Monday, January 5, 2026
spot_img
HomeSains TeknologiKetika Riset Gigi Menantang Ketergantungan Impor Alat Medis

Ketika Riset Gigi Menantang Ketergantungan Impor Alat Medis

Prof. Dian Agustin Wahyuningrum, drg., Sp.KG., Subsp KE(K). dengan karya terbarunya di dunia riset medis (botol kecil di depannya) saat ditemui di ruang kerjanya di FKG UNAIR beberapa waktu lalu. (foto: Khefti PKIP)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Ketergantungan Indonesia pada alat dan material medis impor telah lama menjadi persoalan laten dalam sistem kesehatan nasional. Di balik angka belanja dan distribusi, tersimpan kegelisahan para peneliti yang menyadari bahwa kemandirian kesehatan tak mungkin terwujud tanpa keberanian membawa riset keluar dari laboratorium. Kegelisahan itulah yang menggerakkan Dian Agustin Wahyuningrum, Guru Besar dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga (FKG UNAIR), untuk menantang arus tersebut melalui riset pengembangan material pengisi tulang.

Bagi Dian -sapaan akrabnya-, riset tidak boleh berhenti sebagai luaran akademik semata. Ia harus berakhir pada kebermanfaatan. Prinsip ini menjadi fondasi pengembangan material pengisi tulang berbasis biphasic calcium phosphate (BCP) yang kini tengah diarahkan menuju tahap hilirisasi.

Dalam beberapa tahun terakhir, Dian mengelola sejumlah proyek riset yang berorientasi pada pemanfaatan klinis. Salah satu fokus utamanya adalah pengembangan BCP yang dikombinasikan dengan conditioned medium dari stem cell. Kombinasi ini dirancang untuk mengoptimalkan proses osteogenesis atau pembentukan tulang baru, yang sangat dibutuhkan dalam berbagai tindakan kedokteran gigi, khususnya pada kasus kerusakan tulang akibat infeksi.

“Harapannya, BCP yang dikombinasikan dengan conditioned medium dapat memiliki kemampuan osteogenesis yang lebih baik dibandingkan material tanpa kombinasi tersebut,” ujar Dian.

Langkah tersebut berangkat dari kenyataan bahwa sebagian besar material medis yang digunakan di Indonesia masih bergantung pada produk impor. Ketergantungan ini bukan hanya berdampak pada tingginya biaya layanan kesehatan, tetapi juga melemahkan posisi tawar nasional dalam pengembangan teknologi medis. Melalui riset BCP, Dian berupaya menghadirkan produk biomaterial hasil riset dalam negeri yang kompetitif, sekaligus memiliki keunggulan biologis.

Pendekatan yang dikembangkan Dian tergolong belum lazim. Selama ini, produk biomaterial umumnya mengandalkan satu jenis material. Padahal, pengombinasian BCP dengan conditioned medium membuka peluang fungsi ganda: mendukung regenerasi tulang dan memberikan efek antibakteri. Hal ini menjadi relevan dalam praktik kedokteran gigi, mengingat kerusakan tulang sering kali berkaitan dengan infeksi saluran akar yang melibatkan invasi mikroorganisme.

Namun, upaya membawa riset menuju kebermanfaatan publik tidak lepas dari tantangan. Dian menghadapi kendala pada tahap teknis, terutama dalam proses pengombinasian BCP dengan conditioned medium atau metode yang belum banyak digunakan. Melalui kolaborasi riset yang terarah dan berkelanjutan, tantangan tersebut berhasil diatasi hingga menghasilkan inovasi yang mampu menciptakan lingkungan biologis yang lebih optimal bagi kerja stem cell.

Dengan kebutuhan material pengisi tulang yang terus meningkat, Dian berharap hasil riset ini dapat segera melangkah ke tahap pra komersial. Saat ini, pihaknya telah menjajaki kerja sama dengan PT Hexa Dental Indonesia, perusahaan yang bergerak di bidang produksi material kedokteran gigi, untuk membuka peluang realisasi produk ke skala industri.

“Riset tidak boleh berhenti pada satu tahap penelitian saja,” kata Dian. “Yang lebih penting adalah bagaimana riset itu sampai pada titik pemanfaatan. Jika ingin benar-benar berdaya guna bagi masyarakat, riset harus dibawa ke hilirisasi.”

Di titik inilah riset menemukan maknanya yang paling utuh. Bukan sekadar menambah deret publikasi ilmiah, melainkan ikut menantang ketergantungan impor alat medis yang pelan dan senyap, namun dengan dampak yang menjanjikan bagi kemandirian kesehatan bangsa. Semoga. (*)

Kontributor: Khefti PKIP

Editor: Abdel Rafi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular