Dokter Spesialis Paru Ini Ingatkan Untuk Waspadai Gejala Long Covid-19

0
ilustrasi. (foto: Xinhua)

SURABAYA – Pada beberapa kasus virus Covid-19, pasien masih merasakan beberapa gejala, sekalipun telah dinyatakan negatif dari virus SARS-CoV-2. Kondisi tersebut kemudian dikenal dengan istilah long Covid-19, bila gejala sisa sampai melebihi 3 bulan.

Alfian Nur Rosyid, dr., Sp. P(K), FAPSR, FCCP selaku dokter spesialis paru Rumah Sakit Universitas Airlangga (RS Unair) menyebut, bahwa long Covid-19 sebagai gejala sisa dari virus Covid-19.

Long Covid-19 itu berarti pasien sudah sembuh dari Covid-19 namun masih memiliki tanda atau gejala sisa virus tersebut,” ungkap Alfian dalam keterangan yang diterima redaksi cakrawarta.com, Selasa (21/9/2021).

Alfian menambahkan bahwa long Covid-19 dapat terjadi di pernapasan.

“Misalkan keluhan pada pernapasan diantaranya masih batuk, masih berdahak dan juga sesak, itu bisa muncul,” imbuh Alfian.

Selain masalah pernapasan, Alfian menjelaskan bahwa pasien long Covid-19 dapat mengalami keluhan pada organ lain. Sebagai contoh yakni badan yang terasa capek, lemas, rasa sakit kepala, diare dan lainnya. Meskipun demikian, intensitasnya bisa jauh lebih berkurang dibandingkan ketika pasien masih terjangkit virus.

Alfian memaparkan bahwa pada long Covid-19 dapat terjadi sebanyak 1/3 sampai 2/3 kasus. Jumlah tersebut lebih banyak dibanding gejala sisa pada wabah SARS dan MERS.

“Di beberapa jurnal dan literatur disebutkan bahwa penyebab long Covdi-19 berhubungan dengan faktor usia. Pada pasien penyintas Covid-19 yang usianya tua, misalnya 80 tahun. Dia masih bisa bergejala,” ungkap Alfian.

Selain itu, menurut Alfian, long COVID-19 berhubungan dengan derajat berat dan ringannya pasien ketika dirawat karena Covid-19. Terutama apabila pasien memiliki komorbid termasuk terjadinya pneumonia pada paru.

“Risiko lain yakni pada pasien yang sempat dirawat di ICU dan mengalami badai sitokin. Kondisi tersebut dapat merusak paru dan sel lainnya,” tuturnya.

Alfian mengatakan, bahwa sel-sel pasien dapat rusak meskipun hasil swabnya sudah negatif. Sel yang sudah rusak tidak bisa kembali sempurna dan menyisakan gejala pada penyintas Covid-19.Terakhir, dr. Alfian juga menyebut bahwa resiko long Covid-19 dapat terjadi pada pasien dengan riwayat peminum alkohol.

“Karena ya sebelum Covid-19 dia mengonsumsi alkohol yang merusak sel tubuh. Fungsi liver, paru, dan organ-organ lain dapat terganggu. Upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah long Covid-19 di antaranya adalah pasien tidak malas bergerak sesuai dengan kemampuan meskipun saat di ruang isolasi rumah sakit, rutin konsumsi obat yang diberikan dokter, menghindari stres dan kecemasan, serta terus berdoa kepada Tuhan. Setelah pasien pulang dari rumah sakit, dia harus tetap sedapat mungkin melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuan, melakukan rehabilitasi fisik, berjemur dipagi hari, konsumsi multivitamin dan suplemen, terus berpikir positif, serta berdoa,” pungkas dokter yang juga pengajar di Fakultas Kedokteran Unair itu.

(bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.