
Setiap 17 Oktober dunia memperingati Hari Internasional Penghapusan Kemiskinan, sehari setelah Hari Pangan Sedunia. Kedekatan kedua tanggal ini bukan kebetulan. Kemiskinan dan pangan adalah dua sisi dari pertanyaan yang sama, apakah setiap orang dapat hidup sehat dan bermartabat?
Di tengah tekanan daya beli, harga pangan yang naik turun, serta perhatian besar pada swasembada dan program makan bergizi gratis, keberhasilan sering diukur dari angka produksi dan jumlah porsi yang tersalur. Dari sudut pandang gizi, pertanyaannya lebih mendasar, apa yang sebenarnya ada di piring, dan cukupkah ia untuk menyehatkan manusia?
Tulisan ini berargumen bahwa ketahanan pangan yang tidak berujung pada perbaikan status gizi hanyalah ketahanan palsu. Ada dua hal yang layak kita telaah, bagaimana kemiskinan mengancam kualitas pangan, dan mengapa kebijakan pangan harus diukur dari gizi, bukan hanya dari ketersediaan.
Kemiskinan dan Mutu Pangan
Keluarga miskin jarang benar-benar tidak makan. Yang terjadi lebih pada kualitas pangan yang dikorbankan terlebih dulu. Ketika harga telur, ikan, sayur, dan buah naik, anggaran bergeser ke pangan yang murah dan mengenyangkan, seperti nasi, mi instan, gorengan, dan minuman manis. Perut terisi, tetapi kebutuhan protein, zat besi, zinc, vitamin, dan serat tidak terpenuhi. Inilah yang dikenal sebagai kelaparan tersembunyi (hidden hunger), rasa lapar hilang, sementara kebutuhan tubuh tetap tidak terpenuhi.
Dampaknya paling nyata pada anak. Kekurangan gizi pada seribu hari pertama kehidupan menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan otak. Stunting bukan sekadar soal tinggi badan, melainkan berkaitan dengan kemampuan belajar dan produktivitas di usia dewasa. Pada saat yang sama, pangan tinggi gula, garam, dan lemak yang murah serta mudah dijangkau mendorong kegemukan dan penyakit tidak menular. Kekurangan gizi dan kelebihan berat badan pun dapat hadir di masyarakat yang sama, bahkan satu rumah tangga, yang dikenal sebagai beban ganda masalah gizi.
Dengan demikian, bagaikan ‘gembok’ kemiskinan dan malnutrisi saling mengunci. Anak yang kurang gizi tumbuh dengan peluang belajar dan bekerja yang lebih kecil, lalu berpenghasilan rendah, lalu mewariskan keterbatasan yang sama kepada anaknya. Lingkaran ini tidak tampak dalam statistik kelaparan, sebab anak-anaknya tetap makan, tetap bersekolah, dan tampak baik-baik saja. Karena itu, memperbaiki gizi bukan sekadar urusan sektor kesehatan, melainkan strategi paling mendasar untuk memutus pewarisan kemiskinan antargenerasi.
Pentingnya Ketahanan Pangan
Ketahanan pangan lazim dipahami melalui empat dimensi, yaitu ketersediaan, akses, pemanfaatan, dan stabilitas. Kita cenderung kuat berbicara tentang ketersediaan, yakni produksi, cadangan beras, dan swasembada, tetapi lemah pada akses dan pemanfaatan. Gudang yang penuh tidak menjamin kebutuhan pangan seorang anak di keluarga miskin berisi pangan bergizi bila harganya tak terjangkau atau pengetahuan dan layanan pendukungnya tidak ada.
Kondisi hari ini menuntut konsekuensi itu. Ketika daya beli tertekan dan anggaran negara harus dibagi untuk banyak prioritas, godaan memilih yang paling cepat terlihat menjadi besar. Yang tidak kita sadari, gizi berdampak dalam kesenyapan. Hasilnya baru tampak bertahun-tahun kemudian pada tinggi badan, prestasi belajar, dan produktivitas sebuah generasi, ketika koreksi sudah jauh lebih mahal.
Di sinilah program berskala besar seperti makan bergizi gratis dan bantuan sosial layak dinilai secara jernih. Intervensi langsung semacam ini bernilai bagi kelompok rentan, tetapi manfaatnya bergantung pada mutu menu, keamanan pangan, ketepatan sasaran, dan keberlanjutannya. Program yang keberhasilannya diukur dari jumlah porsi/penerima manfaat belum menjawab apakah anak benar-benar lebih sehat. Dampaknya akan lebih kuat bila bahan pangan bersumber dari petani, nelayan, dan pelaku usaha lokal. Dengan begitu, anggaran negara berputar di ekonomi desa dan harga pangan bergizi setempat lebih terjangkau, sehingga perbaikan gizi dan pengentasan kemiskinan bergerak bersamaan.
Pangan lokal menyimpan potensi yang sering terlupakan. Ikan, telur, kacang-kacangan, tempe, umbi, serta aneka sayur dan buah tersedia di hampir setiap daerah, dan lebih murah serta segar dibanding pangan yang menempuh rantai pasok panjang. Yang kurang adalah keberpihakan, pasar yang adil bagi petani dan nelayan, distribusi yang menekan selisih harga antarwilayah, dan menu yang memprioritaskan pangan lokal, bukan menyeragamkannya. Dengan keberpihakan itu, ketahanan pangan benar-benar berpijak pada kekuatan sendiri.
Untuk itu, indikator keberhasilan perlu diperluas. Selain angka kemiskinan dan produksi pangan, kita perlu memantau keragaman konsumsi pangan rumah tangga, keterjangkauan harga pangan bergizi, serta status gizi ibu hamil, bayi, dan balita. Edukasi gizi tetap penting, tetapi tidak cukup bila keluarga sudah tahu mana makanan sehat namun tak sanggup membelinya. Tanpa ukuran yang tepat, kita akan merayakan keberhasilan yang belum benar-benar terjadi, dan membiarkan masalah yang sesungguhnya bertahan.
Peringatan 17 Oktober semestinya mengajak kita melihat kemiskinan lebih dalam dari sekadar garis pendapatan. Ketahanan pangan tidak boleh berhenti pada tersedianya makanan, sebagaimana pengentasan kemiskinan tidak boleh berhenti pada naiknya pendapatan. Keduanya harus bermuara pada manusia yang tumbuh sehat dan berdaya. Menghapus kemiskinan berarti memastikan tak seorang pun harus memilih antara kenyang hari ini dan sehat di masa depan. Semoga. (*)
MAHMUD ADITYA RIFQI, Ph.D
Dosen Departemen Gizi Kesehatan FKM UNAIR








