
JOMBANG, CAKRAWARTA.com – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan dunia pendidikan pesantren. Dua murid Madrasah Aliyah Unggulan KH. Abdul Wahab Hasbulloh (MAUWH) Tambakberas, Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang, berhasil melaju ke babak final ICDL Digital Challenge 2026 di Malaysia. Keduanya bersaing dalam kompetisi literasi digital tingkat Asia Pasifik yang menguji kompetensi teknologi praktis dan keterampilan masa depan.
Dua murid tersebut adalah Muhammad Faqih Riyadi asal Depok dan Karin Adzka Isfahany asal Jombang. Keduanya merupakan murid kelas XI yang berhasil menunjukkan kemampuan di bidang digital hingga menembus babak final kompetisi internasional tersebut.
Dalam ajang ini, Karin mengikuti Business Track, sedangkan Faqih berkompetisi pada Emerging Technologies Track. Adapun Design Track menjadi bidang keahlian lainnya yang dipertandingkan dalam ICDL Digital Challenge 2026.
Rangkaian kompetisi telah berlangsung sejak awal 2026. Babak penyisihan tingkat provinsi (Preliminary Round) dimulai pada 2 Juni 2026, dilanjutkan babak nasional (National Round) pada 14 Juli 2026 untuk menyaring perwakilan terbaik dari setiap negara.
Babak grand final dilaksanakan secara daring pada 5-26 Agustus 2026. Sementara itu, pengumuman pemenang serta penyerahan penghargaan berupa medali emas, perak, dan perunggu dijadwalkan dirayakan dalam ICDL Asia Digital Literacy Day 2026 pada 20-22 Oktober 2026 di Sunway TES College, Johor Bahru, Malaysia.
Menjelang babak final, Faqih mengaku telah melakukan berbagai persiapan, mulai dari penguasaan materi hingga kesiapan mental dan teknis.
“Baik menyiapkan materi, latihan praktik, kesiapan mental, persiapan teknis atau administrasi,” ujarnya, Minggu (18/10/2026).
“Termasuk menjaga kesehatan serta dukungan dan doa orang tua, guru serta semuanya,” imbuhnya.
Bagi Faqih, perjalanan menuju babak final bukan semata-mata tentang mengejar kemenangan. Proses tersebut juga menjadi ruang pembelajaran yang memberikan pengalaman berharga dalam membangun kedisiplinan dan daya juang.
“Perjalanan ini bukan hanya tentang meraih kemenangan, tetapi juga proses belajar, perjuangan, kedisiplinan dan pengalaman berharga,” kenangnya bangga.
Pengalaman serupa dirasakan Karin. Ia mengaku memperoleh tambahan pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan digital melalui kompetisi tersebut. Kesempatan ini juga menjadi kebanggaan tersendiri karena dapat membawa nama madrasah ke tingkat internasional.
Namun, proses persiapan bukan tanpa tantangan. Sebagai santri yang tinggal di lingkungan pondok pesantren, Karin harus mampu mengatur waktu antara kegiatan pendidikan, persiapan kompetisi, dan kebutuhan istirahat.
“Meski kita harus meluangkan waktu untuk belajar dan menguasai materi bahkan terkadang harus mengurangi waktu bermain atau beristirahat terlebih kita berada di lingkungan pondok pesantren harus pintar-pintar membagi waktu,” katanya polos.
Kebahagiaan Karin semakin terasa ketika mengetahui dirinya berhasil melaju ke babak final. Terlebih, kompetisi ini menjadi pengalaman internasional pertamanya sekaligus kesempatan membawa nama MAUWH Tambakberas ke panggung yang lebih luas.
“Tentu bangga, terharu dan sedikit kurang percaya bisa sampai di tahap sekarang, karena ini adalah kompetisi internasional pertama bagi saya dan membawa nama madrasah ketingkat internasional,” imbuhnya.
Di balik pencapaian tersebut, peran guru pembimbing dan dukungan lembaga menjadi bagian penting dalam perjalanan kedua murid. Faqih menyebut Hermawan dan Dewi Mistika Sari sebagai dua guru yang turut membantu persiapan mereka, bersama dukungan madrasah dan PT Solusi Edukasi Internasional.
“Ada Pak Hermawan dan lbu Dewi Mistika Sari, selain dukungan penuh dari madrasah dan juga dukungan dari PT Solusi Edukasi Internasional,” ujar Faqih.
Kepala MAUWH Tambakberas, Faizun, turut mengapresiasi keberhasilan kedua muridnya yang mampu melaju hingga babak final ICDL Digital Challenge 2026. Apresiasi tersebut disampaikan setelah dirinya melepas Faqih dan Karin untuk mengikuti agenda di Malaysia.
Menurut Faizun, pencapaian itu menjadi kebanggaan bagi madrasah sekaligus menunjukkan pentingnya pengembangan kompetensi digital bagi peserta didik agar mampu bersaing di tingkat internasional.
“Pencapaian ini merupakan prestasi yang sangat membanggakan sekaligus menjadi bukti komitmen madrasah dalam mendorong pengembangan kompetensi digital dan daya saing siswa di tingkat internasional,” ujarnya.
“Semoga kegiatan ini berjalan dengan lancar mendapatkan jejak positif bagi Faqih Riyadi dan Karin Adzka Isfahany,” pungkasnya.
Keberhasilan Faqih dan Karin menembus babak final ICDL Digital Challenge 2026 memperlihatkan bahwa lingkungan pendidikan pesantren juga menjadi ruang tumbuhnya kompetensi teknologi dan keterampilan digital. Dengan bekal pembelajaran, pendampingan guru, serta dukungan madrasah, keduanya membawa harapan untuk mengharumkan nama MAUWH Tambakberas dan Indonesia di ajang internasional.(*)
Kontributor: Mukani
Editor: Abdel Rafi








