Thursday, February 22, 2024
HomeEkonomikaDebat Cawapres Ke-4 Bahas Ketahanan Pangan, Ini Kritik Keras Pakar Unair

Debat Cawapres Ke-4 Bahas Ketahanan Pangan, Ini Kritik Keras Pakar Unair

ilustrasi ketahanan pangan di kota. (foto: localise SDGs)

SURABAYA – Ketahan Pangan menjadi salah satu tema dalam debat cawapres ke-4. Mengingat profesi petani pada saat ini jarang terjamah oleh generasi muda di Indonesia karena penghasilan yang tidak menentu. Permasalahan itu menjadi cukup pelik bagi Indonesia.

“Permasalahan terkait hilangnya minat generasi muda Indonesia untuk berprofesi sebagai petani memang sudah terjadi sejak lama. Ya, karena model pendidikan saat ini sifatnya modern teknis yang tidak berhubungan secara langsung dengan pertanian,” ujar Yusuf Ernawan pakar dari Universitas Airlangga pada media ini.

Yusuf menjelaskan permasalahan tersebut sudah terjadi pada tahun 1830-an hingga sekarang. Permasalahan itu, pernah dijelaskan oleh Clifford Geertz dalam teori Involusi. Yang mana ketertarikan orang desa terhadap kawasannya mengalami penurunan setelah munculnya perkotaan dan model-model pendidikan yang bersifat modern teknis.

“Permasalahan terkait mengurangi dan mencegah adanya migrasi yang arahnya juga menimbulkan permasalahan ketahanan pangan. Instansi pendidikan dan pemerintahan sudah melakukan banyak penanggulangan preventif, seperti KKN, pengabdian, sosialisasi, dan lain sebagainnya,” jelasnya.

Akan tetapi, orientasinya pada masa kini memang sudah berbeda. Sarjana-sarjana atau eli-elit yang tinggal di kota dan bekerja di bidang jasa jika dipaksakan pulang ke desa akan mengalami kesulitan untuk mengimplementasikan skill-nya karena memang tidak sejalan. Selain itu, tingkat kreativitas setiap individu juga berbeda untuk bertahan.

Yusuf mengatakan jika melihat dari sisi antropologi untuk membantu permasalahan ketahanan pangan. Dapat terlihat jika memposisikan sebagai masyarakat yang mengalaminya.

Apabila memposisikan sebagai masyarakat kota yang memiliki pekerjaan di kota, maka pemerintahan dapat membuatkan beberapa program. Seperti desa budidaya, desa hijau, dan gardening house dengan memanfaatkan atap rumah.

“Dulu di Rungkut, pada jamannya bu Risma. Penduduk setempat sering sekali melakukan penanaman cabai, tomat, kangkung. Melalui pot-pot sepanjang jalan gang-gang. Nah itu kan bisa menanggulangi perekonomian ketahanan pangan,” ungkapnya.

Cabai di zaman 80an belum menjadi indikator inflasi. Sedangkan pada masa sekarang menjadi indikator inflasi karena menjadi kebutuhan pokok dan harganya mengalami kenaikan yang tinggi. Dengan penanaman cabai di pot itu dapat membantu ketahanan pangan kota.

Bukan hanya itu, Yusuf juga menambahkan bahwa Surabaya sudah memanfaatkan Bekas Tanah Kas Desa (BTKD) bersama dengan masyarakat desa untuk menanam kebutuhan pokok seperti jagung, singkong, dan berbagai usaha lainnya yang dapat membantu perekonomian dan ketahanan pangan kota.

Sedangkan untuk masyarakat pedesaan perlu mendapatkan sosialisasi terkait penggunaan teknologi pertanian, diberikan teknologi pertanian, dan memberikan subsidi pupuk. “Seperti di Jepang dan Australia yang mana melakukan pertanian hanya membutuhkan 1 orang saja dengan menggunakan berbagai alat canggih pertanian. Dan hal tersebut lebih efisien,” pungkasnya.

(pkip/mar/bti)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular