
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Dai nasional Ustadz Das’ad Latif punya kesan khusus setelah untuk pertama kalinya menunaikan Salat Jumat di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS), Jumat (26/9/2026). Bukan sekadar memuji kemegahan bangunan, ia justru terkesan dengan suasana masjid, teknologi pendukung ibadah, hingga keteraturan jamaah.
“Alhamdulillah, saya sudah sering ke Surabaya, tapi saya baru pertama kali ini sholat di sini. Kesan pertama, masjid ini menggoda. Masjid ini Masya-Allah,” ujar Das’ad Latif seusai menunaikan Salat Jumat di MAS.
Menurutnya, kesan tersebut muncul dari sejumlah hal yang ia temui selama berada di lingkungan masjid. Suasana yang sejuk dengan angin sepoi-sepoi, dukungan teknologi berupa LCD yang menampilkan khutbah, kualitas khatib dan imam, serta ketertiban jamaah menjadi bagian yang membuatnya terkesan.
Bagi Das’ad, MAS tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah. Kehadiran lembaga pendidikan hingga universitas serta kajian keagamaan rutin setiap Magrib membuat masjid tersebut memiliki fungsi yang lebih luas di tengah masyarakat.
“Inilah masjid yang menjadi harapan masyarakat, apalagi juga ada lembaga pendidikan, ada universitasnya. Ada juga kajian setiap Maghrib, Masya-Allah,” katanya.
Ia berharap keberadaan MAS dapat menjadi inspirasi bagi masjid-masjid lain di Indonesia. Namun, menurutnya, pengelolaan masjid dengan fasilitas yang besar juga membutuhkan dukungan pembiayaan yang memadai dari umat.
“Jangan ngasih sumbangan seribu untuk masuk surga,” katanya sambil tersenyum.
Kesan positif terhadap MAS ternyata tidak hanya datang dari tokoh agama dan masyarakat Indonesia. Kepala Urusan Wisata Religi MAS, Anas Choiri, mengatakan apresiasi serupa juga kerap disampaikan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke masjid tersebut.
Menurut Anas, wisatawan asing biasanya diajak melihat ruang utama MAS hingga Menara 99 Meter. Dalam sebulan, jumlah wisatawan asing yang berkunjung dapat mencapai ratusan orang dan meningkat ketika memasuki musim liburan di sejumlah negara.
“Masjid nasional nomor dua setelah Masjid Istiqlal di Jakarta ini sering dikunjungi ratusan wisatawan asing setiap bulan, bahkan kalau pas musim liburan di luar negeri bisa di atas 500 wisatawan ke sini,” kata Anas.
Menurutnya, ketertarikan wisatawan mancanegara tidak hanya sebatas pada arsitektur dan kemegahan MAS. Sebagian wisatawan juga menunjukkan rasa ingin tahu terhadap sejarah masjid dan Islam di Indonesia.
“Ia menambahkan apresiasi yang membanggakan dari masyarakat mancanegara itu dapat menguatkan kesan Islam Indonesia yang toleran. Ada wisman yang tanya sejarah masjid ini, tapi ada juga yang tanya ajaran Islam sesuai logika asing juga serba rasio itu,” katanya.
Bagi pengelola MAS, ketertarikan wisatawan asing tersebut menjadi bagian dari pengalaman wisata religi yang mempertemukan kemegahan masjid dengan kehidupan keislaman masyarakat Indonesia.
Sementara bagi Ustadz Das’ad Latif, pengalaman pertamanya menunaikan Salat Jumat di MAS meninggalkan kesan tersendiri. Masjid yang menjadi salah satu ikon Surabaya itu tidak hanya menawarkan ruang ibadah, tetapi juga menghadirkan pendidikan, kajian keagamaan, teknologi, serta aktivitas sosial yang menyatu dengan kehidupan masyarakat.(*)
Kontributor: Cak Edy
Editor: Abdel Rafi








