Tuesday, February 27, 2024
HomeGagasanCatatan Serial: Tata Nilai Rabbaniyah (2)

Catatan Serial: Tata Nilai Rabbaniyah (2)

 

tata nilai rabbaniyah

Allah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (allamal insana malam ya’lam) sebagai konsekuensi atas keputusan-Nya untuk menjadikan manusia sebagai khalifah. Tiap-tiap manusia memiliki potensi dan berpeluang menjadi khalifah. Namun tidak semuanya berhasil memanfaatkan potensi sehingga gagal dalam mencapai fungsi-fungsi kekhalifaan. Disamping beriman, seorang khalifah juga harus berilmu. Hal ini ditegaskan dalam al-Qur, an yarfai llahu lladzina amanu, waalladzina utul ilma darajaat. Peningkatan harkat dan martabat kemanusiaan itu mesti didukung oleh iman dan ilmu pengetahuan.

Demikianlah Allah mengajarkan kepada Adam seluruh nama-nama ciptaan-Nya. Yang berarti pula bahwa Adam adalah prototype dari suatu generasi yang memiliki tingkat intelegensia yang tinggi.

Kendati demikian, Adam tetap tidak kuasa melawan tipu muslihat iblis yang menggodanya. Disebabkan karena imannya goyah, Adam terbujuk rayu iblis dan menyebabkan jatuhnya harkat dan martabat kemanusiaannya. Suatu epos yang dikisahkan dalam banyak versi itu, simpulannya mengharuskan adanya keseimbangan antara ilmu dengan iman untuk menjaga harkat dan martabat kemanusiaan.

Suatu peradaban akan maju jika ditopang oleh kepercayaan yang kuat kepada Allah, serta memiliki kemampuan penguasaan sains dan teknologi yang terdepan. Sebaliknya, suatu peradaban akan runtuh jika taghut atau kemusyrikan melanda suatu kaum. Sekalipun kaum itu secara teknologi berkemajuan. Tauhid, itulah pondasi utama dari suatu peradaban dalam tata nilai rabbaniyah.

Syirik adalah problem utama yang menghambat kemajuan suatu Bangsa. Bahkan dapat menghacurkan bangsa itu. Syirik atau mempersekutukan Tuhan prilaku yang tidak saja bertentangan dengan fitrah manusia yang hanief, tapi juga bertentangan dengan alam semesta yang senantiasa memuji dan bersyukur kepada Allah. Sabbaha lillahi maafi assamawati waama fil al ardh. Alam akan menolak mereka yang berlaku syirik. Karena itu prilaku syirik akan membelenggu manusia, sebaliknya dengan bertauhid, manusia akan terbebas dari segala belenggu dunia. Tauhid yang benar menghasilkan kemerdekaan yang abadi.

Seluruh Nabi dan Rasul Allah mengajarkan tentang pentingnya Tauhid. Karena itulah tauhid ini merupakan titik persamaan dari seluruh ajaran para Nabi dan Rasul. Atau dikenal dengan kalimatun sawa. Suatu platform bersama dari orang-orang yang percaya kepada Allah.

Setiap suatu Bangsa, bisa besar jika memiliki platform bersama, dan akan kuat jika Bangsa itu, berjalan sesuai platform bersamanya itu.

Allah menyampaikan prinsip-prinsip utama dari tata nilai rabbaniyah kepada para Nabi dan Rasul-Nya secara bertahap, sejak Adam as hingga disempurnakannya pada fase ke-Nabian Muhammad SAW, tata nilai itu kemudian disebut sebagai Islam, sebagaimana ditegaskan dalam Qur’an, Surah al-Maidah ayat 3.

Zuhuf, Taurat, Zabur, dan Injil, yang disebutkan dalam Al-Qur, an merupakan rangkaian dari pentahapan-pentahapan diturunkannya ajaran Islam tersebut. Itulah sebabnya kita tidak menemukan seorang Nabi menyebut ajaran Nabi yang lain sebagai ajaran yang sesat.

Al-Qur, an yang diturunkan pada fase ke-Nabian Muhammad SAW sesungguhnya merupakan kompilasi atas substansi-substansi ajaran Islam yang telah Allah turunkan kepada para Nabi terdahulu. Karena itu dengan membaca Al-qur’an kita akan mengetahui intisari dari taurat, zabur maupun injil. Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah Bin Abbas, sebagimana termuat dalam Kitab Ibnu Katsir menyebutkan bahwa hanya surah al-fatihah dan beberapa ayat terakhir dari surah al-Baqaroh yang benar benar diturunkan hanya kepada Muhammad SAW. Hadits itu selengkapnya berbunyi:

“Ketika Kami bersama Rasulullah Muhammad SAW, yang saat itu sedang bersama Malaikat Jibril, tiba-tiba Rasulullah mendengar suara gemuruh diatasnya. Jibril lalu mengangkat pandangannya ke langit dan berkata, “ini adalah pertanda bahwa pintu langit di buka yang sebelumnya belum pernah di buka sama sekali. Lalu turunlah malaikat berkata kepada Rasulullah SAW, bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu. Tiada seorangpun Nabi sebelum kamu yang pernah diberi keduanya, yaitu Fatihatul kitab dan ayat terakhir dari surah al-baqaroh. Tidak sekali-kali kamu membaca satu huruf darinya, melainkan kamu pasti diberi pahala dengan pembacaan tersebut.

Hadits tersebut dengan kata lain memberitahu kita bahwa ayat-ayat lain, selain yg disebutkan dalam hadits diatas telah pernah disampaikan kepada Nabi-Nabi sebelumnya. Itulah sebabnya seringkali kita temukan kalimat “sebagaimana telah disampaikan, atau diwajibkan kepada umat sebelum kamu”.

Dengan demikian pula, Al-qur’an merupakan kumpulan dari sistem tata nilai rabbaniyah, diturunkan bukan hanya kepada pengikut Muhammad SAW, tapi juga kepada pengikut Nabi-Nabi sebelumnya. Bahkan diturunkan bagi seluruh umat manusia. Tentu saja, hanya mereka yang beriman kepada Allah, kepada Rasul-Nya dan kepada Kitab-kitab Allah yang akan menerima kenyataan historis tersebut. Disebabkan karena ketidaktahuanlah manusia pada umumnya enggan menerima suatu kebenaran.

Bangsa-bangsa besar dalam rentetan sejarah peradaban manusia, mencapai puncak kejayaannya dengan konsisten berpegang teguh pada platform bersama yang mereka sepakati. Ada kesamaan visi, serta misi yang konsisten diperjuangkan secara bersama.

Para founding fathers Indonesia, terdiri ada individu-individu yang terbaik di eranya. Integritas nasionalisme, komitmen kebangsaan mereka tidak diragukan. Bukan hanya itu, mereka juga umumnya Muslim yang taat, dengan pandangan dan wawasan Ke-Islaman yang terbuka, inklusif. Lebih lengkapnya silahkan pelajari satu persatu dari biografi para founding fathers Bangsa.

Individu-individu yang merdeka, dengan integritas yang tidak diragukan itu, berhasil merumuskan suatu Tata Nilai bagi kehidupan kebangsaan Indonesia. Tata Nilai yang diberi nama Pancasila itu oleh Cak Nur disebut sebagai kalimatun sawa (titik temu/kesepakatan) Bangsa Indonesia. Suatu platform yang dihasilkan melalui proses perdebatan yang maraton dalam semangat musyawarah untuk mufakat.

Ketuhanan Yang Maha Esa, menurut Wahid Hasyim (NU) salah seorang anggota perumus menyebutnya sebagai Tauhid, pendapat yang sama dikemukakan Ki Bagus Hadikusumo (Muhammadiyah).

Tauhid, seperti yang telah kita bahas pada bagian sebelumnya, merupakan titik temu atau kalimatun sawa dari seluruh ajaran para Nabi dan Rasul. Karena itu semangat semangat Tauhid yang terbuka (inklusif) memberi ruang toleransi yang luas terhadap perbedaan, perbedaan disatu sisi, namun disisi lain menegaskan tidak adanya kompromi terhadap paham yang mencoba mensyarikatkan Allah. Kenapa tidak boleh berkompromi dengan paham yang mensyarikatkan Allah? Karena paham yang mensyarikatkan Allah, yang menempatkan tandingan tandingan kepada jenis Jin atau Manusia, atau makluk yang lain, dapat mengancam harkat dan martabat kemanusiaan.

Dengan demikian paham-paham yang mensyarikatkan Allah tegas harus ditolak karena bertentangan dengan Ketuhanan Yang Maha Esa, juga bertentangan dengan Kemanusiaan yang adil dan beradab. Paham-paham yang mensyarikatkan Allah karena itu pula dapat mengganggu persatuan dan kesatuan Bangsa.

Tauhid yang inklusif atau Ketuhanan Yang Maha Esa adalah doktrin teologis yang memberi kelonggaran yang sangat luas bagi tumbuh kembangnya kemajemukan. Perbedaan perbedaan yang muncul dalam masyarakat dipahami sebagai kehendak Allah, suatu keniscayaan dan merupakan kebutuhan bagi manusia. Emansipasi dengan demikian amat perlu ditumbuhkembangkan, selama emansipasi yang dimaksud tidak bertentangan dengan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa. Ketuhanan Yang Maha Esa sesuatu yang taken for granted, final.

Emansipasi atau belakangan disebut toleransi, (emansipasi sebenarnya lebih tepat) baik antara satu suku bangsa, antar agama, antar ras, antar golongan harus dan wajib dikembangkan sebagai suatu potensi yang sangat dibutuhkan bagi kemajuan Bangsa.

Seperti halnya telah dikemukakan pada bagian terdahulu, bahwa Allah menjalankan tata nilai rabbaniyah secara tahap demi tahap. Tentu kita pun mesti mencotohnya dalam merealisasikan tata nilai berdasarkan Pancasila. Harus ada pentahapan-pentahapan. Karena bentuk-bentuk ketidaksempurnaan dalam pelaksanaan tentu ada disana-sini. Dusinilah pentignya hikmah kebijaksanaan itu. Hikmah kebijaksanaan, tentu saja bertentangan dengan pemaksaan kehendak. Hikmah kebijaksanaan menghendaki adanya dialog. Karena itu ruang-ruang diskursus dalam masyarakat harus diperbanyak, dan jangan menutup atau membredel ruang-ruang publik yang telah ada.

Pentahapan-pentahapan dalam proses pencapaian tujuan bersama itulah yang mengharuskan adanya Garis-Garis Besar Haluan negara (GBHN), yang sayangnya dihapus. Langkah yang bijaksana jika GBHN itu kembali di fungsikan dalam tata nilai Pancasila.

(bersambung).

HASANUDDIN

Pemikir dan Penulis, Korps Alumni HMI (KAHMI)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular