
TULUNGAGUNG, CAKRAWARTA.com – Komando Distrik Militer (Kodim) 0807/Tulungagung memperingati Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah, hari ini, Rabu (21/1/2026), di Aula Pandu Sakti Makodim 0807/Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Peringatan berlangsung khidmat dan menjadi ruang refleksi spiritual bagi prajurit serta keluarga besar TNI AD di wilayah tersebut.
Peringatan Isra Mikraj ini dimaknai sebagai momentum untuk meneladani perjalanan agung Nabi Muhammad SAW, sekaligus memperkuat keimanan dan ketakwaan prajurit dalam menjalankan tugas pengabdian kepada bangsa dan negara. Kegiatan diisi dengan pengajian dan tausiah keagamaan yang diikuti dengan penuh kekhusyukan.
Komandan Kodim 0807/Tulungagung, Letkol Arh. Hanny Galih Satrio, mengatakan bahwa peringatan Isra Mikraj tidak sekadar ritual keagamaan, tetapi juga sarana introspeksi diri bagi prajurit. Nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya, menurut dia, relevan untuk membangun keteguhan moral dan integritas dalam pelaksanaan tugas.
“Isra Mikraj mengajarkan pentingnya keimanan, kedisiplinan, dan keteladanan. Nilai-nilai inilah yang harus terus hidup dalam diri setiap prajurit, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun saat bertugas di tengah masyarakat,” ujar Hanny Galih dalam sambutannya.
Ia berharap, tausiah yang disampaikan dapat menjadi penguat batin sekaligus pengingat agar prajurit senantiasa menjaga sikap, perilaku, dan profesionalisme sebagai aparat negara.
Sementara itu, penceramah KH M. Yasin Bisri, S.Sos.I., menekankan bahwa peristiwa Isra Mikraj sarat dengan pesan keimanan, kesabaran, dan keikhlasan. Kesabaran, menurut dia, menjadi kunci dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan, termasuk dalam tugas-tugas pengabdian.
“Seorang prajurit dituntut menjadi pribadi yang sabar, bijaksana, dan berintegritas. Semua itu berakar dari iman yang kuat dan kesediaan untuk terus berbuat kebaikan,” tutur Yasin Bisri.
Melalui peringatan Isra Mikraj ini, Kodim 0807/Tulungagung berharap prajurit tidak hanya semakin kokoh secara spiritual, tetapi juga mampu menerjemahkan nilai-nilai religius tersebut dalam sikap humanis dan profesional saat berinteraksi dengan masyarakat. (*)
Kontributor: Arwang
Editor: Abdel Rafi



