Menjemput Ilmu dengan Kesungguhan, Merawat Adab hingga Akhir Hayat

Momen pengajian rutin di Pesantren Griya Madani Indonesia (GMI) Surabaya yang diasuh Ustadz Buwono N Y. (foto: Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com –Menuntut ilmu bukan sekadar perkara kecerdasan atau banyaknya buku yang dibaca. Di balik pengetahuan yang bermanfaat, ada kesungguhan, pengorbanan waktu, disiplin, serta adab yang membentuk cara seseorang memahami dan menjalani kehidupan.

Pesan itulah yang mengemuka dalam kajian kitab Ta’lim al-Muta’allim bertema “Adab dan Kesungguhan dalam Menuntut Ilmu” yang diselenggarakan Pesantren Griya Madani Indonesia (GMI) Surabaya, pada Minggu (11/10/2026). Dalam kajian tersebut, Ustadz Buwono N Y mengajak peserta menempatkan ilmu agama sebagai kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi melalui proses belajar yang berkelanjutan.

Menurut dia, salah satu persoalan yang perlu menjadi bahan introspeksi seorang Muslim ialah ketika keberagamaan tidak diiringi pengetahuan yang memadai. Identitas sebagai orang beragama, dalam pandangan ini, semestinya berjalan beriringan dengan kemauan untuk terus belajar dan memperbaiki pemahaman.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa orang yang mengetahui tidaklah sama dengan orang yang tidak mengetahui. Pesan dalam Surah Az-Zumar ayat 9 itu menjadi landasan untuk memahami pentingnya ilmu dalam kehidupan seorang Muslim.

Namun, pengetahuan tidak hadir hanya karena seseorang menginginkannya. Ia membutuhkan proses, ketekunan, dan kesediaan untuk menyediakan waktu di tengah kesibukan sehari-hari.

Kesibukan bekerja, berdagang, mengurus keluarga, dan menjalankan tanggung jawab sosial sering kali menjadi alasan seseorang menunda belajar. Padahal, sejarah kehidupan para sahabat Nabi Muhammad SAW memperlihatkan bahwa berbagai tanggung jawab tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan untuk mempelajari agama.

Dalam kajian tersebut, Ustadz Buono mengingatkan bahwa menuntut ilmu memerlukan perjuangan sebagaimana seseorang berusaha memperoleh sesuatu yang bernilai tinggi.

“Jika ingin mendapatkan mutiara, seseorang harus menyelam ke lautan. Demikian pula jika ingin memperoleh ilmu, harus ada perjuangan dan pengorbanan,” demikian perumpamaan yang disampaikan dalam kajian tersebut.

Perumpamaan itu menggambarkan bahwa ilmu tidak dapat dipisahkan dari proses panjang. Ada waktu yang harus disisihkan, kebiasaan yang perlu diperbaiki, dan kenyamanan yang terkadang mesti dikurangi.

Kesungguhan juga diperlukan untuk menjaga pengetahuan yang telah diperoleh. Para penghafal Al-Qur’an dan hadis, misalnya, perlu mengulang hafalan secara teratur agar pengetahuan tidak berhenti pada sesuatu yang pernah dipelajari, tetapi tetap terpelihara dan dapat diamalkan.

Semangat tersebut sejalan dengan pesan Surah Al-‘Ankabut ayat 69 tentang orang-orang yang bersungguh-sungguh menempuh jalan untuk mencari keridaan Allah. Kesungguhan menjadi bagian penting dari perjalanan spiritual sekaligus proses pembentukan diri.

Dalam konteks kehidupan masa kini, pesan itu relevan bagi siapa pun yang ingin memperdalam pengetahuan agama di tengah derasnya arus informasi. Kemudahan memperoleh informasi melalui perangkat digital tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman pemahaman. Karena itu, belajar tetap membutuhkan ketekunan, sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, dan bimbingan yang tepat.

Menemukan Ruang Belajar Pada Malam Hari

Salah satu perhatian dalam kajian tersebut ialah bagaimana seseorang mengelola waktu, terutama pada malam hari. Malam tidak semata-mata dipandang sebagai waktu untuk mengakhiri aktivitas, tetapi juga kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah, zikir, membaca Al-Qur’an, dan belajar.

Ustadz Buono mengajak peserta mengurangi kegiatan yang tidak bermanfaat agar memiliki kesempatan untuk bangun malam, termasuk melaksanakan salat tahajud.

Al-Qur’an melalui Surah Al-Isra’ ayat 79 menganjurkan pelaksanaan salat tahajud sebagai ibadah tambahan. Sementara itu, hadis riwayat Bukhari dan Muslim menjelaskan keutamaan bangun tidur untuk berzikir, berwudu, dan menunaikan salat.

Pesan tersebut mengajak umat Islam melihat kedisiplinan beribadah sebagai kebiasaan yang perlu dibangun secara bertahap. Bangun malam bukan semata-mata persoalan kuat atau lemahnya fisik, melainkan juga berkaitan dengan niat, pengaturan waktu, dan kesungguhan seseorang dalam memelihara hubungannya dengan Allah.

Meski demikian, kebiasaan itu perlu dijalankan secara proporsional. Waktu istirahat yang cukup tetap penting agar seseorang dapat bekerja, belajar, dan beribadah dengan baik pada hari berikutnya.

Dengan pengaturan yang tepat, malam dapat menjadi ruang untuk memperlambat ritme kehidupan yang sering kali dipenuhi kesibukan. Di tengah suasana yang lebih tenang, seseorang memiliki kesempatan untuk membaca, merenungkan pengetahuan, sekaligus mengevaluasi perilaku dan keputusan yang telah diambil.

Kesungguhan menuntut ilmu, menurut materi kajian, perlu diwujudkan melalui target belajar yang nyata. Setiap Muslim dianjurkan menyediakan waktu secara rutin untuk mempelajari pengetahuan agama, bukan hanya ketika menghadapi persoalan atau ketika mengikuti kegiatan keagamaan tertentu.

Dua bidang dasar yang ditekankan ialah tauhid dan fikih.

Ilmu tauhid membantu seseorang mengenal Allah dan memahami dasar-dasar akidah. Adapun ilmu fikih memberikan pemahaman mengenai tata cara ibadah serta ketentuan agama yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Keduanya memiliki fungsi yang saling melengkapi. Pemahaman akidah memberikan landasan keyakinan, sedangkan pengetahuan fikih membantu seseorang menjalankan ibadah sesuai tuntunan yang dipelajarinya.

Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang dikehendaki Allah memperoleh kebaikan akan diberi pemahaman tentang agama. Hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim itu menegaskan pentingnya pemahaman, bukan sekadar pengetahuan yang berhenti pada hafalan.

Dalam praktiknya, belajar dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti mengikuti kajian secara berkala, membaca kitab dengan bimbingan guru, mempelajari dasar-dasar ibadah, dan mengulang materi yang telah dipahami.

Konsistensi menjadi penting karena pengetahuan agama tidak selalu dapat dikuasai dalam satu kali pertemuan. Pemahaman yang baik tumbuh melalui proses bertahap, disertai kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, dan memperbaiki kekeliruan.

Doa, Keikhlasan, dan Kehati-hatian

Selain kesungguhan belajar, kajian itu menyoroti pentingnya doa sebagai bagian dari ikhtiar seorang Muslim. Beberapa waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak doa antara lain ketika sujud dalam salat, antara azan dan ikamah, serta pada sepertiga malam terakhir.

Hari Jumat juga menjadi waktu yang mendapat perhatian. Terdapat riwayat mengenai suatu waktu pada hari Jumat ketika doa seorang Muslim yang memohon kebaikan kepada Allah berpeluang dikabulkan. Para ulama berbeda pendapat mengenai penentuan waktu tersebut, sehingga umat Islam dianjurkan memperbanyak doa sepanjang hari Jumat.

Namun, perjalanan mencari ilmu tidak cukup hanya dengan menambah pengetahuan dan memperbanyak ibadah. Seseorang juga perlu menjaga sikap dan sumber penghidupannya.

Dalam tradisi Islam, prinsip itu dikenal dengan istilah wara’, yakni kehati-hatian dalam menjaga diri dari perkara yang dapat merusak agama dan integritas pribadi.

Sikap tersebut mencakup menjauhi hal-hal yang jelas diharamkan, berhati-hati terhadap perkara yang meragukan, serta menjaga keikhlasan agar amal tidak semata-mata digerakkan oleh keinginan memperoleh pujian manusia.

Hadis riwayat Bukhari dan Muslim menjelaskan bahwa perkara halal dan haram telah diterangkan, sementara di antara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat yang perlu diwaspadai.

Kehati-hatian itu juga relevan dalam mengelola penghasilan. Dalam kajian, peserta diingatkan untuk menunaikan zakat sesuai ketentuan dan membiasakan diri bersedekah sebagai bentuk kepedulian sosial.

Penyisihan sekitar 10%-20% penghasilan untuk sedekah disebut sebagai salah satu anjuran praktis yang dapat dipertimbangkan. Besaran tersebut bukan kewajiban syariat yang berlaku bagi setiap orang, melainkan pilihan yang perlu disesuaikan dengan kemampuan, kebutuhan keluarga, dan kondisi keuangan masing-masing.

Dengan demikian, semangat berbagi tidak semestinya dilepaskan dari tanggung jawab terhadap keluarga dan kewajiban lain yang harus dipenuhi.

Perhatian terhadap waktu juga berkaitan dengan fase kehidupan. Masa muda, kesehatan, kekayaan, waktu luang, dan kehidupan merupakan kesempatan yang tidak berlangsung selamanya.

Hadis tentang pentingnya memanfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara lainnya menjadi pengingat agar manusia tidak menunda kebaikan sampai kesempatan itu berlalu.

Dalam kajian tersebut, pembagian waktu yang dinisbatkan kepada Imam Syafi’i turut disampaikan sebagai ilustrasi keseimbangan: delapan jam untuk ibadah, delapan jam untuk belajar dan bekerja, serta delapan jam untuk beristirahat.

Pembagian itu dapat dipahami sebagai prinsip untuk menata kehidupan, bukan ketentuan baku yang harus diterapkan secara persis oleh setiap orang. Kebutuhan waktu setiap individu berbeda, bergantung pada pekerjaan, kondisi kesehatan, tanggung jawab keluarga, dan keadaan lainnya.

Hal yang hendak ditekankan ialah pentingnya menghindari kehidupan yang seluruh waktunya terserap oleh satu aktivitas, sementara kebutuhan lain terabaikan.

Menuntut ilmu memang memerlukan kesungguhan, tetapi kesungguhan bukan berarti mengabaikan kesehatan. Tubuh membutuhkan istirahat agar seseorang dapat mempertahankan kebiasaan belajar dan beribadah dalam jangka panjang.

Di sinilah adab menuntut ilmu menemukan maknanya yang lebih luas. Ilmu tidak hanya berkaitan dengan apa yang diketahui seseorang, tetapi juga bagaimana ia mengelola waktu, memperlakukan orang lain, menjaga amanah, dan menyeimbangkan berbagai tanggung jawab dalam kehidupan.

Belajar Sebagai Perjalanan Seumur Hidup

Kajian Ta’lim al-Muta’allim di Pesantren Griya Madani Indonesia mengingatkan bahwa menuntut ilmu bukan kegiatan yang selesai ketika seseorang meninggalkan ruang belajar atau menutup sebuah kitab.

Ilmu merupakan perjalanan yang menuntut kesinambungan. Ada pengetahuan yang perlu dipelajari, hafalan yang harus dijaga, ibadah yang perlu diperbaiki, serta perilaku yang terus-menerus dievaluasi.

Karena itu, menjadikan ilmu agama sebagai kebutuhan sehari-hari merupakan langkah awal untuk membangun kehidupan yang lebih terarah. Kebiasaan belajar secara rutin, memanfaatkan waktu dengan baik, memperbanyak doa, menjaga keikhlasan, dan membiasakan sedekah dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Karena itu, ukuran keberhasilan menuntut ilmu tidak semata-mata terletak pada banyaknya pengetahuan yang dikuasai. Pengetahuan juga diharapkan membentuk kerendahan hati, memperbaiki perilaku, dan menumbuhkan tanggung jawab sosial.

Pesan tersebut menjadi inti pembelajaran dari Ta’lim al-Muta’allim: kesungguhan dalam mencari ilmu perlu berjalan bersama adab, sedangkan pengetahuan yang bermanfaat semestinya tercermin dalam kehidupan.

Sebab, ilmu bukan sekadar sesuatu yang dikumpulkan sepanjang perjalanan hidup. Ilmu juga merupakan amanah yang perlu dijaga, diamalkan, dan diwariskan melalui perilaku yang baik. Semoga. (*)

Kontributor: M. Syahril

Editor: Umar Faruq