Berita Terpercaya Tajam Terkini

Jalan Panjang Vaksin Merah Putih Unair Temui Titik Terang, Prof Nasih: Tahun Depan Siap Digunakan!

0
Rektor Universitas Airlangga, Prof Dr M Nasih (tengah, baju ungu dan biru) ditemani Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi dan Community Development Prof Dr Ni Nyoman Tri Puspaningsih, M.Si. (kanan rektor Unair, berjilbab) dan Prof Dr Nasronuddin  (kiri Rektor Unair)selaku Direktur RS Unair memberikan keterangan kepada awak media di Gedung Rektorat Unair Kampus C, Surabaya, Senin (19/4/2021). (foto: istimewa)

SURABAYA – Pandemi Covid-19 telah menggerakkan banyak pihak untuk melakukan terobosan dan inovasi. Baik dalam mengendalikan, penanganan, hingga pencegahan. Hal itulah yang terus dilakukan oleh Universitas Airlangga (Unair) dari saat awal pandemi muncul hingga saat ini. Perihal itu, Rektor Unair Prof. Dr. Moh Nasih dihadapan awak media menerangkan bahwasanya terkait dengan Covid-19, “Sejak awal kami secara komprehensif terlibat di dalamnya. Sebagaimana diketahui, dari segi rancangan, kami terlibat dari proses tes, hingga dengan penanganan jenazah. Sebelum yang lain mengulas tentang reagen, Unair lebih awal melakukan proses tes dengan swab PCR. Bahkan, RSUA sebelum rumah sakit yang lain terlibat dalam penanganan krisis pandemi, RSUA sudah siap. Artinya dari sisi manajemen, Unair sudah sangat siap dari awal,” ujar Nasih di depan awak media, Senin (19/4/2021) sore.

Karena itu, dari sisi program, Nasih menegaskan bahwa Unair telah melahirkan banyak inovasi, baik jangka pendek hingga jangka panjang. Dalam jangka pendek, banyak tim dosen yang menghasilkan produk untuk peningkatan imun dan berbagai inovasi untuk mengendalikan pandemi. Selain itu, kombinasi obat juga sudah dihasilkan pihak Unair yang digunakan oleh berbagai kalangan semisal ada 80 lebih RS milik TNI AD yang memakainya.

Terkait pembuatan vaksin Merah Putih karena pandemi Covid-19 telah berlangsung setahun lebih maka masuk program jangka panjang dan terus berlangsung secara terus optimal. Menurut Nasih, dalam hal pengembangan vaksin, Unair sebagai tim peneliti tidak berdiri sendiri.

“Ya tentu kami tidak sendirian. Banyak pihak yang terlibat antara lain Kemenristek BRIN,” imbuh Nasih.

Nasih memaparkan bahwa vaksin Merah Putih melalui proses panjang, jalan berliku, dan beberapa kali berganti metode. Menariknya, menurut pria murah senyum ini, Unair tidak akan terlalu jauh ikut dalam proses produksi masalnya karena tupoksi Unair berada pada proses penyiapan vaksin dan semua proses dilakukan dengan benar dan mendapatkan rekomendasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI sehingga kemungkinan besar baru siap tahun depan.

“Perihal kapan waktu vaksin bisa digunakan, diprediksi sekitar 10 hingga 11 bulan lagi. Mengingat tahap praklinis bukanlah tahap yang sederhana dan sebentar. Jadi proses ini masih panjang agar efektivitas vaksin bisa benar-benar maksmal. Kami mohon doanya, semua harap bersabar dan semoga vaksin Merah Putih bisa segera dimanfaatkan oleh semua kalangan,” tegas Nasih.

Unair Tangani 3 Platform Kandidat Vaksin Merah Putih

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Kordinator Produk Riset Covid-19 Unair, Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih mengatakan bahwa perjalanan riset vaksin Merah Putih Unair merupakan perjalanan panjang dengan tim besar.

“Ada tiga platform yang dikembangkan oleh Unair. Dalam mengumpulkan kandidat vaksin setidaknya ada 8 platform. Kami mengambil 3 dari yaitu dua classical dan satu next generation. Pada intinya, semuanya untuk mendapatkan bagian protein dari virus yang merupakan antigen, lalu disuntikkan ke tubuh kita untuk mendapatkan antibodi,” ujarnya.

Ni Nyoman menambahkan bahwa dari tiga platform, ada satu yang sudah jalan dan memasuki tahap uji praklinik dan platform inilah yang dipercepat dengan platform lain tetap berjalan.

“Karena kita tidak tahu ke depannya, jadi tetap kita jalankan,” imbuh Ni Nyoman.

Untuk platform vaksin yang berstatus “in-activated” atau yang sudah jalan ini, menurut Ni Nyoman tidak bisa sembarangan.

“Meski sering digunakan, atau virus dimatikan juga tidak mudah. Dalam melakukan hal ini, perlu terobosan teknologi. Dan Alhamdulillah berhasil dengan banyak sampel dari RSUD dr. Soetomo, RSUA, dan LPT,” kata Ni Nyoman.

Menurut Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi dan Community Development Unair ini, tahapan pembuatan vaksin Merah Putih ini tentu masih panjang mulai dari fase laboratorium, berlanjut ke uji praklinik yang juga butuh waktu panjang hingga nantinya masuk dalam ranah industri untuk produksi massal.

“Semua tahapan itu kita lalui dengan arahan dari BPOM dan Kementerian Kesehatan. Ini tahapan yang sudah kita lalui dalam setahun ini. Mudah-mudahan semua proses bisa berjalan dengan baik,” harapnya.

Sementara terkait dengan efektivitas vaksin terhadap variasi baru Covid-19, Ni Nyoman menyatakan bahwa Unair sudah mendesain vaksin agar bisa menyikapi varian baru yang muncul dari berbagai negara.

“Munculnya varian baru di tempat lain, sudah diantisipasi oleh tim peneliti kami. Kita sudah siapkan stren agar evikasi vaksin tinggi dan bisa antisipasi dengan varian baru. Mohon doanya semoga tahap preklinik memberikan hasil yang bagus,” pungkasnya penuh harap.

(pkip/bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.