Cuma Rp15 Ribu, Sate Karak di Gang Nyamplungan Ini Bikin Pelanggan Rela Datang Pagi-Pagi

Uncategorized
Kuliner khas Surabaya Utara di kawasan Ampel, Sate Karak. (foto: Cakrwarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Minggu (6/9/2026) pagi baru saja beranjak ketika aktivitas di kawasan Nyamplungan, Surabaya, mulai menggeliat. Di salah satu sudut Jalan Nyamplungan Gang 4, tepat di mulut gang, sejumlah orang telah menunggu.

Mereka bukan sedang mengantre makanan di restoran terkenal. Mereka menunggu seporsi kuliner tradisional yang hanya dijajakan sekali dalam sepekan yakni sate karak.

Harganya sederhana, Rp15.000 seporsi.

Namun, harga murah bukan satu-satunya alasan pelanggan rela datang pagi-pagi. Ada rasa yang telah melekat dalam ingatan, ada tradisi yang terus dipertahankan, dan ada kisah panjang seorang ibu yang telah berjualan sejak sekitar 1980-an.

Lapak itu buka setiap Minggu mulai sekitar pukul 06.00. Pada hari-hari besar keagamaan tertentu, seperti Idul Adha dan hari kedua Idul Fitri, sate karak juga kembali hadir.

Bagi pelanggan setianya, menunggu sebelum lapak buka seolah sudah menjadi bagian dari pengalaman menikmati sate karak.

Sate karak merupakan salah satu kuliner tradisional yang dikenal dari kawasan Sunan Ampel di bagian utara Kota Surabaya.

Di kawasan yang selama puluhan tahun menjadi tujuan peziarah itu, kuliner tumbuh berdampingan dengan aktivitas keagamaan dan kehidupan masyarakat kampung.

Salah satunya sate karak.

Sejumlah pelanggan bahkan telah datang sebelum pukul 06.00. Mereka didominasi generasi tua yang telah mengenal sate karak sejak lama.

Sebagian lainnya merupakan wisatawan dari luar kota yang datang ke kawasan Ampel untuk berziarah.

Usai berziarah, sarapan menjadi bagian dari perjalanan mereka. Sate karak menjadi salah satu pilihan yang dicari.

Di sekitar lokasi sebenarnya terdapat beberapa penjual sate karak. Namun, pelanggan di lapak Gang 4 Nyamplungan ini disebut lebih banyak.

Alasannya sederhana, bahwa rasa yang dianggap lebih enak dan suasana yang dirasakan lebih nyaman.

Dalam kuliner tradisional, alasan semacam itu kerap menjadi modal paling kuat. Pelanggan datang bukan karena papan reklame besar atau promosi yang berlebihan, melainkan karena pengalaman makan yang membuat mereka ingin kembali.

Sate Karak tengah dibakar. Aromanya khas. (foto: Cakrawarta)

Sate karak memiliki karakter yang berbeda dari sate pada umumnya.

Bahan utamanya adalah jeroan sapi, terutama usus. Jeroan tersebut diolah dengan bumbu rempah hingga menghasilkan rasa gurih dan khas.

Namun, keunikan sate karak tidak berhenti pada satenya.

Ia disantap bersama ketan. Di lapak Nyamplungan tersebut, satu porsi terdiri atas ketan merah, empat tusuk sate karak, kelapa parut, dan bubuk kedelai.

Semuanya dibanderol Rp15.000.

Bubuk kedelai dan parutan kelapa menjadi bagian penting yang memperkuat karakter rasa. Perpaduan bumbu, jeroan sapi, ketan, dan kelapa menghasilkan sensasi gurih dengan karakter bumbu yang berbeda dari sate pada umumnya.

Bagi pembeli yang lebih menyukai satenya saja, tersedia pilihan tanpa ketan. Dengan harga Rp15.000, pembeli mendapatkan lima tusuk sate karak.

Porsinya sederhana, tetapi cukup untuk menjadi sarapan.

Dan bagi mereka yang sudah mengenal rasanya, kesederhanaan itu justru menjadi daya tarik.

Bertahan Sejak 1980-an

Di balik seporsi sate karak tersebut terdapat cerita tentang ketekunan.

Sang ibu telah berjualan sejak anaknya masih kecil, sekitar dekade 1980-an. Waktu berlalu puluhan tahun, tetapi aktivitas berjualan itu tetap dijalankan.

Penjual Sate Karak tengah mengipasi satenya saat dibakar sehingga aroma bumbu khasnya tercium pelanggan yang tengah antri. (foto: Cakrwarta)

Kini, sang anak justru menemani ibunya berjualan.

Di samping lapak sate karak, sang anak juga menjual kue lumpur.

Pemandangan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah usaha kuliner sederhana dapat menjadi bagian dari perjalanan sebuah keluarga.

Dari seorang ibu kepada anaknya, bukan hanya aktivitas berdagang yang diteruskan, tetapi juga pengetahuan mengenai rasa, pelanggan, waktu berjualan, dan cara mempertahankan kepercayaan pembeli. Sudah siap ke kawasan Ampel dan pada Minggu pagi beli Sate Karak? Gas saja, guys. (*)

Kontributor: Tommy

Editor: Abdel Rafi