Wednesday, February 21, 2024
HomeGagasanKontemplasi Haji: The Mission, The Next Moves

Kontemplasi Haji: The Mission, The Next Moves

daniel mohammad rosyid

Memasuki hari-hari terakhir di tanah suci melalui program Arba’in, menyelesaikan semua prosesi haji serta sunah-sunahnya, ada baiknya kita merefleksikan kembali perjalanan fusional jasmani, mental dan spiritual ini. Semoga kita telah berikhtiar cukup untuk memantaskan diri disebut sebagai Hajjan Mabruuran (haji mabrur). Bagi hajjan mabruuran ini tidak ada pahala lain selain al-jannah (kehidupan yang indah di dunia dan di akhirat). Aamiin.

Jika puasa melatih kita mengendalikan nafsu perut dan kelamin, maka Haji melatih kita untuk kembali pada jati diri kita sebagai pelayan Allah SWT, Tuhan Alam Semesta. Dengan menanggalkan semua atribut-atribut primordial, sosial-ekonomi-politik kita yang kita bangga-banggakan selama ini, serta more importantly mengendalikan sentimen nasionalis kita sebagai perpanjangan keakuan kita dan sebagai bentuk berbahaya dari glorified tribalism (kesukuan yang diagungkan). Perlu segera diingat, bahwa sebuah negara-bangsa darimana kita berasal diciptakan oleh para penjajah di meja-meja perundingan, untuk memberi pukulan terakhir pada kekhalifahan Ottoman di Turki. Sejak itulah, dunia berada dalam kekhalifahan Barat.

Sejarah mencatat dengan jelas bahwa setelah keruntuhan kekhalifahan Islam di Turki itu, dunia menjadi kawasan yang dieksploitasi habis-habisan melalui mesin penjajahan baru yang bertumpu pada sistem keuangan global ribawi. Di duapuluh tahun pertama abad 21 ini, spesies manusia justru semakin terancam eksistensinya oleh keruntuhan ekosistem dan perang nuklir, serta kehancuran keluarga.

Paling tidak ada 4 pesan Nabi Muhammad SAW saat hajinya yang pertama dan terakhir hendaknya menjadi kontrak kita sampai akhir hayat dikandung badan yakni melindungi darah dan harta sesama muslim, melindungi perempuan muslim dari berbagai ancaman (perzinahan, perdagangan manusia dan perbudakan), menegakkan sholat dan meninggalkan riba. Keempat misi itu bukan misi remeh-temeh, bahkan misi yang luar biasa berat. Paling tidak misi itu memerlukan kepemimpinan Islam secara lintas-bangsa.

Riba sebagai sesuah sistem ekonomi nekolemik adalah akar dari semua penderitaan manusia di planet ini yaitu penjajahan, kemiskinan, perbudakan dan juga kerusakan lingkungan akibat obsesi pertumbuhan tanpa batas. Barangkali ini adalah misi para hajjan mabruuran yang paling impossible.Kasus kekejaman pada saudara kita di Rohingya adalah tantangan langsung atas misi kita yang pertama.

Untuk kompeten melawan nafsu syahwat perut dan kelamin, serta melepaskan diri kebanggaan pada atribut-atribut semu dan primordial itu kita perlu memulai langkah-langkah konkrit yang bisa diagendakan dalam jangka pendek di antaranya:

1) hidup sederhana (sak madyo, sak sedhenge) halal dan thayyiban (baik dan menyehatkan tubuh); lebih sering berpuasa, makan secukupnya, hindari makan berlebihan dan mubadzir.

2) memakmurkan masjid sehingga masjid menjadi poros baru kehidupan kita.

3) menguatkan keluarga sebagai satuan produktif sekaligus edukatif.

Jadi misi kita para jamaah haji pasca momentum sakral nan monumental sebagai Hajjan Mabruruan sama sekali tidak mudah. Sangat berat. Apakah kita mau mundur?

Madinah, 11 September 2017

DANIEL MOHAMMAD ROSYID

Guru Besar ITS, Pelaku Peradaban dan Jamaah Haji Tahun 2017

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular