjadi forum organisasi dan pergantian kepemimpinan. Sejumlah kegiatan yang mengangkat khazanah keilmuan Islam Nusantara juga disiapkan untuk menyemarakkan Muktamar yang berlangsung pada 27-31 Agustus 2026.

Berbagai kegiatan terkait turots atau khazanah manuskrip keilmuan ulama Nusantara tersebut dibahas dalam pertemuan konsolidasi Nahdlatut Turots di Lesehan Lasiyem, Kaliwungu, Jombang, Rabu (13/8/2026). Kegiatan itu melibatkan sejumlah pengasuh pesantren, pegiat manuskrip, dan pengurus Nahdlatut Turots.

Dewan Pembina Nahdlatut Turots KH Ahmad Tajul Mafakhir, Ketua Nahdlatut Turots KH Mohammad Utsman, Ketua Panitia Ayung Notonegoro, serta jajaran Nahdlatut Turots hadir dalam pertemuan tersebut. Dari pihak tuan rumah, hadir KH Ahmad Lathif Malik dan KH Abdul Wahab Yahya.

KH Mohammad Utsman mengatakan sedikitnya enam kegiatan akan digelar selama Muktamar NU. Seluruh agenda tersebut berfokus pada turots, terutama manuskrip kuno yang menjadi bagian dari warisan intelektual ulama Nusantara.

“Kesemuanya terkait dengan turots, manuskrip kuno dari para kiai seluruh Nusantara,” ujar Utsman dalam keterangannya, Kamis (13/8/2026) malam.

Menurut dia, enam agenda tersebut terdiri atas pameran turots, dauroh tahqiq, klinik turots, musyawarah besar, ijazahan sanad keilmuan, dan seminar. Rangkaian kegiatan itu dirancang tidak hanya untuk memperkenalkan manuskrip kepada masyarakat, tetapi juga mempertemukan para pegiat, peneliti, pesantren, dan perguruan tinggi yang selama ini bergerak dalam kajian khazanah intelektual Islam Nusantara.

Ketua Panitia Ayung Notonegoro mengatakan pameran turots akan digelar di sekitar makam KH Abdul Hamid Hasbullah, tepatnya di depan GOR Hasbullah Said. Pameran berlangsung selama pelaksanaan Muktamar, mulai Kamis (27/8/2026) hingga Senin (31/8/2026).

Di lokasi yang sama juga akan dibuka klinik turots. Kegiatan tersebut antara lain menghadirkan kelas preservasi mengenai cara merawat manuskrip, digitalisasi manuskrip, serta konsultasi bagi masyarakat yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai khazanah turots.

Menurut Ayung, kegiatan tersebut penting karena manuskrip bukan hanya benda lama yang memiliki nilai sejarah. Di dalamnya tersimpan pengetahuan, pemikiran, dan jejak intelektual ulama yang perlu dirawat sekaligus dikembangkan melalui metode kajian yang sesuai dengan perkembangan teknologi.

“Dengan klinik ini, masyarakat tidak hanya bisa melihat manuskrip, tetapi juga mendapatkan pengetahuan mengenai cara merawat, mendokumentasikan, dan mendigitalisasikannya,” katanya.

Dari Tahqiq hingga Ijazahan Sanad

Selain pameran, Nahdlatut Turots menyiapkan dauroh tahqiq di Pesantren Hidayatul Qur’an, Peterongan, Jombang. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung selama dua hari, Jumat dan Sabtu.

Ayung mengatakan minat peserta terhadap kegiatan tersebut cukup tinggi. Panitia menyediakan kuota 40 peserta, sementara pendaftar telah mencapai 135 orang. Panitia selanjutnya melakukan seleksi untuk menentukan peserta yang akan mengikuti pelatihan.

Agenda lain berupa musyawarah besar akan berlangsung Sabtu (29/8) siang di Pondok Al-Muhajirin 3 Bahrul Ulum Tambakberas. Forum tersebut diproyeksikan menjadi ruang silaturahmi sekaligus pertukaran pengalaman para pegiat turots dari berbagai daerah.

Sedikitnya 200 pegiat turots dari berbagai wilayah Nusantara diperkirakan hadir dalam forum tersebut.

Ayung berharap musyawarah tersebut dapat menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai berbagai upaya pelestarian, penelitian, dan pengembangan manuskrip yang telah dilakukan di daerah masing-masing.

“Muktamar NU tidak hanya soal pergantian kepemimpinan, tetapi juga diharapkan mampu memperkuat citra keilmuan,” ujarnya.

Pada Sabtu (29/8/2026) malam, kegiatan dilanjutkan dengan ijazahan sanad keilmuan di Masjid Induk Tambakberas. Panitia mengundang sekitar 50 kiai sepuh dari dalam dan luar negeri untuk memberikan ijazah sanad kepada peserta.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan seminar turots di Aula MAN 3 Tambakberas Jombang pada Minggu (30/8). Seminar tersebut diperkirakan diikuti sedikitnya 300 peserta dari kalangan pesantren, perguruan tinggi, ma’had aly, hingga kolektor manuskrip.

Sejumlah guru besar dari dalam dan luar negeri dijadwalkan menjadi narasumber. Seminar akan membahas tiga tema utama, yakni kekayaan turots Nusantara, NU dan turots, serta upaya internasionalisasi turots.

“Ketiga tema panel itu akan dibahas sejak pagi hingga sore,” kata Ayung.

Perwakilan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, KH Ahmad Lathif Malik, mengapresiasi rangkaian kegiatan yang disiapkan Nahdlatut Turots. Menurut dia, kehadiran agenda yang berfokus pada turots memberikan dimensi keilmuan dalam pelaksanaan Muktamar NU.

“Terima kasih Nahdlatut Turots akan menggelar berbagai kegiatan selama Muktamar NU. Tentu akan memiliki nilai keilmuan yang kuat,” ujar Lathif.

Rangkaian kegiatan tersebut sekaligus menegaskan bahwa Muktamar NU di Tambakberas tidak hanya menjadi momentum organisasi, tetapi juga ruang untuk merawat, mengkaji, dan memperkenalkan kembali warisan intelektual ulama Nusantara kepada generasi baru.(*)

Kontributor: Mukani

Editor: Abdel Rafi