Azwar Anas: NU Harus Rebut Ruang Digital untuk Gen Z

Tokoh Nahdlatul Ulama, Abdullah Azwar Anas, saat menjadi pemateri dalam forum “Jagong Muktamar: Menggagas NU Abad Kedua dari Pinggiran di Universitas Islam Ibrahimy, Genteng, Banyuwangi, Selasa (18/8/2026).. (Foto: Ayung)

BANYUWANGI, CAKRAWARTA.com – Nahdlatul Ulama (NU) menghadapi tantangan baru dalam menjaga relevansi dakwah di tengah perubahan cara generasi muda memperoleh pengetahuan, termasuk pengetahuan keagamaan. Generasi Z yang tumbuh bersama internet dan media sosial kini semakin banyak membentuk pandangan melalui algoritma digital, bahkan mulai menjadikan artificial intelligence atau akal imitasi (AI) sebagai salah satu rujukan.

Tokoh Nahdlatul Ulama Abdullah Azwar Anas menilai perubahan tersebut perlu mendapat perhatian serius dalam agenda NU, termasuk dalam pembahasan Muktamar ke-35 NU yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, 27-31 Agustus 2026.

“Dari data yang ada, Gen Z ini hidupnya dibentuk dari ponselnya. Sejak lahir mereka sudah melek internet. Pandangannya ditentukan oleh algoritma, termasuk bagaimana pandangan keagamaannya,” ujar Anas dalam forum “Jagong Muktamar: Menggagas NU Abad Kedua dari Pinggiran yang digelar Presidium Cabang Majelis Alumni IPNU Banyuwangi di Universitas Islam Ibrahimy, Genteng, Selasa (18/8/2026).

Menurut Anas, perubahan tersebut membuat pola dakwah yang selama ini mengandalkan perjumpaan tatap muka tidak lagi cukup. NU perlu hadir di ruang digital tempat generasi muda mencari informasi, berdiskusi, sekaligus membentuk pandangan mengenai agama dan kehidupan sosial.

“Tantangannya tidak sama lagi dengan semasa kita kecil. Sekarang, mereka bertanya tentang keagamaan sudah ke AI, bukan lagi hanya kepada guru ngaji,” kata mantan Ketua Umum PP IPNU tersebut.

Jangan Biarkan Algoritma Menentukan Arah

Anas menilai persoalannya bukan sekadar apakah NU memiliki kanal media sosial atau konten digital. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana NU mampu menghadirkan otoritas keilmuan dan tradisi intelektual pesantren ke dalam ekosistem digital yang dikuasai algoritma.

Jika tidak segera merespons perubahan tersebut, kata dia, ruang pembentukan pengetahuan dan pemahaman keagamaan generasi muda akan semakin banyak diisi oleh pihak lain.

“Pendekatan dakwah kepada Gen Z harus menjadi kesadaran bersama secara struktural di NU. Ini perlu dibahas dalam forum organisasi, termasuk Muktamar. Jika tidak segera diurus, justru akan diurus oleh yang lain. Masa depan NU bisa tertinggal,” ujarnya.

Anas yang pernah menjabat Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) Jawa Timur itu menilai transformasi digital semestinya tidak ditempatkan sebagai pelengkap program organisasi. Menurut dia, perubahan perilaku generasi muda harus menjadi bagian dari strategi jangka panjang NU dalam menyiapkan generasi penerus.

Perhatian terhadap Gen Z juga menjadi semakin penting karena kelompok tersebut akan menjadi bagian besar dari masyarakat produktif dalam beberapa dekade mendatang. Karena itu, keberhasilan NU menjangkau mereka tidak hanya berkaitan dengan efektivitas dakwah, tetapi juga keberlanjutan organisasi dan transmisi tradisi keislaman yang selama ini menjadi ciri khas NU.

Anas menilai NU memiliki modal kuat untuk menjawab tantangan tersebut. Tradisi keilmuan pesantren, jaringan ulama, lembaga pendidikan, serta komunitas anak muda merupakan kekuatan yang dapat diterjemahkan ke dalam format komunikasi digital yang lebih sesuai dengan karakter generasi baru.

Namun, transformasi tersebut membutuhkan perubahan cara pandang. NU, menurut dia, tidak cukup hanya memindahkan ceramah atau materi pengajian ke platform digital. Konten keagamaan harus mampu menjawab persoalan yang benar-benar dihadapi generasi muda sekaligus tetap memiliki pijakan keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Gagasan tersebut mengemuka dalam forum Jagong Muktamar yang mempertemukan sejumlah tokoh NU dengan latar belakang berbeda, mulai dari pengurus struktural dan kultural, ulama, akademisi, aktivis, hingga budayawan.

Ketua Majelis Alumni IPNU Banyuwangi Lukman Hadi Abdillah mengatakan forum tersebut dimaksudkan untuk memperluas ruang diskusi menjelang Muktamar ke-35 NU.

“Ruang dialog ini menjadi salah satu ikhtiar kami untuk memperkaya diskursus Muktamar. Ini menegaskan NU bukan hanya milik elite, tetapi juga hadir dalam kehidupan masyarakat,” ujar Lukman.

Persoalan Gen Z menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian dalam pembahasan masa depan NU. Perubahan sumber pengetahuan, pola komunikasi, dan cara generasi muda membangun identitas membuat organisasi keagamaan seperti NU dituntut tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga menemukan cara baru untuk mentransmisikannya.

Bagi NU, tantangannya bukan sekadar bagaimana membuat generasi muda mengikuti organisasi. Lebih jauh, NU perlu memastikan bahwa ketika Gen Z mencari jawaban atas persoalan agama, sosial, dan kehidupan melalui ruang digital, tradisi keilmuan yang menjadi fondasi organisasi tetap hadir, relevan, dan dapat dipercaya.(*)

Kontributor: Ayung

Editor: Abdel Rafi