Cipayung Plus Jatim-Kalbar Dorong Pemuda Jadi Pelopor Ekonomi

Momen Cangkruan Bareng Cipayung Plus Jatim-Kalbar di Pontianak, Selasa (11/8/2026). (foto: Noble)

PONTIANAK, CAKRAWARTA.com – Aktivis Cipayung Plus Jawa Timur dan Kalimantan Barat mendorong pemuda tidak hanya berperan dalam gerakan sosial dan politik, tetapi juga terlibat dalam penguatan ekonomi dan kewirausahaan. Gagasan itu mengemuka dalam kegiatan Cangkrukan Bareng Cipayung Plus Jatim dan Kalbar di Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (11/8/2026).

Pertemuan yang mengusung tema “Anak Muda Pelopor Ekonomi Bangsa” tersebut menjadi ruang dialog dan silaturahmi antar pemuda lintas daerah. Para peserta membahas peluang kolaborasi, penguatan ekosistem kewirausahaan pemuda, serta tantangan ekonomi di tengah perubahan perekonomian global.

Perwakilan Cipayung Plus Jatim dan Kalbar menilai pemuda memiliki posisi strategis dalam mendorong kemandirian ekonomi. Karena itu, gerakan kepemudaan dinilai perlu memperluas orientasi dari persoalan sosial-politik menuju kegiatan yang juga berdampak langsung terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Perwakilan Cipayung Plus Jatim dan Kalbar, Noble Amrulloh, mengatakan pertemuan tersebut tidak hanya dimaksudkan untuk mempererat hubungan antar kelompok pemuda, tetapi juga menjadi ruang untuk membaca peluang ekonomi yang dapat dikembangkan bersama.

“Agenda ini selain mempererat silaturahmi antara Cipayung Plus Jatim dan Cipayung Plus Kalbar juga mengajak diskusi untuk membaca peluang usaha ke depan. Aktivis juga harus mengambil peran dalam upaya kemandirian ekonomi,” kata Noble dalam keterangannya pada media ini, Rabu (12/8/2026).

Menurut Noble, perubahan situasi ekonomi membutuhkan kemampuan generasi muda untuk beradaptasi dan menciptakan peluang. Aktivis mahasiswa dan pemuda, kata dia, memiliki modal sosial berupa jaringan, kemampuan mengorganisasi, serta pengalaman dalam membaca persoalan masyarakat yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi.

Karena itu, kolaborasi lintas daerah dinilai penting untuk mempertemukan potensi dan pengalaman yang berbeda. Jawa Timur dan Kalimantan Barat, misalnya, memiliki karakteristik serta sumber daya ekonomi yang dapat saling melengkapi apabila dikembangkan melalui jejaring pemuda.

Pertemuan tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun jejaring antar pemuda di luar isu sosial-politik. Tradisi cangkrukan digunakan sebagai ruang dialog yang lebih cair untuk bertukar gagasan mengenai peluang usaha, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan kewirausahaan.

Noble mengatakan pemuda perlu mulai melihat dunia usaha sebagai salah satu ruang pengabdian. Menurut dia, keberpihakan terhadap masyarakat tidak selalu harus diwujudkan melalui gerakan advokasi, tetapi juga dapat dilakukan dengan menciptakan lapangan pekerjaan dan membangun usaha yang memberikan manfaat ekonomi.

“Ke depan, kita ingin aktivis tidak hanya menjadi penggerak dalam isu sosial dan politik, tetapi juga mampu menjadi pelopor ekonomi di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap komunikasi dan kolaborasi antara Cipayung Plus Jatim dan Kalbar dapat berlanjut dalam bentuk kegiatan yang lebih konkret. Kerja sama tersebut diharapkan tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi berkembang menjadi program pemberdayaan, pengembangan usaha, dan kolaborasi ekonomi antar pemuda.

Menurut Noble, penguatan peran ekonomi pemuda merupakan bagian dari upaya mempersiapkan generasi yang mampu menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045.

“Pemuda harus berani membaca perubahan, mengambil peluang, dan membangun kemandirian. Jangan sampai aktivis hanya menjadi penonton dalam perkembangan ekonomi bangsa,” katanya.

Dengan demikian, Cangkrukan Bareng Cipayung Plus Jatim dan Kalbar tidak hanya menjadi forum silaturahmi lintas wilayah, tetapi juga ruang untuk memperluas perspektif gerakan kepemudaan. Dari Pontianak, para aktivis mendorong agar energi gerakan anak muda dapat diterjemahkan menjadi gagasan dan aksi yang memiliki dampak sosial sekaligus ekonomi.(*)

Editor: Abdel Rafi