Berita Terpercaya Tajam Terkini

Herawati Diah, Pejuang Pers Indonesia

(foto: istimewa)

 

Pagi ini, 4 Mei 2020, saya menyaksikan foto Ibu Herawati Diah sewaktu masih muda. Foto yang terpampang di Face Book Rushdy Hoesein ini sudah tentu mengundang decak kagum, ” Wah, cantik ya? .”

Benar, itulah penampilan Ibu Herawati Diah sewaktu masih muda. Gadis yang lahir di Tanjung Pandan, Belitung, 3 April 1917 tersebut menikah dengan seorang pemuda bernama Burhanudin Mohamad (B.M) Diah atau lebih populer dengan panggilan B.M. Diah.

Di dalam biografi B.M. Diah yang saya tulis, “Butir-Butir Padi B.M. Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman” (Jakarta: Pustaka Merdeka, 1992), B.M. Diah menceritakan mengenai pernikahannya dengan Herawati ( sebelum menikah melekatkan nama ayahnya di depan namanya, Herawati Latif) pada 18 Agustus 1942. Waktu itu Herawati masih menjadi penyiar Radio Jepang, sementara B.M. Diah bekerja di surat kabar “Asia Raya,” di mana para pemimpinnya adalah orang-orang Jepang. Sebelumnya B.M. Diah memulai karir sebagai wartawan di Medan di harian “Sinar Deli.” Jadi kedua wartawan ini bekerja di perusahaan bangsa Jepang.

Di halaman 65 buku tersebut, B.M. Diah menceritakan acara pernikahannya yang dihadiri Bung Karno dan Bung Hatta. Kehadiran kedua tokoh bangsa tersebut karena hubungan baik paman Herawati, Mr. Soebardjo dengan kedua pemimpin bangsa Indonesia tersebut. Setelah acara pernikahan, hubungan B.M. Diah dengan Bung Karno dan Bung Hatta semakin dekat. Apalagi pada tanggal 16 Agustus 1945, B.M. Diah ikut menyaksikan perumusan naskah proklamasi di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda sebagai wartawan “Asia Raya” dan tokoh pemuda “Angkatan Baru ’45.” Sekarang rumah Maeda itu masih bisa disaksikan di Jalan Imam Bonjol No. 1, Jakarta Pusat, yang sekarang adakah Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Menariknya, konsep asli tulisan tangan Bung Karno, yang oleh Sayuti Melik di buang saja di ruangan tersebut. Lalu secara diam-diam dipungut oleh B.M. Diah dan dimasukan ke saku celananya. Setelah bertahun-tahun, pada tanggal 19 Mei 1992, konsep asli Proklamasi dari Bung Karno tersebut diserahkan kepada Presiden Soeharto di Bina Graha, Jakarta. Ikut menyaksikan Mensekneg Moerdiono dan Gubernur DKI Jakarta waktu itu, yaitu Tjokropranolo.

Sekarang di Museum Perumusan Naskah Proklamasi dapat pula disaksikan patung pengetikan, di mana Sayuti Melik sedang mengetik dan B.M. Diah terlihat di belakang menyaksikan. Patung itu diresmikan pada tanggal 15 Agustus 2005.

Kembali kepada sosok Ibu Herawati Diah. Ketika Harian “Merdeka,” didirikan B.M. Diah pada 1 Oktober 1945, sang isteri Herawati Diah ikut membantu. Pada waktu itu harian “Merdeka,” terus berkembang sehingga membentuk sebuah “Grup Merdeka,” terdiri selain harian “Merdeka,” ada koran mingguan “Munggu Merdeka,” surat kabar berbahasa Inggris ” Indonesian Observer,” majalah berita bergambar “Topik,” dan majalah untuk ibu, bapak dan anak “Keluarga.”

Tahun 2016, saya menulis di “Kompasiana,” tentang akhir kehidupan Ibu Herawati Diah. Ia meninggal dunia pada hari Jumat, 30 September 2014. Saya menggambarkan iringan jenazah. Pelan-pelan jenazah ibu Herawati Diah dibawa dari rumah kediaman beliau ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Langit sedikit mendung seakan-akan ikut bersedih akan kepergian almarhumah.

Sebelumnya, peristiwa yang sama pun pernah terjadi, ketika iring-iringan jenazah almarhum Bapak Burhanudin Muhammad (B.M) Diah dibawa  menuju Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Akhirnya, makam ibu Herawati persis berdampingan dengan makam Bapak B.M. Diah. Sepintas, biasa- biasa saja.Tetapi buat saya, ini merupakan hal luar biasa. Karena peranan Sang Pencipta ikut di dalamnya. Ini merupakan wujud keabadian yang saya sebut cinta agung seorang perempuan bernama Herawati dan namanya selalu disandingkan dengan nama suaminya B.M. Diah, Herawati Diah.

Ketika semua orang sudah pulang ke tempat tinggalnya masing-masing, saya merenung bahwa makam ini mirip seperti bangunan di Taj Mahal di Agra, India. Bangunan megah yang diperuntukkan untuk sang isteri sebagai tanda kesetiaan.

Perjalananan ibu Herawati bersama sang suami, menurut saya lebih dari bangunan di Taj Mahal itu.Saya menyebutnya cinta agung yang diperlihatkan ibu Herawati kepada suaminya, B.M. Diah. Mengapa tidak?

Hubungan saya tetap baik dengan Ibu Herawati. Ketika Pak Diah meninggal dunia, saya tidak hadur. Menurut seorang teman sesama wartawan yang pernah di harian “Merdeka, ” ibu Herawati bertanya kenapa saya tidak hadir untuk melayat almarhum Pak Diah. Saya hanya menulis di Harian “Merdeka,” berjudul: “Selamat Jalan B.M.Diah.”

Buat seorang manusia, hubungan batin saya dengan Ibu Herawati tetap berjalan. Klimaksnya ketika para mantan wartawan Merdeka Sangaji 11 menulis sebuah buku dan merayakan 99 tahun Ibu Herawati Diah, saya dua kali berjabat tangan. Itulah akhir dari pertemuan saya dengan almarhumah.

Selamat Jalan Ibu Herawati Diah.Semoga Allah menilai dari ketabahan menghadapi cobaan selama ini. Dimasukanlah ke surga yang telah Engkau janjikan. Aamiin…!!!

 

Comments are closed.