Sunday, April 21, 2024
HomeSains TeknologiBisakah Artificial Intelligence Gantikan Kecerdasan Manusia?

Bisakah Artificial Intelligence Gantikan Kecerdasan Manusia?

ilustrasi. (foto: id.beincrypto.com)

Surabaya, – Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan telah membawa perubahan yang mendalam dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Karena itulah, World Economic Forum (WEF) memprediksi robot, otomatisasi, dan AI bisa menggantikan pekerjaan manusia. Tak main-main, menurut WEF, jumlah pekerjaan manusia yang dapat digantikan oleh AI mencapai 85 juta pekerjaan pada 2025 mendatang.

Menurut Pakar Teknologi, Dr. Aziz Fajar, meskipun AI dapat menggantikan peran manusia dalam berbagai bidang, kecerdasannya tetap terbatas. AI hanya mampu menggunakan sumber daya yang telah ada. Sehingga tidak dapat menciptakan sesuatu yang benar-benar baru. Meskipun demikian, AI masih memiliki keunggulan dalam memberikan manfaat praktis dan dapat diakses kapan pun.

“AI itu hanya sepintar orang yang membuatnya atau membantu membuatnya. Apabila diperhatikan, AI hanya menggunakan resource yang sebenarnya sudah ada. Sehingga, AI tidak dapat membuat sesuatu yang benar-benar baru, setidaknya untuk saat ini,” ujarnya dalam keterangannya, Senin (25/3/2024).

Meskipun demikian, lanjut Aziz, kecepatan AI dalam memproses informasi dan menghasilkan output telah mengesankan banyak pihak. Ia mencontohkan misalnya teknologi chatGPT yang merupakan bagian dari generative AI.

“Meskipun informasi yang diberikan oleh chatGPT dapat ditemukan di internet, AI ini memberikan manfaat praktis karena dapat diakses dan ditanyakan kapan saja,” imbuhnya.

Regulasi yang tepat, lanjut Aziz, sangat diperlukan untuk mengendalikan perkembangan AI dan memastikan penggunaannya sesuai dengan prinsip-prinsip etika yang berlaku. Meskipun etika dalam pembuatan AI biasanya diajarkan dalam pendidikan formal, tidak semua individu akan mematuhi aturan tersebut. Oleh karena itu, perlu ada regulasi yang ketat untuk memastikan penggunaan AI yang bertanggung jawab.

“Orang yang menyalahgunakan AI, misalnya untuk membuat hoax atau membuat gambar yang tidak pantas, bisa di penjara. Sedangkan untuk pembuat AI tentu sulit untuk dihukum karena bisa saja ketika membuat AI-nya tidak dimaksudkan untuk hal-hal tersebut, tapi ternyata disalahgunakan,” paparnya.

Walau  terdapat risiko dan keterbatasan, Aziz mengatakan bahwa banyak sektor yang telah memanfaatkan kemampuan AI untuk mempermudah pekerjaan mereka. Dalam hal itu, peran manusia tetap sangat penting dalam mengarahkan dan mengontrol penggunaan AI.

“AI bukanlah musuh, melainkan alat bantu yang dapat memudahkan proses kerja manusia. Seperti halnya telepon dan kalkulator, AI menjadi alat yang memperluas kemampuan manusia dalam berkomunikasi dan melakukan perhitungan,” pungkas pria yang merupakan Dosen Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin Universitas Airlangga itu.

(pkip/mar/bti)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular