Friday, March 6, 2026
spot_img
HomePendidikanMendikdasmen Abdul Mu’ti: Ramadan Momentum Literasi dan Tadabbur Al-Qur’an

Mendikdasmen Abdul Mu’ti: Ramadan Momentum Literasi dan Tadabbur Al-Qur’an

Mendikdasmen RI Abdul Mu’ti saat menjadi pembicara dalam Pengajian Ramadan Universitas Airlangga (UNAIR) di Aula Garuda Mukti, Gedung Manajemen Kampus MERR-C UNAIR, Surabaya, Jumat (6/3/2026). (foto: Khefti)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Abdul Mu’ti menyebut Ramadan bukan sekadar bulan ibadah ritual, melainkan juga momentum literasi keagamaan bagi masyarakat Indonesia. Berbagai tradisi yang hidup selama Ramadan, menurut dia, menunjukkan bagaimana ajaran agama berkembang menjadi budaya yang khas di tengah masyarakat.

Hal itu disampaikan Abdul Mu’ti saat menjadi pembicara dalam Pengajian Ramadan Universitas Airlangga (UNAIR) di Aula Garuda Mukti, Gedung Manajemen Kampus MERR-C UNAIR, Surabaya, Jumat (6/3/2026). Kegiatan tersebut dihadiri pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, dan sivitas akademika.

“Ramadan di Indonesia dapat disebut sebagai bulan literasi karena banyak kegiatan dakwah dan pengajian agama yang memperkaya pemahaman masyarakat,” ujar Abdul Mu’ti.

Menurut dia, Indonesia memiliki sejumlah praktik keagamaan yang tidak selalu ditemukan di negara lain. Tradisi seperti kuliah tujuh menit (kultum) dan tadarus Al-Qur’an menjadi contoh bagaimana nilai-nilai agama berkembang menjadi budaya sosial yang hidup di tengah masyarakat.

Ia menyebut fenomena tersebut sebagai vernakularisasi agama, yakni proses ketika ajaran agama hadir dalam bentuk budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Melalui proses ini, nilai-nilai agama menjadi lebih mudah diterima karena hadir dalam praktik sosial yang akrab.

Tradisi seperti buka puasa bersama maupun halal bihalal, kata Abdul Mu’ti, merupakan contoh bagaimana ajaran agama berkelindan dengan kebudayaan lokal sehingga melahirkan praktik sosial yang khas di Indonesia.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa Ramadan juga dikenal sebagai syahrul Qur’an, yakni bulan ketika Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Tradisi membaca Al-Qur’an selama Ramadan, menurut dia, telah menjadi kebiasaan kuat di tengah masyarakat Indonesia.

Banyak umat Islam menargetkan khatam Al-Qur’an selama Ramadan melalui berbagai metode, salah satunya pendekatan one day one juz. Namun, Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa membaca saja tidak cukup tanpa disertai pemahaman terhadap makna ayat-ayat Al-Qur’an.

Ia juga menyoroti kecenderungan yang disebutnya sebagai mistifikasi Al-Qur’an, yakni ketika sebagian orang memperlakukan ayat-ayat Al-Qur’an secara magis atau sekadar sebagai jimat. Menurut dia, kecenderungan tersebut berpotensi mengaburkan fungsi utama Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup.

Sebagai alternatif, ia mengajak umat Islam untuk melakukan tadabbur Al-Qur’an, yaitu merenungkan dan memahami makna ayat-ayat Al-Qur’an secara mendalam agar pesan-pesannya benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita tidak boleh berhenti hanya pada membaca. Kita perlu berdialog dengan Al-Qur’an melalui tadabbur agar pesan-pesannya menancap di hati dan menggerakkan tindakan,” kata Abdul Mu’ti.(*)

Kontributor: Khefti

Editor: Abdel Rafi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular