
“Ruh Isa (Yesus) adalah ruh kesucian. Barangsiapa menghirupnya, ia akan hidup. Tetapi kehidupan itu bukan kehidupan jasmani, melainkan kehidupan ruhani.” — Jalaluddin Rumi (1207-1273) dalam Fihi Ma Fihi (Terjemahan 2014)
Sejak awal abad ke-21, sejumlah ordo Kekristenan tertentu mengajak umatnya untuk memedomani puasa Yesus sebagaimana perintah Injil.
Di antara pandangan dan anjuran ini, dapat ditilik dari dua buku.
Pertama, Lou Engle, lahir 9 Oktober 1952 dan kini berusia 73 tahun, masih aktif sebagai pemimpin rohani, penggerak doa dan puasa, serta pendiri Lou Engle Ministries setelah sebelumnya memimpin gerakan doa besar TheCall.
Bersama Dean Briggs, seorang penulis dan pengajar Kristen, mereka menulis The Jesus Fast (2016).
Buku ini menekankan puasa Yesus selama 40 hari di padang gurun sebagai pola kebangunan rohani kontemporer.
Engle dan Briggs mengajak umat Kristen meneladani Yesus dengan puasa panjang, bukan sekadar praktik asketis, tetapi strategi rohani untuk menghadapi pencobaan, memperdalam hubungan dengan Allah, dan mempersiapkan pelayanan.
Mereka menekankan bahwa kebangunan rohani global membutuhkan disiplin doa dan puasa yang serius, sebagaimana Yesus memulai pelayanannya dengan puasa.
Perintah puasa dalam Injil dikutip jelas:
Dalam Matius 4:2, “Setelah berpuasa empat puluh hari empat puluh malam, ia merasa lapar,” yang menandai persiapan Yesus menghadapi pencobaan dan pelayanan.
Kemudian, Lukas 4:1–2, “Yesus, penuh dengan Roh Kudus, meninggalkan sungai Yordan dan dipimpin oleh Roh ke padang gurun, di mana selama empat puluh hari dia dicobai iblis. Dia tidak makan apa pun pada hari-hari itu, dan pada akhir hari-hari itu dia merasa lapar,” yang menekankan puasa sebagai latihan rohani untuk memperkuat iman.
Berikut, Matius 6:16–18, “Pada waktu kamu berpuasa, janganlah kamu terlihat muram seperti orang munafik… Tetapi pada waktu kamu berpuasa, bubuhkan minyak pada kepalamu dan basuhlah mukamu, supaya tidak terlihat oleh orang lain bahwa kamu sedang berpuasa, tetapi hanya kepada Bapamu yang tidak kelihatan,” yang menunjukkan bahwa puasa harus dilakukan dengan hati tulus dan bukan untuk pamer.
Dengan demikian, The Jesus Fast menghubungkan teladan Yesus dalam Injil dengan panggilan modern untuk berpuasa sebagai sarana kebangunan rohani dan transformasi sosial.
Betikut Arthur Wallis, lahir 1922 di Inggris dan wafat 1988, dikenal sebagai pengajar dan penulis Injili yang menekankan kehidupan rohani mendalam, termasuk disiplin puasa.
Bukunya God’s Chosen Fast pertama kali terbit 1968 dan terus dicetak ulang hingga edisi terbaru, misalnya 2017.
Karya ini dianggap klasik dalam tradisi Injili karena memberikan kerangka teologis dan praktis tentang puasa, dengan menempatkan puasa Yesus 40 hari di padang gurun sebagai teladan utama.
Wallis menekankan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan sarana menundukkan keinginan daging, melatih disiplin rohani, membuka ruang bagi doa yang lebih mendalam, serta meneladani Yesus dalam persiapan menghadapi pencobaan dan pelayanan publik.
Ringkasnya, God’s Chosen Fast mengajarkan bahwa puasa adalah “alat pilihan Allah” untuk membawa umat-Nya kepada kedekatan, kekuatan, dan ketekunan rohani.
Dengan demikian, hal itu tetap relevan karena menghubungkan praktik kuno dengan kebutuhan spiritual modern.
Untuk membandingkan kedua pandangan ini, dapat ditarik ke perspektif Jalaluddin Rumi, hidup di abad-13. Ia dari keluarga ulama yang pindah dari Balkh ke Anatolia (Turki) karena situasi politik dan invasi Mongol..
Dalam Fihi Ma Fihi yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Forum Relasi Inti Media pada 2014, Rumi menyinggung Yesus sebagai simbol ruh suci yang hidup dalam kesederhanaan dan pengosongan diri.
Ia menempatkan Yesus sebagai teladan asketisme, di mana puasa bukan sekadar ritual, melainkan jalan menuju keterhubungan dengan cahaya Ilahi.
Rumi menulis bahwa “roh Yesus adalah roh kesucian yang memberi kehidupan,” sehingga puasa menjadi sarana untuk menyingkirkan tabir duniawi agar roh manusia dapat bersatu dengan sumber kehidupan.
Perspektif ini diperkuat oleh Prof. Dr. Erkan Türkmen dalam Rumi and Christ: Sublimity of Rumi’s Love (Nuve Kultur Merkezi, 2011).
Türkmen, seorang akademisi Turki yang masih aktif menulis dan meneliti sufisme, menekankan bahwa Rumi melihat Yesus sebagai figur cinta dan kesucian universal.
Dalam pandangan Rumi, puasa Yesus adalah simbol pengosongan diri demi cinta Ilahi, sejalan dengan ajaran sufisme tentang fana dan mahabbah.
Türkmen menunjukkan bahwa Rumi menafsirkan Yesus bukan hanya sebagai nabi dalam tradisi Islam.
Akan tetapi, juga sebagai lambang sublimitas cinta yang melampaui batas-batas agama.
Dalam pandangan Rumi, menurut Türkmen, Yesus adalah teladan kerendahan hati dan cinta ilahi.
Ia sering digambarkan sebagai “roh suci” yang sepenuhnya tenggelam dalam kasih Tuhan.
Salah satu ungkapan Rumi yang sering dikaitkan dengan Yesus adalah:
“Yesus, roh dari Tuhan, berbicara dengan kata-kata cinta, dan setiap napasnya adalah kehidupan bagi hati yang mati.”
Dengan demikian, jika Engle–Briggs dan Wallis menekankan puasa Yesus sebagai disiplin rohani dalam kerangka Injili, Rumi melalui Fihi Ma Fihi dan pembacaan Türkmen menempatkan Yesus sebagai teladan universal pengosongan diri dan cinta Ilahi.
Puasa Yesus menurut Rumi bukan sekadar persiapan pelayanan, melainkan metafora perjalanan jiwa menuju kesatuan dengan Tuhan, menjadikan praktik ini relevan bagi lintas tradisi spiritual.
#coversongs: Lagu “Mevlana Jalaluddin Rumi -Dream of Shams” oleh Mercan Dede (60) alias Arkın Ilıcalı -dirilis dalam album Sufi Dreams pada 1997 (Golden Horn Productions, AS) dan juga beredar dalam format CD di Turki pada 1998 melalui Zihni Müzik. Mercan Dede masih aktif sebagai musisi, DJ, dan produser, dikenal dengan perpaduan musik tradisional Turki (ney, bendir) dan elektronik modern.
REINER EMYOT OINTOE (ReO)
Fiksiwan



