Berita Terpercaya Tajam Terkini

Mayoritas Pelajar Jatim Kangen Sekolah, Deni Wicaksono PDIP: Dukung Penuh Tapi Perhatikan 4 Hal Penting Ini!

0
Deni Wicaksono, anggota legislatif Komisi E DPRD Jatim dari fraksi PDIP saat reses menemui konstituennya di Dapil 9 pada Maret 2021 lalu.

 

SURABAYA – Keinginan para pelajar di Jawa Timur (Jatim) untuk kembali mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) semakin memuncak. Hasil survei Surabaya Survey Center (SSC) yang melibatkan 1.070 anak muda di 38 kabupaten/kota se-Jatim menyebutkan, 77,4% responden berharap agar mereka bisa kembali belajar tatap muka. 19.3% masih merasa nyaman dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ), Sedangkan 12.7% memilih tidak tahu atau tidak menjawab.

Merespon temuan tersebut, anggota Komisi E DPRD Jawa Timur dari Fraksi PDIP yang membidangi pendidikan, Deni Wicaksono, mengatakan, saat ini memang mayoritas pelajar ingin kembali belajar secara tatap muka di sekolah.

”Saya juga sudah diskusi dengan ratusan pelajar lewat virtual, semuanya bilang kangen sekolah. Pembelajaran tatap muka bagaimana pun melahirkan experience yang berbeda dibanding online,” ujar Deni kepada cakrawarta.com, Rabu (21/4/2021) pagi.

Deni mendukung penuh dilaksanakannya PTM yang oleh Mendikbud Nadiem Makarim ditargetkan berlangsung di semua sekolah pada Juli 2021. Saat ini, dari dari 38 kabupaten/kota se-Jatim, yang belum melaksanakan PTM adalah Kota Surabaya, Kota-Kabupaten Kediri, dan Kota Malang. Adapun kabupaten/kota yang sudah melaksanakan PTM, semuanya dilakukan terbatas, hanya 25-50% kapasitas kelas yang dipakai.

PTM, papar Deni, sangat penting untuk menjaga akselerasi kualitas sumberdaya manusia (SDM). Meski demikian, Deni menggarisbawahi 4 hal yang sangat penting diperhatikan. Pertama, penerapan protokol kesehatan (prokes) yang ketat dan disiplin.

”Saya paham semuanya kangen sekolah, kangen belajar di kelas, kangen cerita bapak dan ibu guru, tapi prokes ketat tidak boleh ditawar,” tegas alumnus FISIP Unair itu.

Adapaun hal kedua terkait pengaturan jam PTM. Sesuai protokol kesehatan, maka kelas hanya boleh diisi maksimal 50% kapasitas kursi. Artinya, tetap ada pelajar yang mengikuti pembelajaran online. Deni menyarankan ada pembagian dua kelas, yaitu jam pagi dan siang atau sore. Atau diatur komposisi antara PTM dan PJJ. Sehingga semua pelajar kembali PTM. Tentu ada konsekuensi lanjutan, misalnya memberi insentif ke guru.

”Kita bisa juga membuka Gerakan Relawan Mengajar dengan melibatkan mahasiswa tingkat akhir di kampus-kampus pendidikan untuk ikut membantu mengajar di sekolah. Kan kurikulum sudah ada, mahasiswa tingkat akhir pasti sudah paham. Sehingga kelas pagi dan siang terlaksana tanpa menambah beban bapak dan ibu guru,” usulnya.

Yang ketiga, Deni mengharapkan PTM menjadi sarana memasifkan edukasi kesehatan. Saatnya kita memperkuat gaya hidup sehat sejak dari sekolah.

”Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah revitalisasi unit kesehatan sekolah (UKS). UKS kita revitalisasi dengan menjadikannya sebagai pilar promosi dan preventif kesehatan. Sinergikan UKS dengan Puskesmas. Puskesmas menyupervisi UKS. Puskesmas masuk ke sekolah-sekolah untuk edukasi kesehatan. Saya yakin, jika urusan ini tuntas di sekolah, kita akan punya generasi yang disiplin menerapkan gaya hidup sehat. Ujungnya, derajat kesehatan masyarakat akan meningkat,” papar Deni.

Terakhir, pentingnya pendidikan parenting. Pararel dengan penyiapan PTM, Deni mendorong Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur untuk menggerakkan sekolah agar masif menggelar pendidikan parenting secara daring bagi orang tua siswa.

“Ini adalah momentum untuk menyediakan pendidikan parenting kepada orang tua. Pendidikan parenting sangat penting karena tidak semua orang tua memahami bagaimana sih pendidikan anak, padahal saat ini kan anak banyak berada di rumah,” pungkasnya.

(bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.