Fenomena Childfree, Pakar Unair: Dampak Perkembangan Zaman

0
Childfree di Indonesia
ilustrasi. (foto: by shout)

 

SURABAYA – Istilah childfree tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial akhir-akhir ini. Childfree sendiri didefinisikan sebagai keputusan seseorang atau pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak. Bagi masyarakat Indonesia, keputusan tersebut dianggap cukup mengejutkan sehingga menuai tanggapan pro dan kontra.

Menanggapi hal itu, Guru Besar Sosiologi Universitas Airlangga (Unair) Prof. Bagong Suryanto menjelaskan bahwa secara sosial status dan eksistensi perempuan pada jaman dulu dilihat dari seberapa banyak dia bisa melahirkan anak. Akan tetapi, indikator tersebut saat ini sudah mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman. Menurutnya, kesuksesan perempuan kini sudah tidak lagi diukur dari ranah domestik, melainkan berdasar sektor publik seperti karir, prestasi, dan indikator baru lainnya.

“Jadi, kalau sekarang muncul perempuan yang mengumumkan tidak ingin punya anak, itu adalah perkembangan baru. Sah-sah saja dilakukan. Hanya saja pada titik tertentu nantinya, saya yakin kerinduan untuk punya anak akan muncul,” terang dosen yang biasa disapa Prof. Bagong dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi cakrawarta.com, Jumat (27/8/2021).

Pilihan untuk memiliki anak atau tidak, menurut Prof. Bagong merupakan suatu kebebasan yang sifatnya personal. Meski begitu, childfree tidak hanya menjadi keputusan mutlak dari perempuan, tetapi juga keputusan pasangan sebagai sebuah keluarga.

Childfree sebenarnya bukanlah hal baru di luar negeri. Namun, istilah tersebut justru memunculkan banyak perdebatan yang cenderung pada stigma negatif ketika direspon di Indonesia. Menurut Prof Bagong dikarenakan adanya perbedaan masyarakat dalam menghormati hak. Masyarakat luar negeri, sangat menghormati hak privat dan otonomi individu. Sementara, di Indonesia, masyarakat dianggapnya lebih menghargai hak kelompok.

“Saya yakin childfree adalah sikap sebagian kecil perempuan. Sebagai hak pribadi, boleh-boleh saja mereka memilih seperti itu dan masyarakat tidak perlu merespons secara serius,” ucapnya.

Ditanya perihal alasan yang bisa melatarbelakangi seorang pasangan untuk memilih childfree, dosen pengampu mata kuliah Sosiologi Anak itu menuturkan adanya dua kemungkinan utama. Alasan pertama menurutnya adalah usia. Bisa jadi, seseorang memilih tidak ingin punya anak karena usianya masih muda. Pada tingkat elementer, lanjutnya, perempuan juga bisa menunda untuk punya anak dengan cara menikah pada usia yang benar-benar sudah matang.

Sementara itu, alasan kedua adalah adanya hasrat untuk meniti karir. Dalam perjalanan meraih kesuksesan karir, Prof. Bagong menyebut tidak sedikit perempuan yang menganggap bahwa hadirnya seorang anak menjadi rintangan tersendiri.

“Kalau dibilang alasan childfree adalah karena masih banyak anak yang terlantar atau tidak ingin menambah populasi di bumi, saya rasa itu rasionalisasi dan bukan alasan sesungguhnya,” pungkas Prof Bagong.

(pkip/bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.