
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS) tidak ingin berhenti sebagai tempat ibadah. Masjid terbesar di Jawa Timur itu terus mengembangkan berbagai inovasi agar menjadi ruang keagamaan, pendidikan, sosial, budaya, hingga aktivitas anak muda, khususnya Generasi Z Islami (Gen-ZI).
Orientasi tersebut mendapat apresiasi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Dalam kunjungannya ke Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Kamis (17/9/2026), Ketua MUI Pusat Bidang Infokom Dr KH Masduqi Biadlowi menilai pengelolaan MAS telah menunjukkan pendekatan kreatif dengan perhatian kuat terhadap generasi muda.
“Saya senang masjid ini (MAS) dikelola dengan manajemen yang kreatif dan orientasi pada anak muda,” kata Masduqi.
Saat menerima kunjungan tersebut, Ketua Badan Pelaksana Pengelola (BPP) MAS DR KHM Sudjak MAg menjelaskan bahwa sejak awal MAS memang dirancang memiliki peran multidimensi dengan semangat rahmatan lil alamin.
Peran tersebut mencakup fungsi religius, edukasi, lingkungan atau green mosque, wisata, hingga kultural. Dalam perkembangannya, MAS juga berupaya menjadi ruang yang ramah bagi Gen-ZI maupun generasi yang lebih dahulu tumbuh bersama masjid tersebut.
“Hal itu sejalan dengan peran masjid pada zaman Rasulullah, yang memosisikan masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga pusat kegiatan sosial-kemasyarakatan yang multidimensi untuk meningkatkan kualitas lahir dan batin. Itulah peran rahmatan lil alamin,” ujar Sudjak.
Konsep tersebut kemudian diterjemahkan MAS melalui perpaduan keyakinan atau religi, pengetahuan dan edukasi, serta budaya, kultural, dan lingkungan. Konsep itu dirangkum dalam semangat “Where Faith, Knowledge, and Culture Meet”.
Menurut Sudjak, pendekatan tersebut sekaligus menjadi upaya melanjutkan berbagai ikhtiar yang sebelumnya telah dirintis oleh “generasi pertama” jamaah MAS. Di antaranya komunitas Jamaah Tartil Bakda Subuh (JTBS) yang terbentuk pada 1999 dan komunitas Pengamal atau Pengajian Muslimah Al-Akbar yang mulai berkembang pada 2001.
Memasuki 2010, BPP MAS mulai mengembangkan apa yang disebut sebagai “pohon inovasi”.
Sekretaris BPP MAS H Helmy M Noor menjelaskan, pengembangan tersebut antara lain dilakukan melalui Studio Dakwah Digital, Interior Tour yang mengangkat ukiran, kaligrafi dan tata lampu masjid, perpustakaan, serta Pojok Baca Digital (POCADI).
MAS juga mulai mengembangkan virtual tour atau wisata masjid secara digital, sebelum kemudian memperluas perannya melalui berbagai lembaga pendidikan.
Inovasi itu terus berkembang. Mulai 2019, MAS memperkenalkan sejumlah fasilitas dan program baru, antara lain Taman Edupark pada 2019, taman urban farming pada 2020, Taman Asmaul Husna pada 2020, serta Menara 99 meter yang juga dikembangkan pada 2020.
“Taman Asmaul Husna dan Menara 99 meter itu menggambarkan 99 nama Allah,” kata Helmy.
Transformasi MAS kemudian bergerak ke berbagai bidang yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Pada 2021, misalnya, dikembangkan Green Toilet dengan 539 kran wudu yang dirancang dengan pendekatan ramah lingkungan. Air bekas wudu ditampung dan dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman di sejumlah taman di kawasan MAS.
Setahun berikutnya, MAS menghadirkan air mancur di pintu sisi timur yang juga menjadi salah satu titik foto bagi pengunjung, Green House atau Taman Melon, serta Ballroom untuk berbagai kegiatan publik dan eksternal.
Pada 2023, inovasi berlanjut melalui Taman Peradaban yang menghadirkan ikon-ikon provinsi serta Badan Usaha Milik Masjid (BUMM) yang mengelola Kampung UMKM Halal.
Rangkaian inovasi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan MAS tidak hanya berorientasi pada kegiatan keagamaan dalam pengertian konvensional, tetapi juga mencoba mempertemukan fungsi masjid dengan kebutuhan sosial, pendidikan, ekonomi, lingkungan, dan rekreasi masyarakat.
Ketika Masjid Mulai Membidik Gen-ZI
Fokus terhadap generasi muda kemudian semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir. BPP MAS mulai mengembangkan sejumlah program yang secara khusus menyasar Generasi Z Islami atau Gen-ZI. Di antaranya Majelis Subuh GenZi (MSG) pada 2023, Taman GenZI pada 2023, serta program Remas & GenZi yang diluncurkan pada 18 Mei 2024.
MAS juga membuka Al-Akbar Muallaf Center pada 2024, yang antara lain diawali dengan prosesi ikrar seorang mualaf asal Korea Selatan.
Pengembangan berikutnya mencakup Al-Akbar Tourism Center (ATC) pada 30 April 2025 dan Al-Akbar Sport Center (ASC) pada 28 Juni 2025.
“Ini merupakan bagian dari inovasi yang kami kembangkan agar masjid semakin dekat dengan berbagai kelompok masyarakat, termasuk GenZI,” ujar Helmy.
Pendekatan tersebut bahkan membawa aktivitas olahraga masuk ke dalam ekosistem kegiatan masjid.
Peluncuran Al-Akbar Mini Soccer di ASC dilakukan oleh Gubernur Jawa Timur Hj Khofifah Indar Parawansa. Program tersebut kemudian mendapat pengembangan dalam bentuk “Al-Akbar Ngaji Soccer”, yang diluncurkan pendakwah muda Habib Husein bin Ja’far Al-Hadar di ASC pada 20 Juli 2025.
Perpaduan olahraga dan dakwah tersebut menjadi salah satu cara MAS menghadirkan aktivitas keagamaan dalam format yang lebih dekat dengan keseharian anak muda.
Memasuki 2026, inovasi yang menyasar Gen-ZI terus bertambah.
Pengurus Remas dan GenZI MAS mengembangkan Majelis Sholawat Al-Akbar, yang digelar setiap Kamis selepas Salat Maghrib.
Program tersebut menjadi bagian dari rangkaian panjang transformasi MAS dalam membangun ekosistem masjid yang tidak hanya berpusat pada ritual ibadah, tetapi juga membuka ruang bagi pembelajaran, komunitas, olahraga, kreativitas, wisata, lingkungan, dan interaksi sosial.
Dengan rangkaian program tersebut, Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya tengah membangun wajah masjid yang lebih luas: tetap berakar pada fungsi keagamaan, tetapi terbuka terhadap perubahan zaman dan kebutuhan generasi baru.
Apresiasi MUI Pusat terhadap manajemen dan orientasi MAS pada Gen-ZI menjadi penanda bahwa transformasi tersebut mulai mendapat perhatian di tingkat nasional.
Bagi MAS, tantangannya bukan sekadar membuat anak muda datang ke masjid. Lebih jauh, bagaimana masjid dapat menjadi ruang yang membuat generasi muda merasa memiliki, bertumbuh, belajar, berkarya, sekaligus tetap dekat dengan nilai-nilai keislaman.(*)
Kontributor: Cak Edy
Editor: Abdel Rafi








