Thursday, April 2, 2026
spot_img
HomeGagasanKolomDonald Trump dan Ironi Manusia Mutakhir Satu Dimensi

Donald Trump dan Ironi Manusia Mutakhir Satu Dimensi

(foto:

“Dalam utopia saya, solidaritas manusia tidak akan dipandang sebagai fakta yang harus diakui… melainkan sebagai tujuan yang harus dicapai. Solidaritas tercipta dengan meningkatkan kepekaan kita terhadap detail-detail khusus dari penderitaan dan penghinaan orang lain, orang-orang yang tidak kita kenal.” — Richard Rorty (1931–2007), Contingency, Irony, and Solidarity (1989)

Membaca karakter Donald Trump dari biografi Donald Trump: 2025 (2024) karya Jill C. Wheeler seraya menimbangnya dengan perspektif filsafat Herbert Marcuse dan sosiologi Robert Bellah, kita seakan berhadapan dengan sebuah drama sosial yang penuh ironi.

Wheeler menampilkan Trump sebagai sosok ambisius, percaya diri, dan kontroversial, seorang “polarizing figure” yang blak-blakan, penuh retorika, dan senantiasa menantang norma politik.

Ia adalah pengusaha yang menjadikan citra sebagai mata uang utama, bintang televisi yang mengubah panggung hiburan menjadi panggung politik, dan presiden yang tetap menjadi pusat perhatian, baik dikagumi maupun dikritik.

Namun, jika Herbert Marcuse (1898-1979), filsuf kelahiran Jerman, dihadirkan di ruang baca hari ini, ia mungkin akan tersenyum getir.

Merujuk One-Dimensional Man: Studies in the Ideology of Advanced Industrial Society (1964), Marcuse menulis tentang manusia modern yang terjebak dalam sistem konsumsi dan teknologi dan kehilangan kedalaman kritis.

Marcuse melihat orang Amerika sebagai “manusia satu dimensi” yang kebutuhan dan kesenangannya telah diseragamkan dan dipasok oleh sistem kapitalisme maju (late capitalism).

Kebebasan yang mereka rasakan bukanlah kebebasan sejati, melainkan bentuk kontrol sosial yang halus melalui konsumsi, hiburan, dan teknologi.

Menurut Marcuse, masyarakat Amerika tampak egaliter karena semua orang menikmati produk dan hiburan yang sama, tetapi sebenarnya hal itu justru memperkuat struktur kekuasaan yang ada.

Karakter orang Amerika dalam analisis Marcuse adalah individu yang kehilangan kemampuan kritis karena terjebak dalam kenyamanan material.

Rasionalitas teknologis dan konsumerisme membuat mereka menerima status quo tanpa mempertanyakan ketidakadilan sosial.

Dengan demikian, One-Dimensional Man menggambarkan masyarakat Amerika sebagai contoh paling jelas dari peradaban industri maju yang menekan potensi pembebasan manusia melalui integrasi kebutuhan dan kepuasan ke dalam sistem kapitalisme.

Dengan slogan-slogan yang sederhana dan citra yang terus dipoles, menyimak dari karakter Trump dekade ini tampak sebagai manifestasi manusia satu dimensi yang dimaksud Marcuse, “Radikal di permukaan, tetapi sesungguhnya memperkuat struktur dominan kapitalisme dan kekuasaan.“

Trump menjual ilusi perubahan, tetapi sebetulnya yang dijual adalah paket lama dengan kemasan baru, sebuah paradoks modernitas yang oleh Marcuse sudah diperingatkan sejak 1964 dengan tagar “great refusal.“

Lain hal, sosiolog Robert N. Bellah (1927-2013) dalam Habits of the Heart: Individualism and Commitment in American Life (1985), menyoroti karakter orang Amerika yang terjebak antara individualisme dan komitmen sosial.

Dikutip ia mengungkapkan bahwa, “Kita tidak akan pernah benar-benar memahami diri kita sendiri sendirian. Kita menemukan siapa diri kita melalui interaksi tatap muka dan bersama orang lain dalam pekerjaan, cinta, dan pembelajaran.

Kutipan ini menggambarkan pandangan Bellah bahwa identitas orang Amerika tidak terbentuk secara soliter, melainkan melalui interaksi sosial, meski budaya individualisme sangat kuat.

Bellah juga menekankan bahwa orang Amerika sering melihat kebebasan sebagai hak untuk menentukan diri sendiri, tetapi pada saat yang sama mereka membutuhkan komunitas untuk menemukan makna hidup.

Dalam analisisnya, ia menunjukkan paradoks dimana masyarakat Amerika mengagungkan otonomi individu, namun tetap mencari solidaritas melalui keluarga, pekerjaan, dan komunitas keagamaan.

Hal ini mencerminkan karakter teologi sipil Amerika yang ia kenalkan sebelumnya, di mana nilai-nilai religius dan moral digunakan untuk menopang kehidupan publik.

Dengan demikian, Habits of the Heart menampilkan orang Amerika sebagai sosok yang berusaha menyeimbangkan antara kebebasan pribadi dan komitmen sosial.

Bellah melihat bahwa tanpa keterikatan pada orang lain, individualisme bisa berujung pada keterasingan.

Sementara, komitmen sosial memberi ruang bagi solidaritas dan makna kolektif.

Dengan demikian, ulasan Bellah menjadi salah satu karya sosiologi klasik yang memetakan “jiwa” Amerika modern.

Lebih lanjut, Bellah juga menekankan paradoks budaya Amerika.

