Berita Terpercaya Tajam Terkini

Mengenang Kepergian Buya Hamka (Selesai): Sastrawan dan Ulama Itu Wafat di Hari dan Bulan Baik

Bangsa Indonesia merasakan duka mendalam atas wafatnya Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan Hamka, tanggal 24 Juli 1981 di usia 73 tahun. Hamka adalah sastrawan besar Indonesia, sekaligus ulama, ahli filsafat, dan aktivis politik. Ia baru dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia setelah dikeluarkannya Keppres No. 113/TK/Tahun 2011 pada tanggal 9 November 2011.

Hari ini, Jumat, tanggal 24 Juli 2020, sebagai bangsa yang selalu mengenang jasa-jasa tokoh-tokoh bangsanya, kita pun ingin sekali membalik jarum jam sejarah agar generasi muda ikut mengetahui perjuangan panjang yang dilakukan tokoh-tokohnya. Minimal sebagai suri tauladan, agar jejak mereka selalu diikuti. Sekaligus memacu semangat mereka untuk lebih banyak berkarya. Hanya dengan sebuah karya, kita bisa menunjukkan eksistensi sebagai bangsa berbudaya.

“Maha Suci Allah Yang ditangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Q.S. Al-Mulk: 1-2)

Tanggal 24 Juli 1981, saat Hamka meninggalkan alam fana ini, umat Islam Indonesia sedang berpuasa. Bulan baik. Hamka meninggal dunia setelah dirawat sejak 18 Juli 1981 di RS Pertamina, Jakarta. Beliau menderita sakit jantung, radang paru-paru dan gangguan pembuluh darah. Akhirnya sastrawan dan ulama besar itu meninggal dunia pada hari Jumat, hari baik, pukul 10.40 WIB setelah mencapai usia 73 tahun lebih.

Untuk menggambarkan suasana waktu itu, saya mencoba mencuplik keseluruhan tulisan O’Galelano, yang saya anggap sangat menarik di Harian ” Pelita.” Hingga hari ini saya tidak tahu siapakah O’Galelano, apakah itu nama samarannya atau nama sebenarnya. Yang jelas tulisannya mampu menghanyutkan kita ke suasana tanggal 24 Juli 1981, suasana duka, di mana bolamata-bolamata penganggumnya, anak muridnya, teman, kerabat, memerah menahan kesedihan.

“Udara Jakarta, sudah dua hari menjelang Jumat, memang sesekali dibasahi oleh siraman sekejap dari renyai hujan. Awan gemawan sesekali menjulurkan tatapannya ke bawah dari lazuardi ibukota. Sebelumnya, jarang Jakarta disentuh oleh hujan. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), ulama terkemuka, pujangga, sastrawan yang membuat pembacanya melinangkan airmata, kala mereka menyimak novel religiusnya, Profesor dan Dr., yang karyanya dibaca di dunia Islam itu, sudah masuk ICU RS Pertamina, Jumat pagi 18 Juli 1981. Udara Jakarta yang panas mendenyit ubun, sejak Rabu dan Kamis, sesekali disentuh basah hujan. Seolah komponen jagat raya ini melirik, ulama besar itu dalam persiapannya untuk perjalanan yang abadi.

Ketika warga kota terlebih muslimin-muslimah memperoleh berita pagi oleh koran, bahwa Buya Hamka dalam keadaan kritis, mereka mendekap radio, untuk mendengarkan lebih lanjut kabar kesehatan beliau. Menjelang shalat Jumat, hujan tercurah di ibukota. Seolah hanya Jakarta yang dibasahi, karena benderang langit sekitar Jakarta tak berawan gelap. Jemaah Shalat Jumat di masjid mulai terisak tatkala panitia mengumumkan bahwa Buya Hamka, telah pergi tadi siang pukul 10.30 WIB. Seluruh Jakarta, dalam jutaan doa umat Islam, agaknya telah menghunjam di belantara alam. Jumat itu, masjid-mesjid Jakarta mengadakan shalat ghaib.

Bukan shalat ghaib yang ingin kita catat. Walaupun dalam duka yang merambat jutaan kalbu umat, hal itu memang penting. Namun bola mata-bola mata mereka yang shalat ghaib, yang meneteskan air mata dan isak, ketika menyeru Allah. Mereka tergoyah tubuhnya oleh isak dalam shalat. Doa mereka adalah doa yang diajukan dengan derai air mata: “Ya, Rabbi, terimalah pemimpin, guru, imam dan ayah kami ini di sisi Mu. Di rumahnya yang baru dibenah, dengan warna putih yang dominan suara dan tangis yang emosional hadir di mana-mana. Rusydi, puteranya yang tertua, yang telah lama dipersiapkan untuk melanjutkan penanya, berkata jelas, walaupun kesedihan menamparnya dahsyat: “Lanjutkan silaturrahmi ayah kami, kepada kami putera-puterinya di rumah ini. Kita yang berkumpul di sini adalah sahabat ayah, murid ayah, para menteri dan ulama, anak-anak rohani ayah kami.” Begitu kata Rusydi, yang sekarang agaknya meresa sepi meneruskan Majalah “Panji Mayarakat,” yang dibina ayahnya itu.

Di tengah jenazah ulama besar itu di rumahnya di Jalan Fatah III No. 1, banyak bergemaratak ucap dan doa yang penuh emosi. Sampai-sampai suasana di rumah ini mirip bagaikan jenazah para pejuang Palestina. Orang berhimpitan, berdesakan. Yang menteri, yang ulama, yang pemuda, yang ibu, yang gadis. Seorang lelaki meronta berteriak karena dilarang mendekat jenazah. Dia berteriak dengan tangis agar kiranya diperkenankan melihat wajah Buya terakhir kali.

Di dalam Masjid Agung Al-Azhar saat jenazah akan disembahyangkan, tidak urung takbir dengan suasana hati syarat emosi masih mengumandang. Masing-masing orang agaknya ingin berarti di dekat jenazah orang yang disayanginya. Hamka memang, bapak rohani yang hilang dini. Dan orang terpana, syarat emosi.

Rasanya menyayat sembilu hati kita, melihat seorang gadis kecil yang terjepit di antara desakan orang melongokkan kepalanya dan mengarahkan matanya yang berlinang, dengan isak yang tertahan. Ketika iringan jenazah lewat rumahnya. Pemandangan yang membiaskan rupa lain dari gambar diri ulama terkemuka ini. Banyak orang yang ingin menyentuh jenazah Buya, dan dalam kerumunan, himpitan dan dempetan, hal seperti ini memang ikut membuat suasana duka meningkat kepada “semangat dan api rohani.”

Ketika para pengantar bergegas meninggalkan Pemakaman Tanah Kusir, Jakarta Selatan, di arah barat bayang Asar yang menepi. Udara dan langit di atas makam, kembali duka. Awan gelap mulai menjulurkan nestapa. Sesudah itu hujan menyiram bumi merah. Telah agak lama usia Buya Hamka tersita di ibukota ini. Di mimbar khotbah, di halaman buku, koran, majalah. Buya barangkali adalah warga ibu kota yang selalu dengan putih hati berusaha menyapunya dengan nasihat yang mendinginkan.

Kalau saja gemawan dapat jelas berbisik pada kita, barangkali siraman hujan adalah pertanda, alangkah indahnya keberangkatan Buya. Di tahun, di bulan, di hari-hari yang penuh indah. Maka pantaslah kita bergembira, walaupun nestapa menindih kita, seperti kata pisah keluarga yang dibawakan Buya Malik Ahmad. “Selama hayatnya, Hamka memang adalah ekspresi keindahan.”

*Selanjutnya penjelasan tentang Pemakaman Almarhum Buya Hamka”, tulisan Bapak Rusydi Hamka, “Panji Masyarakat” Nomor 332, halaman 9-11 :*

Comments are closed.