Dualisme Goblox, PP Tunas dan Mundurnya Raline Shah

(Menkomdigi, Muetia Hafid, Staf khusus, Raline Shah, dan anak-anak Indonesia di depan Kantor Roblox, Amerika, atas perbuatan AI. Gambar dari penulis)

“Kepercayaan lebih dari sekadar jabat tangan. Ia adalah kesepakatan dan ikatan antara pengguna layanan digital dan penyedia layanan tersebut yang memungkinkan kita untuk menikmati, menjadi produktif, belajar, mengeksplorasi, mengekspresikan diri, berkreasi, dan mendapatkan informasi.” -Satya Nadella (50), Hit Refresh: The Quest to Rediscover Microsoft’s Soul and Imagine a Better Future for Everyone (2017).

Langkah Menteri Komunikasi dan Digital Meutia Hafid menyambangi kantor Roblox di San Mateo, Amerika Serikat -untuk mendiskusikan implementasi Peraturan Pemerintah tentang Perlindungan Anak di Ruang Digital(PP Tunas)- menghadirkan sebuah lanskap kritik yang menggelitik sekaligus memprihatinkan.

Kunjungan pejabat negara ke markas besar platform gim global demi urusan regulasi perlindungan anak tampak seperti diplomasi digital yang berdedikasi.

Namun di sisi lain, memancarkan pula komedi absurdistis tentang bagaimana birokrasi gagap berkejaran dengan kecepatan teknologi.

Dalam esai Jauh-Jauh Ngurus Roblox, Cak Ahmadie Thaha membedah paradoks ini dengan menunjukkan betapa negara kerap kebingungan menata kedaulatan digitalnya.

Langkah fisik yang melintasi samudera demi sekadar membicarakan platform gim anak-anak memperlihatkan keterbelakangan cara berpikir birokrasi yang masih terikat oleh wilayah geografis konvensional.

Sementara, realitas anak-anak pengguna platform tersebut bergerak pada ranah yang sepenuhnya melampaui batas fisik.

Kritik atas peristiwa ini menjadi semakin tajam jika dibaca melalui kacamata dromologi digital Paul Virilio.

Virilio dalam Speed and Politics: An Essay on Dromology (1977), menegaskan bahwa esensi dari era kontemporer bukanlah ruang atau tempat, melainkan kecepatan dan percepatan (dromology).

Dalam logika dromologi, siapa yang menguasai kecepatan, dialah yang memegang kekuasaan.

Roblox bukan sekadar arena bermain virtual, melainkan sebuah ruang dromologis di mana simulasi, interaksi, dan potensi paparan risiko bagi anak berlangsung dalam hitungan milidetik.

Di saat Menkomdigi memilih terbang secara fisik menyeberangi Samudera Pasifik hanya untuk menegakkan aturan hukum terhadap sebuah platform algoritma, berlangsung pula benturan yang nyata antara kecepatan akselerasi digital dan kelambatan birokrasi analog.

Negara bertindak dalam tempo lambat yang terikat ruang, sedangkan platform digital terus berakselerasi tanpa memedulikan batas teritorial.

Asimetri kecepatan ini memperlihatkan bahwa negara sebenarnya telah kehilangan kendali dromologisnya atas ruang hidup warganya sendiri.

Keresahan publik semakin menghebat ketika dalam waktu yang tidak berselang lama, Raline Shah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Staf Khusus Menkomdigi.

Meskipun kedua peristiwa ini secara administratif dan prosedural tidak memiliki hubungan sebab-akibat yang langsung, pertautan temporal keduanya di panggung publik melahirkan sebuah simbolisme politis yang sarat makna.

Pengunduran diri Raline Shah -aktris, model, pengusaha, dan figur publik Indonesia- seolah-olah menjadi gema panggung atas disorientasi yang sedang terjadi di dalam tubuh kementerian.

Di satu sisi, kementerian memamerkan manuver simbolis dengan memboyong jajaran pejabat ke luar negeri demi gim daring.

Malahan di sisi lain, tatanan internalnya terguncang oleh pergeseran dan pengunduran diri jajaran elitnya.

Peristiwa ini menggambarkan kecenderungan tontonan politik digital di mana fokus negara bergeser dari substansi tata kelola yang tangkas menjadi sekadar komodifikasi gestur dan pencitraan.

Kombinasi antara diplomasi fisik yang tidak efisien dan ketidakstabilan internal Kementerian Komunikasi dan Digital menggambarkan bahaya kecelakaan dromologis yang diperingatkan oleh Virilio.

Ketika penegakan hukum dan perlindungan anak difokuskan pada diplomasi tatap muka daripada pembangunan infrastruktur pengawasan algoritma yang canggih dan real-time di dalam negeri, maka negara sebetulnya sedang menciptakan ilusi perlindungan.

Anak-anak di Indonesia tetap berhadapan dengan kecepatan risiko simulasi digital setiap detik.

Sementara, regulasi negara bergerak sehalus dan selambat birokrasi abad lampau.

Pengunduran diri Raline Shah di tengah kerumunan wacana Roblox ini mempertegas bahwa kepemimpinan digital membutuhkan artikulasi arah yang padu dan pemahaman atas kecepatan zaman.

Dan tentu, bukan sekadar hiruk-pikuk kunjungan kerja luar negeri yang menyisakan tontonan ketimpangan antara kenyataan digital dan tindakan politik.(*)

#coverlagu: Lagu ikonik “The Robots” atau dalam judul bahasa Jerman aslinya, “Die Roboter” oleh kelompok pelopor musik elektronik asal Jerman, Kraftwerk, dirilis sebagai singel pada 12 Mei 1978.

Jakarta, 14 Oktober 2026

REINER EMYOT OINTOE 

Fiksiwan