
“Ini kayak pernikahan di keraton.” Istri saya berkomentar spontan saat membaca buku susunan panitia pernikahan Qori dan Zizi. Awalnya saya mengira ia berlebihan. Tapi prasangka itu runtuh ketika saya memeriksa lembar demi lembar dokumen dua belas halaman tersebut.
Nama-nama terderet rapi bak silsilah dinasti kecil. Mereka bertitel guru besar, doktor, kiai, pejabat pemerintah, akademisi, pengusaha, aktivis, tokoh masyarakat, hingga jajaran sahabat dekat. Nama saya masuk ke situ dengan polos, tanpa tambahan kata di depan atau di belakang.
Susunan organisasi kepanitiaan menyerupai tata kelola republik mini. Ada pelindung, penanggung jawab, penasihat, pengarah, pelaksana, hingga sekretariat. Daftar itu menghimpun tokoh-tokoh dari Indralaya, Palembang, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Jakarta, hingga berbagai daerah lain.
Sampul buku menampilkan tulisan huruf emas berlatar hitam, “The Wedding of Qori and Zizi”. Masyarakat pesantren di kampung ternyata sudah karib dengan bahasa asing. Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah memang menerapkan bahasa Arab dan Inggris sebagai alat komunikasi harian santri sejak awal 1990-an.
Perhelatan Qori-Zizi berlangsung Sabtu, 29 Agustus 2026, di Aula KH Ahmad Qori Nuri, Kampus D Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah, Tanjung Lubuk, Indralaya Selatan, Ogan Ilir. Seketika aula di kampung ini memancarkan aura keraton karena para tamu membawa bobot cerita, jalinan ikatan, dan sejarah yang panjang.
Masyarakat Palembang merawat tradisi pernikahan yang sarat makna kultural. Adat mengenal tahapan panjang. Dimulai dari madik, menyenggung, berasan, mutuske kato, nganterke belanjo, akad, hingga munggah.
Prosesi munggah menjadi puncak perhelatan, menghadirkan rombongan, hantaran, alunan rebana, tuturan pantun, serta peragaan silat. Munggah berarti naik, seolah mengantar pengantin menuju tingkatan hidup yang baru. Bisa juga naik ke pelaminan.
Tradisi Palembang menghadirkan kilau kain songket, nuansa keemasan, kehangatan sapaan kerabat, dan perjumpaan kawan lama. Para tamu menjadikan pesta perkawinan bukan sekadar tempat makan, melainkan ruang untuk saling bertemu.
Di tengah suasana itu, Qori dan Zizi melangkah penuh senyum. Keduanya melintasi momen krusial untuk meneguhkan akad nikah, menyatukan dua nama dalam satu alur kehidupan.
Pesta walimatul ‘ursy memuat makna pengumuman sosial atas berlangsungnya ikatan suci. Usai pesta berakhir, mereka akan membangun rumah tangga, mengambil keputusan bersama, membagi beban, dan memelihara komitmen tanpa panggung dan tanpa panitia.
Perkawinan memadukan dua manusia sekaligus mempertemukan dua keluarga besar. Dua lingkaran kekerabatan yang semula berjalan sendiri kini saling beririsan. Adat Palembang menekankan nilai timbang rasa alias kemampuan saling mengerti, kapan mesti bersuara dan kapan memilih teduh.
Daya tarik perhelatan ini juga bersumber dari deretan tamu yang hadir. Bus dan kendaraan pribadi berpelat nomor luar daerah, seperti Sumatera Utara dan Jakarta, memadati lokasi. Para tamu rela menempuh perjalanan ratusan kilometer demi menyalami tuan rumah, mendoakan mempelai, dan merawat persahabatan.
Pusat jejaring persahabatan ini bermuara pada sosok Dr. K.H. Mudrik Qori, M.A. Publik mengenalnya sebagai “ulama terbang”, figur yang terus bergerak seperti pesawat atau burung terbang, menautkan silaturahmi, dari pesantren ke pesantren, kampus ke kampus, hingga lintas daerah.
Mudrik Qori merupakan alumni Fakultas Adab, Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (kini UIN Jakarta), lulusan 1991. Ia menerima Ikaluin Award 2022 atas kiprahnya memajukan Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah.
Sewaktu berkuliah di Jakarta, ia aktif dalam dunia gerakan mahasiswa dan tercatat sebagai bagian dari tim perumus AD/ART Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an (Lemka) pada 1985. Ia juga memberi kuliah. Terakhir, ia juga kuliah hingga memperoleh gelar doktor di bidang yang jarang: tilawatil Qur’an.
Pengalaman masa muda itu menjelaskan mengapa daftar tamu pernikahan ini menyerupai himpunan alumni lintas profesi: profesor, kiai, pejabat, birokrat, pendidik, dan tokoh masyarakat. Undangan pernikahan membuka ruang nostalgia, menautkan kembali ingatan masa lalu dengan perjumpaan masa kini.
Jejaring tersebut kemudian bergerak menjadi daya dukung yang nyata. Sekembali ke Indralaya, Mudrik Qori melanjutkan kepemimpinan pesantren warisan ayahnya, K.H. Ahmad Qori Nuri, sejak 1998.
Ia membenahi manajemen, SDM, sarana, dan program pendidikan. Kini, Al-Ittifaqiah menaungi Universitas Al-Qur’an Ittifaqiah (UQI), yang berkembang dari STIQI (2000) menjadi institut (2021), hingga melayani ribuan sivitas akademika dan alumni.
Inilah wujud modal sosial yang berpijak pada rasa percaya. Orang-orang mengalokasikan waktu, tenaga, dan dukungan karena kepercayaan telah terbangun dan terawat selama puluhan tahun.
Maka, susunan panitia yang menyerupai panitia “keraton” ini tidak menghadirkan takhta atau abdi dalem, melainkan menghimpun sahabat perjuangan dan merentangkan wilayah silaturahmi.
Kyai Mudrik membawa pulang pengalaman organisasi, gagasan pendidikan, dan jejaring pertemanan dari Jakarta untuk membangun kampung halaman. Ia memadukan pembaruan tanpa mencabut akar tradisi pesantren.
Hari pernikahan Qori dan Zizi mempertemukan lintasan sejarah pesantren, generasi mahasiswa, aktivisme, dan lembaga pendidikan.
Usai lampu pesta padam, songket terlipat, dan piring-piring bersih, Qori dan Zizi melangkah memasuki kamar berdua saja, sebagai pembuktian akad yang sesungguhnya. Pesta berlangsung sehari, tapi perkawinan merentang sepanjang usia.
Gelar “keraton” pada pernikahan ini tidak berdiri dari tumpukan batu, melainkan dari kokohnya bangunan silaturahmi.(*)
Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 30 Agustus 2026
AHMADIE THAHA (Cak AT)
Wartawan Senior