Di satu sisi, masyarakat sangat menjunjung tinggi individualisme, kebebasan pribadi, dan otonomi. Namun, di sisi lain, mereka tetap membutuhkan komitmen sosial, komunitas, dan solidaritas untuk menemukan makna hidup.

Bellah menggambarkan orang Amerika sebagai sosok yang tidak bisa sepenuhnya memahami dirinya sendiri tanpa keterhubungan dengan orang lain.

Jika uraian Bellah ini dikaitkan dengan karakter Donald Trump, maka terlihat bagaimana gaya kepemimpinan dan retorika Trump sering menonjolkan individualisme, kemandirian, dan penekanan pada “self-made success.”

Hal tersebut sejalan dengan sisi individualistik yang Bellah identifikasi sebagai ciri khas Amerika.

Namun, Bellah juga mengingatkan bahwa orientasi semata pada kebebasan pribadi bisa menimbulkan keterasingan dan melemahkan solidaritas sosial.

Dalam konteks ini, analisis Bellah memberi kerangka untuk memahami mengapa gaya politik Trump yang menekankan personal branding dan kebebasan individu dapat menarik bagi sebagian orang Amerika.

Akan tetapi, sekaligus menimbulkan ketegangan dengan kebutuhan kolektif akan komitmen sosial dan solidaritas yang lebih luas.

Dengan kata lain, Bellah menyediakan lensa sosiologis untuk membaca karakter Trump sebagai manifestasi dari paradoks budaya Amerika yakni antara kebebasan individu yang kuat dan kebutuhan akan ikatan sosial yang tidak pernah bisa sepenuhnya ditinggalkan.

Ia melihat Amerika sebagai masyarakat yang terjebak antara individualisme dan komitmen sosial.

Selain itu, Trump dalam narasi Wheeler, adalah simbol individualisme yang ekstrem yaitu percaya diri tanpa batas, reputasi sebagai pusat segalanya, dan keyakinan bahwa dirinya adalah jawaban atas dilema bangsa.

Namun, Bellah akan mengingatkan bahwa kebebasan yang absolut tanpa tanggung jawab sosial hanya melahirkan isolasi dan polarisasi.

Dengan kata lain, karakter Trump menjadi cermin dari paradoks itu, seorang tokoh yang mengobarkan semangat kebebasan individu, tetapi sekaligus meretakkan ikatan komunitas.

Esai ringkas ini menjadi sejenis satire karena Trump, yang tampil sebagai tokoh besar dalam biografi Wheeler, justru terlihat sebagai karikatur dari perspektif kritik filsafat Marcuse dan psiko-sosiologis Bellah.

Ia adalah ironi manusia satu dimensi yang berteriak tentang kebebasan, tetapi kebebasan itu hanya memperkuat sistem yang sudah mapan.

Karena itu, dari perspektif filsafar “cermin alam“ Richard Rorty (1931-2007) dalam Contingency, Irony, and Solidarity (1989), “Manusia ironis” adalah individu yang sadar bahwa semua keyakinan dan kosakata bersifat kontingen, tidak absolut, dan bahwa solidaritas manusia dibangun melalui imajinasi serta empati, bukan pencarian kebenaran universal.

Lanjut Rorty, manusia ironis adalah individu yang menyadari bahwa kosakata moral, politik, atau filosofis yang digunakannya hanyalah hasil sejarah dan budaya, bukan kebenaran mutlak.

Ia menolak gagasan tentang adanya inti manusia atau kebenaran universal yang bisa ditemukan lewat refleksi.

Solidaritas, bagi manusia ironis, tidak dibangun melalui penemuan prinsip rasional, melainkan melalui kemampuan imajinatif untuk melihat penderitaan orang lain sebagai penderitaan kita sendiri.

Dengan sikap ini, manusia ironis tidak mencari kepastian metafisik, melainkan menerima bahwa semua keyakinan dapat digugat dan diganti.

Seperti mengutip lagi Rorty, “Dunia tidak berbicara. Hanya kita yang berbicara. … Mengatakan bahwa kebenaran tidak ada di luar sana sama artinya dengan mengatakan bahwa di mana tidak ada kalimat, di situ tidak ada kebenaran, bahwa kalimat adalah unsur-unsur bahasa manusia, dan bahwa bahasa adalah ciptaan manusia.

Dengan demikian, Trump sebagai “manusia ironis“ adalah simbol penjelmaan individualisme yang mengklaim komitmen, tetapi komitmen itu lebih banyak diarahkan pada basis pendukungnya daripada pada solidaritas sosial yang lebih luas.

Dengan demikian, karakter Trump tidak hanya kontroversial, tetapi juga ironis dan akut secara psikologis.

Ia adalah representasi tokoh yang menghidupkan kembali kritik lama para filsuf dan sosiolog dan menjadikan dirinya bukan sekadar presiden, melainkan juga bahan kajian yang terus mengingatkan kita bahwa politik modern sering kali lebih mirip panggung hiburan daripada ruang refleksi kritis.

#coversongs: Lagu “American Dream” oleh Gabbie June bersama Adhes dirilis pada 18 April 2022 di bawah label Not Fit For Anything Records. Makna lagu ini menggunakan konsep “American Dream” sebagai metafora untuk cinta ideal, menggambarkan hubungan yang begitu intens dan penuh harapan sehingga terasa seperti impian yang sempurna.

REINER EMYOT OINTOE (ReO)

Fiksiwan

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular