Api yang Mahal

Api melahap hamparan lahan gambut di kanan-kiri jalan tol. Itulah yang saya lihat akhir pekan lalu, saat melintasi jalan tol Palembang-Indaralaya, Sumatera Selatan. Sejak turun pesawat di bandara Sultan Badaruddin II, hidung sudah terasa sesak oleh asap kebakaran. Begitu menyengat, serasa bau sampah udara Bantargebang Bekasi.

Tanah kita terbakar berbulan-bulan. Hutan pun begitu. Asap menebal di udara, sementara warga bahkan di negeri tetangga mulai merasakan dampak batuk-batuknya. Dari Jakarta, kabar yang datang justru tentang teknologi yang baru “disiapkan” dan “ditawarkan” untuk memadamkan api yang membakar hutan dan lahan.

Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, Manggala Agni, dan aparat desa sudah coba berusaha. Presiden Prabowo Subianto menggagas smoke jumper. Lalu Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, tampil memperkenalkan teknologi berbasis AI, modifikasi cuaca, hingga bahan semai garam berukuran mikro.

Pertanyaannya yang agak mengganggu: ketika api sudah menyala, mengapa teknologinya masih baru ditawarkan? Belum dipakai? Pertanyaan ini tentu tak adil jika diarahkan semata-mata kepada BRIN. Lembaga riset bukan pemadam kebakaran, dan tidak semua teknologi yang ditemukan peneliti bisa seketika menjadi alat operasi.

Namun justru di situlah persoalannya menjadi menarik. Jika teknologi rekayasan BRIN sudah cukup matang untuk ditawarkan kepada lembaga yang berwenang, mengapa negara belum mempunyai mekanisme yang membuatnya siap dipakai ketika kebakaran sudah berhari-hari tak teratasi?

Apalagi teknologi yang ditawarkan kali ini bukan sekadar nama baru untuk pekerjaan lama. BRIN mengaku sudah lama mengembangkan Dumakron, bahan semai berupa natrium klorida (NaCl) dalam bentuk partikel sangat halus. Ukuran garamnya sekitar 2–5 mikrometer, dan penyebarannya dapat dilakukan menggunakan drone.

Gagasan ini menarik karena menyentuh persoalan yang selama ini jarang dibicarakan dalam berita tentang hujan buatan: biayanya tak murah. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) membutuhkan pesawat, pilot, bahan semai, logistik, perawatan, koordinasi penerbangan, dan berbagai kebutuhan operasi udara lainnya.

Kepala BNPB Suharyanto pada Maret 2025 pernah menyebut biaya satu kali sortie penerbangan OMC sekitar Rp200 juta. Kepala BMKG juga pernah memperkirakan biayanya dapat mencapai Rp300 juta atau lebih, bergantung pada jenis pesawat yang digunakan.

Gambaran biayanya bisa kita lihat dari operasi di Kalimantan. Di Kalimantan Barat, OMC pada 13-17 Agustus 2026 membutuhkan sembilan sortie penerbangan. Di Kalimantan Tengah, OMC dilakukan dalam dua periode, 27 Juli-4 Agustus dan 11-15 Agustus, dengan 13 sortie. Jadi, dari dua provinsi itu saja sudah dilakukan 22 sortie.

Jika satu sortie dihitung Rp200 juta, biaya indikatifnya mencapai Rp4,4 miliar. Jika menggunakan patokan Rp300 juta, menjadi Rp6,6 miliar. Ini bukan angka realisasi anggaran, melainkan hitungan kasar berdasarkan kisaran biaya penerbangan yang pernah disampaikan pemerintah.

Dari 22 sortie tersebut, pemerintah memperkirakan curah hujan yang dihasilkan mencapai 15,72 juta meter kubik. Kalau biaya operasi tadi dibandingkan dengan volume itu, secara matematis diperoleh rasio sekitar Rp280-Rp420 per meter kubik air hujan.

Tentu saja kita tidak sedang mencari-cari harga air hujan. Hujan bukan komoditas yang keluar dari pabrik OMC. Ia adalah rahmat pemberian dari Allah Swt. Lagi pula, hujan yang turun tidak seluruhnya dapat diklaim sebagai hasil penyemaian, karena pembentukan awan dan hujan dipengaruhi banyak faktor atmosfer.

Hitungan tadi hanya membantu kita melihat satu hal: mendatangkan hujan melalui intervensi teknologi mempunyai biaya, dan biaya itu perlu dibandingkan dengan hasilnya. Masyarakat layak tahu, apa setelah operasi itu titik panas berkurang, lahan gambut jadi lebih basah, serta kebakaran dapat dicegah atau diperlambat.

Di Kalimantan Selatan, misalnya, laporan OMC menggunakan pesawat Cessna Caravan menyebut penyemaian membutuhkan sekitar 10 ton garam NaCl dalam 10 *sortie*, atau rata-rata satu ton setiap penerbangan. Angka tersebut memberi gambaran bahwa selain biaya pesawat, OMC juga membutuhkan logistik bahan semai dalam jumlah besar.

Maka inovasi Dumakron patut dilihat dari sudut yang lebih sederhana. Kalau bahan semainya garam, mengapa garam itu harus dibawa ke langit dengan pesawat yang berbiaya besar? Bisakah garamnya disebar menggunakan pesawat nirawak seperti drone? Itulah salah satu pertanyaan yang coba dijawab para peneliti BRIN.

Dumakron bukan jenis garam baru. Secara kimia, ia tetap NaCl. Yang diubah hanya ukuran partikelnya. Garam yang biasa digunakan sebagai bahan semai dibuat menjadi bubuk higroskopis berukuran 2–5 mikrometer. Ukuran nano itu bertujuan meningkatkan efisiensi penyemaian sehingga bahan tersebut dapat disebarkan dengan drone.

Perubahan ukuran itu membawa dampak teknis yang nyata. Sebuah kubus garam yang panjang sisinya satu milimeter, jika dipecah menjadi partikel-partikel berukuran dua mikrometer, jumlahnya akan bertambah secara masif. Untuk massa yang sama, total luas permukaannya melonjak tajam.

Pengecilan ukuran dari satu milimeter menjadi dua mikrometer saja dapat meningkatkan luas permukaan total hingga sekitar 500 kali lipat. Bayangkan, Anda punya satu ton garam dapur biasa. Jika disebar rata, ia memiliki total luas permukaan sekitar 2.700 meter persegi, setara setengah lapangan sepak bola.

Setelah ia diolah menjadi partikel mikro, luas permukaannya secara teoritis dapat mencapai sekitar 1,35 juta meter persegi, atau setara 190 lapangan sepak bola. Karena permukaan garam berfungsi sebagai tempat menangkap uap air di awan, peningkatan luas permukaan itu memperluas area kontak bahan semai dengan atmosfer.

Namun, luas permukaan yang meningkat 500 kali tidak berarti kebutuhan garam otomatis berkurang 500 kali di alam bebas. Efektivitas penyemaian di udara tetap bergantung pada konsentrasi bahan semai, kondisi awan, temperatur, kandungan air, arus udara, dan dinamika mikrofisika awan. Dan itu urusan kehendak Allah.

Tentu kita ingin tahu seberapa besar penghematan dalam operasi nyata. Jika satu ton garam kasar digunakan untuk satu sortie pesawat, berapa kilogram Dumakron yang dibutuhkan untuk menghasilkan efek penyemaian yang setara? Apakah sepersepuluhnya, seperlimanya? Itulah angka yang perlu dibuktikan melalui pengujian lapangan.

Sebab dalam OMC, persoalannya bukan hanya harga garam, tapi ongkos membawa bahan tersebut ke atmosfer: pesawat, bahan bakar, penerbang, perawatan armada, dan banyak lagi. Jika Dumakron memungkinkan bahan semai dibawa dengan drone dalam jumlah yang lebih kecil, maka biaya pengangkutan dan bahan semai berpotensi ikut turun.

Namun potensi itu harus dihitung secara utuh. Drone tetap membutuhkan baterai, operator, sistem navigasi, perawatan, serta memiliki batas kapasitas muatan dan jangkauan terbang. Untuk mencakup wilayah yang sama, berapa drone yang diperlukan? Berapa biaya seluruh armadanya?

Baru setelah dibandingkan dengan biaya pesawat kita dapat mengetahui apakah efisiensinya benar-benar signifikan. Langkah berikutnya sederhana: sajikan data operasi secara terbuka. Dengan begitu, Dumakron tak berhenti sebagai teknologi yang “ditawarkan”, tapi dapat dinilai sebagai solusi operasional dengan angka teruji.

Api bekerja berdasarkan ketersediaan bahan bakar, oksigen, dan udara kering. Penanganannya membutuhkan kecepatan dan kesiapan alat di lapangan. Keselamatan kawasan hutan dan pemukiman warga bergantung pada seberapa cepat dan efisien sistem pencegahan dapat dijalankan sebelum kebakaran meluas.(*)

Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 1 September 2026

AHMADIE THAHA (Cak AT)

Wartawan Senior