Thursday, April 9, 2026
spot_img
HomeEkonomikaDaerahKenaikan Harga Plastik, Tamparan Keras bagi UMKM di Malang

Kenaikan Harga Plastik, Tamparan Keras bagi UMKM di Malang

Beberapa pedagang UMKM di salah satu sudut daerah Malang, Jawa Timur, Rabu (8/4/2026). (foto: Indah Winarso)

MALANG, CAKRAWARTA.com – Dampak konflik Timur Tengah dengan Amerika Serikat (AS) memberi pengaruh besar bagi pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) di tanah air. Tamparan keras dari konflik ini adalah kenaikan tajam bahan pembungkus utama, yakni plastik.

Plastik merupakan turunan dari minyak bumi, sementara sebagian besar kebutuhan minyak bumi Indonesia masih bergantung pada impor. Konflik tersebut mengganggu pasokan minyak bumi yang akan diolah menjadi biji plastik murni. Kondisi ini terjadi sekitar sepekan setelah konflik pecah.

Kenaikan harga plastik terjadi hampir di semua distributor dan grosir, termasuk di Malang. Naskun (56), warga Kepanjen, Kabupaten Malang, yang memiliki toko grosir plastik, mengungkapkan bahwa kenaikan harga mencapai hampir 50 persen hingga 100 persen, disertai perubahan sistem penentuan harga.

“Tiap hari pabrik langganan kami membuka pre order (PO) pukul 08.00 dan menutup PO pukul 10.00. Jadi waktunya sangat pendek. Selain itu, sistem harga berubah, yakni harga dirilis saat barang akan dikirim dan bukan saat masuk PO,” katanya. Kondisi ini berbeda dibandingkan sebelum konflik Timur Tengah terjadi. Namun, ia mengakui, ada juga pabrik plastik yang tetap menerapkan harga saat PO, meski tren harga terus meningkat.

Kondisi ini sangat memberatkan pelaku UMKM skala kecil hingga menengah. Mereka menghadapi dilema antara menaikkan harga atau memberikan sejumlah opsi kepada konsumen.

“Kami memilih menyesuaikan harga untuk mengantisipasi kenaikan plastik sebagai pembungkus utama produk kami,” kata Yudi Santoso, produsen roti skala menengah di Buring, Malang. Menurut dia, banyak UMKM terdampak, seperti usaha kerupuk, roti, dan lainnya.

Pelaku UMKM roti skala menengah, Yolanda Bakery, milik Yudi Santoso yang juga sangat bergantung pada plastik. (foto: Indah Winarso)

Pemilik Yolanda Bakery ini menyebutkan, harga plastik untuk kemasan roti naik dari Rp29.000 menjadi Rp55.000. Karena itu, ia tidak memiliki pilihan selain menaikkan harga roti sebesar Rp500 per buah. “Ada konsumen yang menerima, ada yang keberatan, tetapi belum ada yang membatalkan pesanan,” kata Yudi, yang banyak memproduksi roti hajatan dan roti tawar. Setiap hari, usahanya mampu memproduksi sekitar 500 roti, termasuk untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Berbeda dengan UMKM skala menengah, pelaku UMKM yang lebih kecil terpaksa menaikkan harga lebih besar, yakni Rp1.000 hingga Rp2.000. Nastiti, pedagang es keliling di kawasan Kebon Agung, Malang, mengatakan ia harus menjual es kemasan lebih mahal, bergantung pada jenis kemasan yang digunakan, baik gelas besar maupun plastik sederhana.

“Bagaimana tidak menaikkan harga? Plastik es yang biasanya Rp10.000 per pak kini menjadi Rp15.000. Sendok plastik yang biasanya Rp7.000 sekarang Rp11.000. Belum lagi gelas es yang tinggi dan tebal itu,” ujar Nastiti. Ia menjual beragam minuman, mulai dari es kuwut hingga es teler aneka rasa, yang disimpan dalam coolbox berisi es batu agar tetap dingin.

Sebagian Konsumen Mulai Beradaptasi

Sebagian konsumen mulai menyadari kenaikan harga tersebut. Seorang konsumen food and beverage mengaku membawa tumbler sendiri untuk membeli es kopi dengan sistem bawa pulang.

“Kalau boleh usul, pelaku usaha F&B bisa memberi opsi kepada konsumen untuk membawa wadah sendiri. Beli kopi bawa tumbler atau makanan dengan wadah sendiri, atau menyediakan kemasan non plastik agar biaya tidak terus naik. Jika konsumen meminta wadah baru, barulah harga bisa disesuaikan,” kata Dewi, konsumen sebuah kafe di kawasan Kebon Agung, Malang. Menurut dia, beberapa kafe juga telah menerapkan perbedaan harga antara makan di tempat dan layanan bawa pulang.(*)

Kontributor: Indah Winarso

Editor: Abdel Rafi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular